Tanggal 6 Maret 2016, aku memulai paragraf ini dengan sejumput kehampaan. Ya, karena memang tak ada tema yang patut kita perbincangkan. Begitu pula dengan inspirasi. Ia seakan lenyap tak berbekas, hilang ditelan keheningan pagi.

Pagi di sini. Pagi yang sejuk semakin bertambah dingin. Karena hujan mengguyur sepagian ini, sejak dini hari. Hujan deras berpetir, ditambah lagi dengan angin kencang. Hingga keheningan sepertiga malam terkoyak oleh gemuruh dan tetesan hujan yang tercurah ke bumi dengan bebasnya.

Aku masih terlelap nyenyak bersama beberapa episode mimpi, ketika hujan sudah menyegarkan alam. Dan saat ku tersentak dari tidurku, alam sudah berceria ria. Riuh rendah suara alam, membuatku tak bisa memejamkan mata lagi. Lalu bangkitku segera, duduk manis, bersyukur kepada-Nya di dalam doa. Alhamdulillah, Allah masih beri ku kekuatan, kesempatan, kebahagiaan berlebih pagi ini. Lalu, berpikirku sejenak sebelum ku beranjak dari tempat tidur. Apakah bakti yang dapat ku berikan seharian ini? Bagaimana ku menjalani hari dengan detik ke menitnya yang berkejaran? Siapa yang akan ku senyumi hari ini? Bagaimana ku membahagiakan beliau yang ku sayangi?

Setelah merenung beberapa menit, aku pun melangkah. Tak lupa ku pandangi wajah di cermin terlebih dahulu. Cermin yang menempel di pintu lemari kecil di dalam kamar. Cermin yang menampakkan sosok wajahku saja, karena ukurannya yang kecil. Wajah yang ku senyumi, dan dia pun tersenyum padaku. Senyuman khas bangun tidur. Senyuman hambar, senyuman tak berdaya. Ai! Mana ada orang cantik bangun tidur? Adanya pasti cemberut, manyun, bermenung, atau yang lebih keren dikit, senyum-senyum sendiri di depan cermin. Seperti yang aku lakukan hampir setiap hari. Maksudku adalah untuk latihan dan peregangan pipi. Xixiii.😀

Senyum. Terkadang tak mudah bagi kita untuk melazimi. Apalagi di awal hari seperti ini. Ditambah pula kalau semalaman bergelut asyik dengan mimpi-mimpi. Syukurlah kalau mimpi yang menyenangkan, tentu membuat kita pun senang (kalau masih ingat) itu pun. Nah, bagaimana kalau mimpi yang merupakan bunga tidur, penuh kengerian? Apalagi kalau gak jelas datang dan perginya. Buram ujung dan pangkalnya. Tetiba sudah bersemberawutan, gelap, terang, temaram, campur aduk jadi satu. Wah! Gawat khannn. Lalu datang pula sekumpulan kawan, kawan yang ternyata tidak kita kenal. Tapi mereka mengajak kita main-main. Permainan yang membuat kita bingung, karena permainannya tak pernah sekalipun kita temui. Dan akhirnya, kita pun bingung. Kebingungan yang membawa kita ke dunia antah barantah. Dunia lain. Dunia para peri, atau dunia khayalan. Ah! Mana ada teman di sana?

Sejenak kita terpana, karena sudah melangkah jauh dari kenyataan. Sehingga tak terasa, jemari sudah melayang-layang di udara. Udara yang tidak dapat kita raba. Udara yang sebenarnya ada, namun tak terlihat mata. Udara yang terasa, namun tiada. Ya, cobalah merabanya, maka tak ada wujudnya, bukan? Seperti halnya dunia maya. Iya.

Eits, saat ku sedang asyik menyusun kata merangkai kalimat, tetiba ibunda masuk. Ya, aku yang sedang duduk-duduk di kamar sambil menepikan arah pandang ke luar jendela. Serta merta ku alihkan perhatian pada beliau, beliau yang sedang siap-siap shalat Dhuha. Lalu beberapa saat kemudian, beliau terlihat khusyuk di atas sajadah cinta, bermohon kepada-Nya dalam doa Dhuha. Doa yang terlantun lirih, sehingga tak dapat ku mendengarnya. Mungkin juga dengan berbisik mesra kepada-Nya. Hanya beberapa menit, kemudian beliau pun menyudahi shalat Dhuha dengan wajah sumringah. Yah, selalu begitu. Ibunda yang penyayang, sering membaikiku. Maka apakah kebaikan yang dapat ku persembahkan untuk beliau tercinta? Hanya dengan merangkai senyuman melalui paragraf-paragraf sahaja saja, apakah bisa? Selanjutnya, bagaimana lagi? Dan … Bagaimana lagi?

