Inspirasi adalah nyawa sebuah tulisan. Tanpa inspirasi, ia akan hampa, tak berjiwa. Lalu, dari manakah datangnya inspirasi?

Inspirasi sangat penting bagi sebuah karya. Karena tanpa inspirasi, tak akan hadir sebait puisi. Tanpa inspirasi, tak akan gegas jemari menari di atas selembar kertas. Tanpa inspirasi, kita belum mungkin bertemu di sini. Dan apakah maksud kehadiranmu saat ini di sini, adalah untuk membagi sebuah inspirasi, teman? Atau untuk memperoleh sejumput di antaranya? Atau karena nyasar dan tetiba pengen berpaling muka segera?

Eits! Sebentar, sebentar… Tunggu dulu teman. Jangan langsung capcus. Karena kita akan membahas sebuah tema menarik. Tema yang sangat kita butuhkan sebagai penulis pemula. Tema yang sangat hangat dan akan selalu mengepulkan asap semangat di kepala saat membincangnya. Yaa, hanya sebentar saja, kita akan bercengkerama.

Inspirasi adalah bahasan yang menarik, menurutku. Lalu, bagaimana menurutmu, teman? Apakah engkau menyukainya? Kalau suka, mari kita lebih merapat lagi, mendekat lagi, erat, dan berangkulan pundak saling menguatkan.

"Hai, yang duduk di pojokan kanan, ngapain asyik sendiri? Mau gabung tidak? Sepertinya sudah ambil ancang-ancang mau berdiri, menepi, lalu kabuuurrr??? Hey… Hey… Pada mau ke mana?"

***

😀 Hahaay, sepagi buta di hari ini, tema yang tepat buat sarapan, sudah menanti. Sedangkan aku, sendiri di sini. Lagi dan lagi, begini. Karena beberapa orang teman yang ku pikir akan betah berlama-lama, ternyata telah pergi. Maka terhadap kesendirian ini, apa yang dapat ku laksanai? Bagaimana pun caranya, aku akan tetap sendiri. Namun bukan berarti tanpa inspirasi. Karena adanya ia maka ku beberkan segalanya di sini. Sejenak tentang inspirasi.

Inspirasi. Terkadang ia datang sendiri. Tetiba sudah mengguyur hujan deras di pikiran. Lalu meluah mencurah membasahi ruang catatan. Hingga membentuk tulisan penuh pencerahan, mencengangkan, mengguncang peradaban, mendobrak motivasi, mencengkeram harapan lebih kuat, hingga meluluhkan perasaan. Bahkan sampai termehek-meheklah pembaca oleh tulusnya tulisan yang kita hadirkan. Padahal, kita merangkainya dengan cara sederhana, biasa saja, hanya untuk mengabadikan keadaan.

Begitu jalan mudahnya. Kita tak perlu susah-susah melangkah, berjalan dan atau mendaki pegunungan untuk menghadirkan tulisan. Karena inspirasi sebagai jiwa tulisan kita, sudah ada dalam genggaman. Sedangkan kita, hanya perlu menebarkannya dengan penuh keanggunan, senyuman, dan sesekali melirikkan pandangan pada mentari yang tersenyum menawan.

Namun sering kali, inspirasi tak kunjung datang. Walau sudah lelah menatap alam. Meski sudah gempor berjalan. Bahkan sampai terseok-seok ngesot menggelepar di perjalanan. Karena kehabisan energi dan kekuatan. Akan tetapi, sang belahan jiwa bagi anak karya kita berupa tulisan, tak kunjung muncul di hadapan. Ini kalau rumitnya.

Ujungnya, berbuah kebosanan. Ini, sangat menyebalkan! Padahal usaha kita melangkah hingga mendaki gunung menurun lembah, adalah untuk menjemput inspirasi. Namun hasilnya nihil. Nol besar di depan mata. Kita lemas. Lalu, kita melanjutkan langkah-langkah nan gontai dan menunduk sangat dalam. Dengan kondisi air mata bertetesan menyamai keringat yang menderas di badan. Ditambah lagi badan kelaparan, kehausan dan akhirnya limbung tanpa pernapasan. Pingsan dech, selama sejaman. Kemudian tak siuman, selama satu jam? Sampai akhirnya ada yang menemukan diri sendirian. Tergeletak di pinggir jalan berbatu. Kepanasan. Berpanasan. Lalu, kita pun memperoleh pertolongan pertama yang sangat mengesankan. Lalu bangkit bersama ingatan yang baru, ditambah kesegaran prima. Yes!

Setelah pingsan segala, baru muncul inspirasi. Kemudian bergumam diri dalam kondisi separuh nyawa, "Ini perlu ku abadikan, menjadi bagian dari hariku." Lalu berbisikmu pelan memberi jawaban, di antara rerentet pertanyaan dari sang penolong. Kemudian, mengalir deras inspirasi dari kebersamaan kalian.

