Seperti buih di lautan. Terkatung-katung terbawa arus. Lalu mampir sejenak di tepian pantai. Untuk selanjutnya menebar, melebur, berpisah dari rombongan. Dan kemudian menemukan jalan hidup sendiri-sendiri. Entah ke mana? Mau mengapa? Tanpa arah dan tujuan. Hampa.

Seumpama riak-riak di lautan. Sesekali bergerombol, banyak sekali. Namun hanya sejenak. Untuk selanjutnya berpecah dan tak berwujud semula. Ah, tiada rupa lagi, bahkan tak berbekas diri. Berai. Berderai.

Bagai dedaunan yang mulai menua. Sebentar-sebentar tertawa riang tertiup angin. Lalu ikut arah tiupan. Sesekali ke utara, barat atau timur. Bahkan ke selatan sesekali juga. Lalu, terdiam sejenak mengenal diri, ketika tiupan mereda. Untuk selanjutnya diri akan terbang turun ke tanah, meluruh dan menempel tanpa tahu di mana? Telapak daunnya menyalami tanah, menempel lepas dan merenggut bunga-bunga rumput. Lama kelamaan, wujudnya pun meringan, lunglai dan lapuk menjadi kompos. Sebelumnya keropos, bolong-bolong, kering, kurus, keriput. Menjadi humus akhirnya. Diri yang malang. Daun-daun berguguran.

Seperti hujan. Terjun bebas dari ketinggian. Sempat menggantung sejenak di lembaran awan. Selanjutnya terombang ambing terbawa angin. Karena ia ringan saat sendirian. Maka, tak berdayalah badan. Sebelum bertemu sekawanan hujan lainnya, nasibnya sama seperti demikian. Sungguh kasihan menjadi hujan. Menyelinap dari celah-celah awan lalu bermuara di lautan, daratan atau puncak-puncak pegunungan. Pernah gamang dan ketakutan. Sering terayun terbuai alam. Supaya bertemu kerendahan, berjumpa persawahan, menyatu dengan aliran sungai kehidupan. Tujuannya hanya satu, menebarkan kesejukkan di sepanjang perjalanan. Berparas rupawan tak berwujud, kecuali sesuai tempatnya. Ah, hujan-hujanan, kedinginan, mendinginkan keadaan. Ia senantiasa demikian.

Seperti mentari senyumi alam, wajahnya tampakkan keceriaan. Walau tanpa pujian apalagi tepukan tangan. Jauh dari keramaian dan sering berdekatan dengan alam. Senyuman yang memancar bebas pada wajahnya yang menawan. Membuat sesiapapun yang memandang, sangat betahan. Seraya tersenyum lagi, ia mengabadikan kehidupan, menyegarkan ingatan, menghidupkan kematian rasa, sampai akhir perjalanan, tekadnya membuncah halaman pernafasan. Berdenyut nadi, berdetak jantung bersamaan, berkedipan bola-bola mata pelan, mengatup dan membuka, untuk menemani senyuman. Hai! Seketika wajah-wajah lainnya pun bersenyuman menghadap langit. Karena senyuman mentari meneladankan demikian. "Tersenyumlah, maka dunia pun tersenyum bersamamu," ia ingat pesan seorang teman.

Seperti langit yang luas membentang, tak bertepi tanpa tiang. Ia meluaskan pandangan lebih jauh lagi, seraya membentangkan tangan kiri dan kanan selebar-lebarnya. Harap memeluk langit tercapai juga. Impian yang menguatkannya lagi saat lelah menguras kekuatan. Seluas langit, ketabahannya membentang. Sebersih langit, hatinya menyapa kehidupan. Selembut warna langit, keadaan pikir yang ia tebarkan. Setinggi langit citanya ia sangkutkan, agak berlebihan kedengaran, bukan? Namun ia yakin mampu menjangkau meski pelan. Selangit tinggi impiannya, seluas hamparan langit harapannya. Itulah medan yang ingin ia taklukkan sepanjang usia dalam kehidupan. Horeee, bersama kawan-kawan, ia taklukkan medan. Berjuang, berpegangan tangan, berangkulan perasaan, mengaitkan ingatan, menyatukan jiwa dengan sempurna.

Seperti, seperti, seperti… bintang di langit malam. Ia jauh namun masih kelihatan. Menghiasi kegelapan dengan kedipan. Tidak sendirian, namun beramai-ramai walau tak selalu terlihat berdekatan. Selamat malam kawan, bintang di langit hati. Titip salam buat rembulan, yaa.😉 [100416]

Lovely Smile,
-My Surya-
@BaitiJannatii

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s