Tak habis pikir ku berkelana. Ku biarkan ia menjelajah alam raya. Ku beri ia waktu untuk sering-sering berupaya. Menemukan cara agar dapat membuktikan cinta pada ibunda. Lalu, tersenyumku segera, karena akhirnya ku teringat sesuatu. AhA! This is a surprise for ibunda. This life story, a wonderful diary, full of love and memory about us, about them, about our beautiful world. Semua terangkum dalam paragraf-paragraf sahaja. Berisi hal-hal luar biasa, namun aku menyampaikannya dengan cara sederhana. Sesederhana sepoi angit yang bersemilir manja, pagi ini.

Pagi ini, di sini. Setelah melakukan ritual pagi dan beberapa aktivitas seputar urusan rumah tangga (engkau pasti mengerti tentang hal ini). Ya, tidak berbeda jauh dengan rumah tangga-rumah tangga yang lain, rumah tangga kami pun sama. Sepagi hari sudah sibuk dengan keriuhan. Ditambah pula dengan adanya beberapa anak kecil pemecah suasana. Maka lengkaplah sudah kemesraan dalam keluarga. Semakin bertambah istimewa kesejahteraan yang ada. Bertumbuh kembang kesentosaan di jiwa. Ah! Apalagi yang kurang, wahai seorang hamba?

Bukankah nikmatnya menghirup udara pedesaan pagi hari setelah hujan turun dini hari adalah bahagia? Bukankah berdingin-dingin di bawah payung saat gerimis sisa hujan merupakan aktivitas yang menyenangkan? Apakah turun ke tanah yang masih basah dan kemudian asyik bercengkerama dengan lembaran daun yang menempel di atasnya adalah kebahagiaan? Bukankah air yang menempel di atas sendal dan juga membasahi kaki-kakimu merupakan pemandangan yang seru? Dan yang tak kalah menggemaskan adalah saat jemari ini bersalaman dengan bunga-bunga yang mulai bermekaran. Lalu ku bawa ia menuju hidung dan kemudian menghirup wanginya yang menyegarkan jantung.

Aku ingin di masa tua nanti, menjalani hal serupa. Berkebun di pagi hari, ba’da Shubuh menjelang sarapan pagi berlangsung. Kami, aku dan keluarga serta cucu dan juga cicit, menyiangi tanaman yang berjejer rapi di sisi rumah kami. Termasuk halaman depan dan belakang. Sedangkan para menantu sibuk pula di dapur menyiapkan menu sarapan pagi, berupa goreng singkong dan atau ubi jalar, bahkan rebusan pisang yang manis rasanya. Atau olahan lain berbentuk gorengan pisang dan juga bubur putih kesukaan keluarga kami. Ai! Bisa juga diselingi dengan segelas susu cokelat peneduh suasana. Benar-benar lengkap kebahagiaan kami, saat selembar pemandangan alam di depan rumah, tertiup angin berhembus pagi. Iich, aku semakin rindu masa-masa ini. Dan selamanya ku rindui, termasuk saat ini. Ketika aku sedang duduk lagi di kamar ini, untuk mengabadikan kisah kami tentang pagi.

Pagi di sini, masih pagi. Walaupun jarum jam sudah beralih ke angka sepuluh, namun semarak pagi hari masih terasa. Karena sisa-sisa gerimis dini hari tadi, terus menghiasi alam hingga saat ini. Sehingga aktivitas pagi yang telah diselingi dengan sarapan, pun beralih ke sini. Karena aslinya, aku anti kena hujan. Namun sangat suka suasana setelah hujan. Walau pun aku tak terlalu suka hujan, karena ia mencuri perhatianku terhadap mentari ataupun mengalihkan perhatian mentari dariku. Akan tetapi aku masih sering hujan-hujanan. Untuk melepas kangen pada masa-masa sekolah dulu.

Ya, masa sekolah ku kurang bahagia. Alasan apa? Karena pulang dan pergi sekolah harus ku tempuh dengan jalan kaki. Akibatnya, saat pulang sekolah hujan mengguyur alam, maka relakan diri berbasah-basahan agar tak telat sampai di rumah. Untuk selanjutnya membantu ibu dan ayah dengan suka ria. Kami, aku dan beberapa orang teman sebaya pun berlarian menembus hujan, dengan susah payah. Walaupun sering orangtua melarang untuk jangan hujan-hujanan. Namun merupakan kebiasaan kami untuk saling berkejaran, menikmati setiap tetesan hujan yang menciumi badan. Hingga kami basah sempurna, tak terelakkan. Ah! Kurang bahagia apa lagi, teman? Bisik sekeping hatiku terdalam. Aku pun melirik manja padanya, lalu memberi jawaban, "Hanya candaan." Lalu kami tergelak bersama, saling bersenyuman. Lagi dan lagi, memori masa silam membuatku kembali bertahan. Bertahan meneruskan langkah dalam kehidupan, untuk mensenyumkan. Tak hanya diriku yang ku hadiahi senyuman, namun juga seluruh alam. Termasuk mentari yang berusaha menunjukkan senyumannya, meski dari balik hujan.

