Tanggal 8 Maret 2016, tersimpan rapi dalam memori
Kenangan indah tentang kami
Kebersamaan dalam hari-hari
Menjadi kisah yang abadi

Meski jarak akan memisahkan kami
Walau jauh di mata dekat di hati
Hai, hai tak ada yang lebih membandingi
Baiti jannatii…

Kami menghormati, menghargai, saling peduli, gemar berbagi
Ada sama-sama kami nikmati
Tiada sama-sama kami cari
Karena kami keluarga yang sehati

Berpagi-pagi mewarnai hari
Dengan gelak canda tawa bahkan mengusili
Hihiii… Hingga semarak hari ini
Menjadi bagian dari diari

***

Selalu, masih saja. Kami sering terlibat dalam pertengkaran kecil. Tentang aku dan dia kurcaci kami. Ai! Sungguh tak bisa ku memungkiri. Kehadirannya menambah inspirasi. Hingga sampai pula di sini. Sebagai bagian dari kenangan dalam perjalanan hidup ini.

Hidup yang sebentar, tidak akan pernah terulangi lagi. Lagi dan lagi ku nikmati. Kenikmatan yang tiada akan terulang. Bahkan tak ada yang bisa membandingi. Seperti kenikmatan yang kami rasakan dalam sebuah keluarga. Keluarga kecil kami, yang saat ini kami bersamai.

Bersama kami menempuh waktu. Semenjak pagi, siang, hingga sore hari. Kebersamaan yang mungkin di dalamnya ada yang tersakiti, tersinggung, terbahagiakan, tersenangkan, bahkan terlukai hatinya. Namun semua ini tiada terjadi, kecuali sebagai bukti kasih dan sayang untuk semua. Untuk menjadi kenangan saat nanti kami tidak lagi bersama. Dan menjadi memori saat tua. Bernostalgia dengannya, dalam reuni akbar keluarga.

Kerikil-kerikil canda memang pernah ada, namun hadirnya bukan tiada guna. Pepasir gelitikan tanda cinta pasti tercipta, untuk memberi tantangan keakraban. Apakah semua memberikan kesan? Baiknya kami ambil, sedangkan yang jelek kami buang.

Saat si kecil asyik bermain, kami para orang tua sibuk memperhatikan. Sehingga tidak terputus kasih sayang, namun bersambungan terus-terusan. Sementara anak-anak sedang berkarya, kami para orang tua memberi apresiasi segera. Ketika mereka menangis, kami mengusap airmata. Saat mereka tertawa, kami temani pula dengan bahagia. Ah, seandainya saja dunia mereka tiada, mungkin kurang lengkap masa-masa tua kami. Seperti pepohonan yang menaungi anak-anaknya, maka kami berikan lebih buat buah hati tercinta. Semoga, semoga, semoga senyuman temani masa demi masa yang kami jalani. Masa-masa yang datang dan pergi, bersama mereka.

Suatu siang, di sela waktu rehat kembali ke rumah, ku melihat duo kurcaci sedang asyik berdua. Mereka main-main masakan, dengan memotong batang kemumu. Yuhu, dengan membawa pisau masing-masing satu, mereka sibuk sekali. Sehingga tak menyadari kehadiranku di sekitar. Lalu diam-diam ku abadikan kebersamaan yang jarang terjadi itu. Hihiii, paparazian adalah keisenganku suatu waktu. Dan objek yang ku tuju adalah sesiapapun yang ku mau. Utamanya tentu saja yang ada dan terdekat denganku saat ide ini muncul.

Sementara mereka meneruskan keasyikkannya, aku pun berlalu sebelum ketahuan. Dan tidak sampai mengganggu. Lalu mengambil posisi rebahan di sofa panjang di ruang tamu. Selanjutnya merangkai senyuman di lembaran diari. Ya, di sini, ku abadikan aktivitas mereka tadi. Sambil ku nikmati pula waktu rehatku. Karena bagiku, rehat seraya membaca atau menulis adalah pilihan terbaik. Selain karena tak ada teman untuk bercengkerama, dalam kesendirian, juga karena ku hanya mau diam. Berdiam, merenungkan diri.

Tidak berapa lama kemudian setelah ku baring-baring di sofa, tetiba mereka duo kurcaci mendekatiku. Eiya, sebelumnya mereka menyimpan dulu pisau di dapur. Lalu menebar kemumu cincang di lantai dapur. Aaah, mereka sungguh ga ada kerjaan. Akibatnya, ketika ibundanya pulang dari belanja, tercurahkanlah uneg-uneg sang ibu. Spontan, langsung, dan memang selalu begitu. Sedangkan aku yang sedari tadi tak menyadari ulah si kecil, hanya tersenyum geli. Ssyuut… Yang menjadi objek omelan bunda adalah si kakak. Kakak yang akhirnya berlalu meninggalkan bunda setelah menerima sebungkus makanan. Diikuti sang adik, mereka mendekatiku dan kemudian berbagi.

Berbagi adalah kebiasaan yang kami lazimkan dalam keluarga. Baik sedikit atau banyak. Apakah semua suka atau tidak. Setidaknya, menawarkan terlebih dahulu sudah biasa. Karena merupakan bagian dari kesopanan dalam keluarga.

Nah! Setelah kami bagi-bagi makanan dan menikmatinya, lalu kenyang lah sudah. Selanjutnya ku pejamkan mata sejenak. Sedangkan si kecil meneruskan aktivitasnya pula. Kali ini membantu bunda di dapur. Oiyaa, bundanya si kecil adalah Onna, kakakku. Setelah puas bantuin bundanya (gangguin), mereka pun main lagi ke dekatku baring-baring. Dan tidak berapa lama kemudian, aku pun bangkit dan beranjak ke halaman. Untuk menggarap proyek kerjaan berikutnya, berkebun, bersih-bersih, de el el sampai capai ragaku. Namun pikiran senang, karena sambil bermain dengan duo kurcaci yang hiperaktif. Sure, aku terhibur dalam kelelahan. Aku tersenyum dalam keletihan. Bersama mereka. Terima kasih anak-anak. Duniamu memang indah.
***

Senyuman tak jarang ku lihat pada wajahmu,
Tangisan pun sering menghiasi masa kecilmu,
Ah! Engkau memang penuh ekspresi selalu,
Membuatku banyak belajar darimu,

Engkau anak-anak memang,
Seringkali senang,
Menertawai, ditertawai, kadang,
Mudah berbagi, suka memberi, kasih sayang,

Menemuimu menyisakan riang,
Meninggalkanmu menemukan ruang,
Membersamaimu adalah berjuang,
Belajar lagi dalam menaklukkan perintang,

Engkau anak-anak pemberani,
Suka berjalan dan berlari,
Walau terjatuh namun tak jera nyeri,
Apalagi namanya akan ku beri,

Engkau anak-anak teman belajar,
Engkau anak-anak semakin pintar,
Otodidak melakukan banyak hal,
Sungguh-sungguh menepikan aral.

Anak-anak, aku kagum bagaimana engkau menaklukkan dirimu sendiri. Aku takjub dengan ketekunan dan keuletanmu melakukan hal baru. Tak kenal takut, tak mau surut. Supaya engkau cepat bertumbuh, menjadi pribadi-pribadi tangguh dan teguh. Hayuuh! Taklukkan dunia. Ia menantimu. Serbuuu. []

Lovely Smile,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s