Tanggal sepuluh Maret tahun 2016. Saat sore mulai menepi. Dan sinar mentari hari ini kenyisakan rona jingga di langit Barat. Ya, karena sebentar lagi, ia akan benar-benar tenggelam, lalu bumi menjadi temaram, senja dan berangsur gelap.

Saat ini belum terlalu gelap di sini. Namun masih ada kerlipan sinar mentari yang memantul di sisi kaca jendela rumahku. Akibatnya, sedikit silau ku alami. Silau yang mengatupkan mataku sejenak, lalu membuka lagi. Karena aku masih penasaran dengan senyuman terakhir mentari hari ini. Maka, ku edarkan arah pandang padanya, hingga kami benar-benar bertatapan.

Tatapan mentari masih ku perhatikan, sementara awan mengitarinya. Awan yang siap menjadi saksi, keharuan yang kami alami. Haru, sungguh sendu, saat suasana sore begini. Bagaimana tidak? Karena kami akan menjalani perpisahan lagi. Iya. Perpisahan dua sahabat, sahabat sejati.

Seraya bermain-main dengan buah hati tercinta, ku palingkan pandangan padanya lagi. Lalu, ku hibur diri dengan mensenyumi si kecil yang asyik di depanku. Nak Ira sesekali mengedipkan mata padaku, kemudian ia kembali asyik bermain. Permainan memindahkan bola-bola dari lantai ke dalam keranjang. Dan kemudian mengeluarkannya lagi, hingga berserakan. Begitu berulang kali. Dan kemudian ia tertawa, seraya mengumpulkan lagi bola-bola warna-warninya. Sampai-sampai aku berpikir begini, "Ada-ada saja si kecil. Pintar menemukan cara agar bisa bermain."

Dari si kecil Ira, aku sering belajar. Belajar tentang kesigapan, keuletan, senyuman lucu, hingga ekspresi unik yang tetiba menghiasi wajahnya. Ya, bibirnya mendadak manyun, sedangkan matanya menyipit. Lalu, teriak-teriak dengan bahasa planetnya yang entah bermakna apa. Ahaahaaa… Lama-lama bersamainya, aku terbiasa berekspresi pula. Termasuk saat ini, sore yang cerah melepas kepergian mentari. Aku belajar merelakan, bahkan mengingatkan diri. Bahwa tidak selamanya kebersamaan kita jalani. Seiring pertumbuhan, maka kita belajar hal baru.

Beberapa jam kemudian…

Saat ini jarum jam telah menunjukkan angka delapan malam lebih lima menit. Angka yang sudah menanjak. Sedangkan kondisi alam sudah bisa kita sebut malam. Ya, awal malam sepertiga yang pertama. Waktu yang pas untuk berkumpul bersama keluarga di ruang tengah seraya menonton televisi, dilanjut dengan makan malam, curhat-curhatan dengan saudara, bahkan bercengkerama dengan anggota keluarga yang lebih muda. Sehingga keharmonisan rumah tangga lengkap sempurna, apabila dilengkapi dengan ngaji bersama saling menyimak dan mengoreksi.

Tadarusan. Yeah, aku rindu aktivitas ini saat malam menjelang. Dan aku ingin di malam-malam selanjutnya kami sekeluarga melazimkan baca al Quran berjamaah sejak senja tiba sampai larut malam. Tempatnya bisa di ruang keluarga, atau di mushala rumah kita. Semua masih impian saat ini, dan aku yakin menjadi kenyataan, dalam hari-hari nanti. Insya Allah, agar ketenteraman dan sakinah di rumah kami bertambah. Berbinar terang dari atap rumah kami, hingga terlihat dari langit oleh malaikat-malaikat-Nya. Sedangkan dekat sekali dengan kami, malaikat-malaikat pun bertasbih, mendoakan kebaikan untuk penghuni rumah. Aamiin ya mujibassailin.