Kisah berlanjut, perjalanan pun diteruskan. Kini engkau tak lagi sendirian saat berjalan. Namun ada bagian lain dari diri yang ada di sisi. Ia yang siap menopang tirus tubuhmu saat kelelahan. Ia yang bersedia menjadi body guard selama perjalanan, kapan saja engkau membutuhkan. Pun sebagai teman mencurahkan isi pikiran dan perasaan. Saat semua membludak, membanjir, sedangkan jiwamu tak mampu menampung keseluruhan. Ia yang rela menjadi tempat sampah uneg-unegmu. Ia yang bahkan menyediakan dirinya utuh untuk tempatmu berjalan, meneruskan perjuangan. Sungguh luar biasa. Ini luar biasa. Hebat. Spektakuler. Dan suatu hari, kebersamaan kalian pun fenomenal di jagad raya. Bermula dari kebersamaan di perjalanan setelah engkau kehilangan pernafasan, selama sejaman.

Ia adalah nafas tambahan bagimu, ketika nafasmu mulai menyusut sebelum kehabisan. Ia menjadi pengelap keringatmu sebelum bertetesan. Ia menjadi pelecut semangatmu supaya kencang larinya. Ia senyumi engkau lagi, saat mukamu mengkerut karena beban pikiran. Ia upayakan kebahagiaan bagimu, kebahagiaan sebagai teman di perjalanan. Ia tak mau kesedihan menyelubungimu, namun segera menepis meski perlahan. Lalu mengusap air matamu dengan penuh perasaan. Hingga engkau merasakan kehangatan berlebih. Ketika hangatnya air mata berjatuhan di telapak tangannya yang mulus bak kulit bayi. Sungguh mengesankan. Engkau dan dia, saling menguatkan.

Saat asyik meneruskan perjalanan, kalian pun sampai pada sebuah tempat. Tempat yang kalian pikir ujung dunia. Lalu bersorak riang penuh kegembiraan pun kalian lakukan. Berteriak kencang dengan seluruh ekspresi pun kalian hadirkan. Hingga suara lantang kalian terdengar ke seluruh penjuru dunia. Dan mereka pun tahu, lokasi keberadaan kalian. Ternyata, kalian berada di tengah lengkung sebuah batu yang ujungnya menjulang ke bawah. Jauuuh di bawah ada jurang dalam. Sedangkan di depan kalian membentang pemandangan alam berwarna kehijauan menghampar luas. Dan di atas sana langit biru membentang bebas dengan beberapa lembar awan sebagai corak. Angin bertiup sepoi-sepoi basah. Mentari bersinar cerah.

Wah! Suasana dan lokasi seperti ini mungkin hanya ada di dunia khayalan. Namun kalian sudah menjejakkan kaki di sana. Sungguh beruntungnya kalian yang telah sampai duluan. Karena selanjutnya, hari-hari kalian akan semakin lebih sangat menyenangkan. Susah terungkap dengan tulisan, hanya menikmati penuh kejujuran.

Rasakan benar-benar, ketika kelembutan alam membelai sudut hatimu, kawan. Rasakan ia menyentuh jiwamu terdalam. Rasakan kehangatan yang menetes di rongga dadamu, kawan. Biarkan tetesannya pelan. Satu persatu bergantian. Hingga detak-detak yang muncul di setiap tetesnya menggerakkan rongga dadamu. Dan kemudian mempengaruhi kecepatan nafasmu. Atur ritmenya menjadi nada-nada yang engkau inginkan. Sesuaikan dengan alur pikiran. Dan jangan lupa, tersenyumlah pelan-pelan. Lakukan dengan rileks. Maka pada saat duduk manis seperti itu pun inspirasi datang menemuimu. Sungguh asyik, bukan? Karena inspirasi terkadang tak perlu dicari hingga ke ujung dunia sekali pun. Namun sesungguhnya ia sangat dekat denganmu. Ia ada di sekelilingmu. Inspirasi yang sahaja, namun hidup dan berjiwa. Untuk memberi ruh pada anak karyamu.

1. Perhatikan sekuntum bunga, maka inspirasi pun bermunculan melalui mekar mahkota bunganya. Duri, daun, batang hingga akarnya, adalah inspirasi tak bertepi. Ciptalah puisi, rangkailah pesan, goreslah kertas, untuk sajak terbaik dari jiwamu tentang sang bunga.

2. Engkau berbincang dengan salah seorang tetangga selepas memandang mentari di ufuk Barat? Perbincangan rahasia? Perbincangan tentang dunia? Yah, di sana pun inspirasi bisa datang berduyun-duyun menemuimu. Untuk selanjutnya, engkau bagikan pada semesta.

3. Ketika duduk sendiri, berdiam mengenal diri, menyaksikan hujan menetes membasahi dedaunan, menyantap sarapan, mandi, berkebun, mencuci piring, memandikan ponakan-ponakan yang lucu, menyapu halaman dan teras, menjelang tidur, bangun tidur, membantu ibu, di jalan, dan lain sebagainya aktivitas terakhir kita. Sebenarnya inspirasi datang mendekatimu dan segala aktivitas. Hanya saja, maukah engkau memetiknya? Sebelum ia layu. Maukah engkau membungkusnya? Sebelum ia beterbangan. Maukah engkau menintakannya? Sebelum ia menguap terbang ke angkasa. Maukah engkau menggenggamnya erat, sebelum kepergiannya menyisakan deras bulir bening permata kehidupan di pipi.

Kesimpulan tentang inspirasi ; Ia berasal :
1. Dari alam
2. Dari orang lain
3. Dari diri sendiri

Do you have different idea about inspiration? [02Ap16]

Lovely Smile,
-My Surya-
@BaitiJannatii

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s