Engkau adalah pribadi yang baik? Suka menolong? Gemar membantu? Tak senang lihat orang susah? Gatal untuk memberi? Dan tak pernah lupa berderma? Sehingga sangat banyak kebaikan yang engkau perbuat. Kebaikan yang melekat padamu, seperti urat pada pepohonan. Kebaikan yang sudah menjalar di tubuhmu laksana nadi. Kebaikan yang tak terpisahkan lagi denganmu. Engkau lekat dengan kebaikan, engkau erat dan rapat dengannya. Kebaikan yang mengelilingimu. Baik kebaikan yang engkau beri, maupun yang engkau terima. Sama saja.

Namun pada suatu waktu, kebaikanmu terabaikan. Kebaikanmu tak terlihat alias senyap apresiasi. Kebaikanmu hilang ditelan masa, tanpa bekas. Lalu, hentikah engkau untuk berbuat baik? Meski tak ada yang peduli, bahwa engkau baik, sekali pun? Padahal engkau tak terpisahkan darinya.

Kalau kita berbuat baik hanya untuk apresiasi dan pujian? Apa lagi gunanya? Ketika amal berbaur riya? Tak berarti. Yah! Ingatlah. Ingat sekali lagi.

Lalu, dalam kesempatan lain, engkau berbuat baik sekali lagi. Kebaikan yang sama seperti sebelum dan sebelumnya. Kebaikan yang engkau lazimkan karena sudah menjadi kebiasaanmu. Lalu tetiba ada seseorang yang iri serta dengki. Ada yang tak suka dan malah mencela. Ada yang menghindar darimu, tak mau mendekat. Lalu lemahkah engkau? Pasrahkah? Lelahkah? Hanya karena seorang saja? Padahal masih banyak kesempatanmu berbuat pada lebih banyak orang. Untuk menjadi ladang bagimu menanam benih kebaikan berikutnya. Maka, jangan letih teman. Tetaplah berbuat baik. Kebaikan yang engkau biasakan, mungkin bagi sebagian orang sangat berharga. Kebaikan yang bagi mereka sangat langka. Karena sudah sangat jarang yang memilikinya. Maka, tetaplah baik.

Terkadang, memang begitu. Ada kebaikan yang mudah diterima dengan kebaikan. Namun terkadang, malah ada yang menganggap kebaikan sebagai angin lalu saja. Karena kita berbeda, sebagai manusia tentu banyak pula ragamnya. Maka apabila engkau yang mengalaminya, kebaikanmu tak dibalas baik, tetaplah baik. Karena kebaikan memang tak selalu bertemu kebaikan, terkadang. Di sini keimanan kembali menemukan ujian. Lalu, apakah engkau lolos menjalaninya?

Terkadang, di dunia ini, memang ada saja yang membuat kita bertanya, "Mengapa ia begitu dan begitu?" Apakah akan lebih baik begini dan begini? Hei! Sebelum berprasangka, ingatlah teman, untuk ingat lagi. Karena kita perlu mempermak pikiran kita terlebih dahulu. Ya, tata lagi hati kita, lihat lagi kondisinya. Apakah barangkali, anggapan yang kita sampaikan tentang orang lain, bukan yang sedang ada di diri kita? Mungkin saja. Bisa jadi. Maka, usah berpusing-pusing memikirkan perilaku orang lain yang tidak sesuai dengan prasangka kita. Karena bisa jadi perilaku kita lah yang seperti sangkaan kita. Padahal kita tak menyadarinya. Sedangkan ketika orang lain memandang kita, ternyata sama dengan prasangka kita kepada orang lain, pula. So, always remember about this. [02Ap16]

Lovely Smile,
-My Surya-
@BaitiJannatii

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s