Ada sebuah peribahasa yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. "Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh". Begini bunyi peribahasa tersebut. Sebuah kalimat yang terdiri dari beberapa kata saja. Namun ia sangat bermakna dan mengandung arti yang dalam. Ya. Coba perhatikan baik-baik teman, susunan kalimat tersebut. Kata demi katanya sempurna, bukan?

Berbincang sejenak tentang bersatu dan bercerai, aku teringat pada sebuah kebersamaan. Ya. Kebersamaan yang terdiri dari kumpulan beberapa orang. Baik di ranah organisasi, keluarga, bermasyarakat, atau sebuah negara. Di bagian mana pun kebersamaan tersebut ada, bersatu adalah kunci keteguhannya. Namun saat salah satu bagian bercerai, akibatnya adalah lebur, runtuh, merosot, ambruk dan akhirnya tiada tanpa bekas. Lalu, sudah sejauh mana kepedulian kita untuk bersatu?

Mewujudkan keadaan menjadi bersatu, memang tidak mudah apalagi terjadi begitu saja. Akan tetapi, memerlukan partisipasi semua pihak dan setiap lini agar bersatu dapat terwujud. Ya. Tidak hanya seorang saja yang ngotot ingin mewujudkannya, sementara yang lain ogah. Karena bersatu adalah gabungan dari seluruh bagian yang menaut erat dan saling mengikat misi. Seumpama sebuah rumah, yang terdiri dari tiang, atap, lantai, dinding, loteng, pintu, jendela dan lainnya. Mereka tidak akan berfungsi sempurna kalau sendiri saja. Namun keberadaan satu sama lain saling menopang. Sehingga kita dapat berteduh di bawah atapnya dengan sokongan tiang yang berdiri kokoh. Sedangkan dinding yang berangkulan dengan penyangga-penyangganya, dapat bernaung di bawah tiang dengan lantai sebagai alasnya. Adapun fondasi sebuah rumah, bukan tanpa makna. Namun ia berfungsi penting untuk sebuah rumah yang tegak sempurna. Alhamdulillah.

Seperti halnya sebuah bangunan, begitu pun dengan keluarga, kawan. Sebuah keluarga yang terdiri dari beraneka sebutan, seperti nenek, kakek, ayah, ibu, anak-anak, pelayan, tukang kebun, dan sebagainya. Mereka mempunyai peran masing-masing untuk terwujudnya nuansa ‘bersatu’ dalam keluarga. Sehingga tidak dapat dipungkiri, ‘ketidakhadiran’ salah satu bagian, membuat sebuah keluarga menjadi kurang semarak. Yah, karena mereka adalah bagian yang tidak terpisahkan. Meski seorang bayi kecil yang baru lahir ke dunia. Keberadaannya adalah sebagai pembawa warna baru bagi bersatunya anggota keluarga yang lain. Oleh karena itu, saling menghormati, menghargai, kasih dan sayang, mencintai dan rela menyenangkan yang lainnya, merupakan hiasan dalam bersatunya keluarga.

Seluruh aspek yang kita jalani dalam kehidupan ini, tidak akan pernah terlepas dari kata bersatu. Itu pun kalau kehidupan yang sedang kita jalani, ingin berlangsung harmonis. Berbeda halnya jika kita mengharapkan hal yang lain, maka bersatu tidak akan berguna. Begini sederhananya.

Siapapun kita. Di mana pun kita berperan. Sebagai apapun kita berprofesi. Maka tidak dapat tidak kita menjadi bagian dari kesatuan yang utuh. Oleh karena itu, kawan. Semoga kita kembali ingat dan teringatkan untuk mengetahui dan memahami peran kita masing-masing. Untuk selanjutnya, mengambil andil dan memberikan kontribusi terbaik di dalamnya. Sehingga hari-hari yang lebih baik dapat terwujud. Sedangkan bumi, menjadi tempat yang sangat baik untuk kita huni bersama.

Maka, bersatunya kita, bukan untuk tujuan satu kelompok tertentu saja. Namun untuk keperluan lebih banyak lagi penduduk bumi ini. Kalaulah sejak saat ini kita tak ambil peran, di bidang yang kita tekuni. Bagaimana kabarnya generasi yang akan hadir setelah kita? Jika saja di hari-hari yang kita jalani ini, kita tak gemar bersatu, maka apa yang akan terjadi pada generasi setelah kita. Jika saja kita tak mau mencontohkan tentang keteladanan terbaik, lalu pada siapa lagi mereka akan berpanutan? Karena dunia yang kita jalani, dengan dunia generasi mendatang, sungguh berbeda. Bahkan kita tak dapat menerka, bagaimana kesiapan mereka menghadapi masa-masa mereka kelak. Walau demikian, namun ada yang dapat kita laksanai sejak saat ini, yaitu meneladankan tentang pentingnya bersatu dalam berbagai keadaan. Agar keutuhan dan keteguhan menjadi bagian terdekat kita. Bukan malah bercerai-berai yang mengakibatkan keruntuhan. Wallahu a’lam bish shawab. [090416]

Lovely Smile,
-My Surya-
@BaitiJannatii

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s