Orang hebat. Dapat kita pastikan, bahwa mereka punya ruang pribadi rahasia dalam kehidupannya. Sebuah ruang yang hanya orang-orang tertentu saja yang bisa memasuki ruang. Dan mereka tentunya orang-orang kepercayaan. Bisa yang bergelar suami, istri, ibu, ayah, anak-anak, tangan kanan, saudara, solmet, nenek, rekan bisnis, dan sebagainya. Sehingga ruang tersebut senantiasa terjaga kerahasiaannya karena bersifat sangat pribadi. Karena mereka pun tahu, bahwa ruang tersebut adalah bagian diri sang orang hebat tersebut. Mereka tak terpisahkan.

Orang hebat dan sesiapapun yang ada di sekelilingnya, menjadi sangat akrab dan mereka pun hebat bersama-sama. Karena orang hebat, menyadari. Bahwa ia tak bisa hebat sendiri. Namun mesti dan harus ada yang mengiringinya. Ada yang mengawal dan mendampingi kehebatannya. Supaya ia tak jumawa apatah lagi bersombong ria. Agar ada yang selalu rela mengingatkannya ketika terlupa. Supaya ada yang bersedia menasihatinya saat tersalah. Agar hidup yang hanya sekali, menjadi lahan pahala bagi semua, untuk bekal kehidupan nanti.

Orang hebat. Apakah engkau pernah menemukannya, teman? Atau engkau pernah berpikir bahwa seseorang yang engkau temui, ternyata adalah orang hebat? Lalu engkau pun terpesona, terpukau, diam karena takjub, pada saat yang sama terteriakkan sebuah kata, aHa! Aku sangat bangga dan bahagia, pernah bertemu dengannya. Aku senang karena sempat menyapanya. Aku gembira, karena ternyata ada orang-orang hebat di sekitarku. Aku riang dan ceria saat mengingatnya. Karena ia adalah orang hebat dan nyata-nyata ada. Pernahkah engkau mengalami hal ini, teman?

Aku sangat suka. Aku semakin suka. Kesukaan yang membuatku bahagia. Aku pun jatuh cinta. Aku semakin cinta. Kecintaan yang membuatku senyum-senyum menempuh masa. Kecintaan yang mengajakku bergerak melangkah rasa. Bahkan aku sempat terbang melayang di udara cita-cita. Kecintaan yang saat mengalaminya, aku terpana dan terpesona. Kecintaan yang pertama dalam hidupku. Aku bertemu orang hebat. Sah. Dan aku masih belum percaya. Sampai saat ini pun sama. Aku tak menyangka, secepat itu kami berjumpa, lalu berpisah lagi. Aku tak percaya. Sungguh, ketidakpercayaan yang sangat menyiksa. Karena sang orang hebat, membawa separuh cintaku. Cinta yang bertumbuh, seiring kepergiannya menjauh dariku. Cinta yang muncul tiba-tiba, awal kami berjumpa.

Orang hebat adalah mereka yang tulus namun tak kentara. Mereka ikhlas, tak bicara. Mereka yang mudah berbagi, tanpa suara. Mereka yang cerianya sering menghiasi ingatan, saat tak jumpa. Mereka yang senyumnya terlihat, walau tak bersua. Mereka yang suaranya merdu, walau tak terdengar telinga. Mereka yang sangat lembut, walau tak bersentuh raga. Mereka yang… Yang… Yang sangat peduli, walau tak saling kenal. Ai! Aku pernah mengalaminya. Aku, dan semoga saja kita semua, dapat mencontohinya. Bukan untuk disebut ‘hebat’. Namun karena karakter diri sang orang hebat yang telah menyatu dengan diri. Ai! Semoga saja yaa. Karena menjadi orang hebat itu indah terlihat, teman.

Bertemu dengan orang hebat, membuat hari kita penuh bunga. Sehingga bawaannya bersemi-berseri-berbagi, memberi. Karena ada aura yang sulit terkatakan, memancar dari sang orang hebat. Ku sebut ini, kagum.

Kagum. Yaa… Ada kekaguman luar biasa yang menyentuh kita. Ada kemewahan tak biasa yang mengajak kita padu dengannya. Ada kemegahan terindah yang menyilaukan kita. Karena orang hebat tersebut membawanya. Untuk selanjutnya, memberinya cuma-cuma pada semua. Bisa dalam bentuk kepedulian, kebaikan, kesantunan, ketulusan, yang hanya bisa kita rasakan. Karena mereka melakukannya dengan bagian diri terdalam. Dari kalbu yang telah terbiasa. Melalui jiwa yang tertata. Dalam keadaan terbaiknya. Ah! Sungguh indah kehidupan mereka, terlihat.

Orang hebat tak pernah bilang tentang kehebatannya. Karena mereka menyadari, ada kekuatan yang menghebatkannya. Dan mereka sangat yakin, bukan dari diri mereka sendiri. Akan tetapi, berkat pemberian pula. Maka mereka selalu berendah hati, bersyukur, berbagi, bahkan semakin rajin memberi… Karena di sana kebahagiaan mereka berkumpul. Saat memberi. Untuk menghebatkan sesiapapun. Karena mereka hebat, sebab banyak menerima. Penerimaan yang membuat mereka terlihat semakin hebat. Sedangkan mereka ‘mungkin’ tak menyadari kehebatannya.

Dedicated to: semua orang hebat yang pernah mau menyalamiku, mensenyumiku, menyambut sapaku, dan memberi untukku. Terima kasih telah meneladankan tentang kehebatan. I°love•you-so,much…

Lovely Smile,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s