Ya. Kita tidak mau begini terus-terusan. Karena kita punya kehidupan yang perlu kita perjuangkan. Kehidupan yang merupakan sarana bagi kita untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya sebelum pulang. Lalu, bagaimana kita melanjutkan perjuangan ini? Agar kita tak terus-terusan begini.

Kehidupan yang hanya sebentar, perlu berarti. Arti yang memberi kita kesempatan untuk berbuat lebih banyak lagi. Ya. Tak hanya begini saja. Namun harus ada yang dapat kita banggakan. Kebanggaan yang membuat diri berubah. Perubahan yang meminta kita agar terus berjuang. Ya. Sekali lagi, di dalam mewujudkan perubahan, perlu ada perjuangan. Perjuangan yang tidak ringan, teman. Namun kita bisa kalau terbiasa dan melazimkannya dalam keseharian.

Sehari-hari, apakah yang kita lakukan, teman? Aktivitas apakah yang kita biasakan? Kebiasaan yang memberi perubahan bagi kehidupan kita. Kehidupan yang tak mesti begini. Kehidupan yang bukan biasa-biasa saja. Namun kehidupan yang hebat! Kehidupan yang membuat kita tersenyum cerah menjalaninya, bukan banyak mberenguthd. Kehidupan yang kita nikmati detik ke detiknya, bukan kita keluhkesahkan. Kehidupan yang kita jadikan sebagai jembatan perantara menuju ‘pulang’, bukan sebagai tujuan. Kehidupan yang berwarna warni semarak pelangi setelah hujan, bukan kehidupankelabu dan berawan. Kehidupan yang penuh syukur dan sabar, bukan kejengkelan.

"Kita tak mau begini terus, memang". Kalau kehidupan yang kita jalani hari ini, kurang menyenangkan. Kehidupan yang penuh gejolak dan juga prahara. Ah. Namun kita sangat ingin hari ini abadi bersama kenangan terindah bersamanya, karena hidup yang kita jalani berseri-seri. Sungguh, hijaukanlah rumput di taman kita sendiri, agar tak selalu terlihat hijaunya rumput tetangga. Cepat tepis tungau yang ada di pelupuk mata, agar gajah di seberang lautan tak kelihatan. Supaya hidup yang kita jalani lebih mudah kita syukuri. Supaya banyak nikmat tak terlihat, dapat kita pandangi sebaik-baiknya. Maka, bersyukurlah, teman. Yuks, kita belajar lagi.

Bagaimana pun keadaan hidupmu saat ini, bersyukurlah, sabarilah. Lalu upaya dan berdoa dilandasi tawakkal, mengiringinya. Maka tak akan ada lagi keluh kesah, iri dengki, apalagi gundah. Karena rezeki telah dibagi, jodoh tak akan tertukar, sedangkan mati sudah tertakar. Ingat-ingatlah diri, sekali lagi ingatlah. Agar tak mudah pelit. Supaya tak cepat galau. Agar bangkit lagi semangat, untuk mensenyumi kehidupan. Percayalah! Allah sesuai prasangka sang hamba kepada-Nya.

Untuk kehidupan yang lebih baik, hari yang lebih bersinar, maka mulai pagi dengan senyuman. Ya! Layaknya mentari yang meneladankan tentang keikhlasan memulai senyuman, sebelum semesta mensenyuminya balik. Seperti mentari yang muncul membawa pencerahan, sehingga seluruh alam tertawa riang menyambut kehadirannya. Bukan malah menebar kerutan-kerutan di wajah. Bukan. Mentari tak pernah seperti itu, malahan sumringah. Maka untuk kehidupan yang lebih baik, tersenyumlah.

Tak ada yang tidak menyukai wajah cerah. Meski seorang yang sedang berduka sekalipun. Karena dalam kodratnya, manusia suka pada kebaikan. Hal-hal yang baik, sangat manusia sukai. Karena setiap kita membawa kebaikan-kebaikan kita masing-masing. Walau sebanyak apapun kadarnya. Maka kebaikan tersebut ada yang terus bertambah tumbuh dari waktu ke waktu, pun sebaliknya. Lalu kita, mau pilih yang mana? Ini adalah tentang kemauan.

Di mana ada kemauan, maka di sana ada jalan.

Seperti seorang nelayan yang siap melanjutkan proses penangkapannya. Maka nelayan tentu membawa stok kemauan yang bertambah-tambah. Sebab mereka akan mengarungi laut lepas. Laut yang di dalamnya banyak rezeki, bertumpuk berkah, pun musibah yang siap menyambut. Namun nelayan tak kenal takut. Karena mereka mau. Mau melaut sebagai lahan mencari rezeki baginya. Maka nelayan mau menghadang ombak, menembus hujan, mengakrabi angin. Begitu pula dengan air yang rasanya asin, mereka jadikan sebagai sahabat. Maka kemauan membuahkan hasil tangkapan dari laut. Mewujud rezeki, lalu mereka tersenyum saat kembali, pulang. Itulah kemauan. Ia memiliki jalan, termasuk di tengah laut.

Saat ini, apakah yang engkau lakukan, teman? Di manakah engkau berada? Apakah bersamamu ada kemauan? Yap! Kemauan yang mengajakmu melangkah lagi dan lagi, untuk meneruskan perjuangan.

Menjadi apapun engkau saat ini. Bersama siapapun engkau menempuhi masa. Yakinlah untuk mewujudkan kemauan yang engkau bawa. Kemauan yang membangkitkan energimu lagi, untuk bergerak, maju. Berjuang. Dan teruskan perjuangan. Bersemangatlah! Karena engkau tak sendiri.

Di saat engkau kalut, kekalutanmu dapat engkau bagi. Hingga berkurang ia, namun melegakan hati. Ketika engkau gundah, kegundahanmu dapat menjadi jalan hadirnya inspirasi, kalau engkau mau mengalirkannya pada lahan yang tepat. Maka ia akan menumbuh, berkembang, menjadi pohon rindang kesejukkan bagi sesiapapun yang memandang. Tentu tidak akan sia-sia, bahkan bermakna. Engkau pun bahagia. Engkau kembali ceria. Engkau gembira. Saat engkau menyadari, ternyata engkau tak sendiri. Ada yang lain di sana, pun mengalami hal yang serupa denganmu. Namun mereka pantang mengeluh, anti gundah. Namun tegap berdiri, sumringah, dan memotivasi. Karena mereka mau. Maka mereka berhasil. Lalu, bagaimana denganmu? Apakah hanya begitu-begitu terus?
Ingat! Masa depanmu adalah engkau hari ini. []

Lovely Smile,
-My Surya-
01Ap16@BaitiJannatii

🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s