"Hai… Lihatkah kawan, mentari pun tersenyum menawan, di tengah hujan. Aku sangat sukai pemandangan seperti ini. Kami bersenyuman mensyukuri anugerah Ilahi."

***

Menyeruput segelas susu cokelat di pagi hari berteman pisang goreng kering, akan ku rindukan lagi. Bersama beberapa anggota keluarga terdiri dari ayah, amak, Onna, duo kurcaci dan seorang lagi yang spesial di hati. Ditambah pula dengan para tetangga dekat. Termasuk sekawanan ayam-ayam yang minta dibagi, juga amia-miaw si kucing kami satu-satunya. Yaph, suasana pagi yang berseri, penuh dengan inspirasi. Meski saat ini belum sesuai harapan. Akan tetapi ku mensyukuri pagi ini dengan baik. Alhamdulillah… Terima kasih ya Allah.

Satu hal yang termasuk dalam list wujud syukurku hari ini adalah ‘aku masih dapat berkegiatan dengan optimal. Diantaranya adalah berkebun lagi dan lagi, lalu bercengkerama dengan duo kurcaci. Sejak pagi hari, hingga senja berdekatan malam hari. Pun, sebuah kabar yang ibunda sampaikan tentang kelanjutan kisah hidupku ini. Lebih khususnya adalah terkait teman seperjalanan, kawan seperjuangan yang beliau tawarkan. Who is he? Dan aku hanya bisa berdoa, semoga kebaikan yang menyertai kami. Walau bagaimanapun, berkahilah ya Allah, mudahkan urusan kami tentang hal ini. Dan karena tulang rusuk tidak akan pernah tertukar, aku yani dan senantiasa berhusnuzan kepada-Nya, untuk dipertemukan dengan seorang yang telah Engkau janjikan, Ya Allah. Hamba percaya pada pilihan-Mu yang terbaik.

***

Dear,

Barakallah Yani…
Your happy is mine,
Your soulmate is mine,
Your other best friend is mine,
Jangan lupa ingat-ingat aku yaa, walau kalian telah bersama, nanti. Karena kita sahabatan sejak lama. Dan aku tak ingin, engkau meninggalkan aku begitu saja, saat kesibukkanmu bertambah dan amanahmu bertumbuh. Salam cantik buat beliau, saat engkau bersama, kelak.

Dari,
-Diarimu-

***

Wah! Wah! Baru saja ku kabari ia tentang sekilas info yang masih bayangan, sang diari langsung memberi ucapan selamat padaku. Dan kemudian mewanti-wanti agar tak melupainya. Kalau kelak aku sudah mempunyai pasangan jiwa. Hahaa. Ada-ada saja dia. Maka patutlah kiranya ku semakin semangat mengoret-oretnya, mengobrak-abriknya. Bahkan ku penuhi ia dengan uneg-unegku yang akhirnya tumpah meruah dalam lembarannya. Karena sudah akrabnya kami, melebihi saudara kandung. Sampai ia pernah cemburuiku karena sangat suka pada mentari. Padahal ia lebih dekat denganku, dalam berbagai situasi, dibandingkan mentari yang jauh di sana. Mentari yang sering mengedipiku dari kejauhan. Mentari yang tak tahu bagaimana kondisi terakhirku, apakah sakit, sehat atau bahagia kah? Namun selalu saja ku berikan perhatian padanya, mentari yang ku yakin sangat baik, termasuk padaku.

Pernah pada suatu malam, aku sesenggukan dan berlinang airmata. Lalu ku tumpahkan bening permata kehidupan hingga membasahi lembar diari. Namun ia diam saja, menerima dengan rela dan memahamiku. Sambil tak berkutik, saat ku coreti ia berulang kali. Akan tetapi, ia masih mau menampung curhatku. Ai! Aku ingat dear, kebaikanmu padaku. Dan insya Allah, kita bersama selamanya. Karena berdua kita bisa, mengukir asa merengkuh cita dengan cinta mentari. Hihiii… Masih dan selalu ada mentari, untuk mensenyumkan kita lagi. Cup cup dear. Believe me.

Walau tanpa inspirasi sekali pun, ku akan menjengukmu kapan pun. Karena kita tak akan terpisahkan. Hingga maut menjemput dan memisahkan raga dengan jiwaku. Jiwa yang menemaniku saat mengukir indah kisah hidupku, bersama lembaran sucimu.

Lovely Smile,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s