Malam ini, semarak kekeluargaan dalam rumah tangga kami merebak. Ba’da shalat Magrib kami makan bersama, dilanjut dengan menonton televisi di ruang tengah. Nah, saat kami asyik menyantap tayangan di layar kaca tersebut, maka tetiba kelam memenuhi ruang. Gulita mencengkeram udara terdekat dengan kami, dan malam benar-benar terasa kerennya. Yup! Warna hitam terlihat jelas, meski kami membuka mata. Hening.

Tidak ada yang bersuara saat kelam menyapa. Semua diam, sunyi, sepi, dan termasuk si kecil Ira. Ia tak bersuara sama sekali. Mungkin karena sibuk merem-merem sambil menyusu dengan bundanya, kali yaa. Sehingga ia sangat tenang. Dan Kak Khayla pun sama. Ia seakan menghilang dari peredaran. Karena suaranya yang biasanya memenuhi ruangan dan mengalahkan suara televisi, kini tiada.

"Ooo… oooww… Ternyata begini suasana mati lampu, yaa," pikirku sendiri. Hanya bergumam dalam hati. Sedangkan mulutku terkunci. Karena aku pun tak berminat membuka suara. Apalagi untuk berdiri dan melangkah. Hihiii… Ngeri dan seramnya. Mencekam. Sementara itu, dingin pun menelusup menerpa kulit ari. Hingga aku bergidik, menjalani suasana seperti ini. Kegelapan di dunia, sebentar saja, ada sesiapa, saudara dan keluarga di sisi, sudah menghadirkan nuansa begini. Lalu bagaimana saat di alam kubur nanti???? Aku pasti sendiri tanpa saudara atau sahabat. Suasana sepi, sunyi dan dingin tentu saja. Apakah ku sanggup menjalani???? Kelam yang akan terjadi terus menerus, kalau saja tiada amal mengikuti. Amal baik yang menerangi alam kubur nanti. Aku pun merenungi diri lamaaa sekali.

Mati lampu sering terjadi di sini akhir-akhir ini. Entah mengapa, aku pun tak mau mencari tahu. Tak kenal waktu, siang, malam atau dini hari menjelang pagi. Mati lampu mudah saja terjadi. Padahal kami sedang memakai aliran listrik, saat pemadaman listrik terjadi. Ssshhhh… Kadang jengkel juga, karena tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, tiba-tiba saja sudah kelam. Maka untuk mengantisipasi terjadinya kejengkelan berkelanjutan terhadap produk listrik di negeri ini, maka kami pun siap-siapkan hati. Kami jaga emosi diri, termasuk kesiapan sarana dan prasarana. Termasuk berbagai kebutuhan penting terkait pelistrikan. Kami siaga sebelum pemadaman terjadi lagi.

Karena sudah biasa terjadi pemadaman listrik di sini, maka kami mulai mengerti. Meski tak tahu apa penyebabnya? Walau di tengah kebutuhan mendesak, kami menerima pemadaman ini. Selayang ku menangkap ekspresi dari beberapa ibu-ibu saat ku menanyai pendapat beliau tentang hal ini. Betul. Beliau pun menerima dengan senang hati. Karena sudah biasa. Ah, penduduk desa yang baik, pikirku. Legowo, tak banyak berbicara, meski terkadang dizalimi. Iiiih! Hhhiiii! Apakah semua penduduk desa sama? Mereka yang tak banyak membantah, apalagi untuk komplain! Sekilas, ku tangkap pula wajah-wajah pasrah dari sorot mata mereka. Apakah semua ini lumrah? Bukankah semua kita berhak untuk berpendapat dan mengajukan ide? Termasuk mengkritisi? Hu um. Apalagi karena berhubungan dengan kepentingan orang banyak. Maka kita bisa mencari ilmu, berpacu, melatih diri untuk maju. Sama seperti orang perkotaan yang menguasai dunia dengan segala kemajuan dan perkembangan di segala bidang. Hidup desaers. I am too, dari desa. []

Lovely Smile,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s