Matahari dan bebungaan. Mereka adalah sahabat akrabku. Ya, akhir-akhir ini kami adalah bagian yang tidak terpisahkan. Karena mereka lengkapiku. Mereka mensenyumiku, dan aku pun tersenyum bersama mereka. Sehingga ku lalui waktuku yang sunyi dengan rona bahagia tak terperi. Kadang memang sunyi.

Hari-hari di sini. Bagiku adalah kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu. Ketika aku beranjak remaja, baru tamat es em ka. Dan kesibukkan yang ku jalani dalam seharian adalah bersinergi dengan mentari serta bebungaan, untuk menserikan hari. Karena bagiku, tak ada pilihan lain untuk menikmati hari ketika itu, kecuali akrab dengan alam. Dan dalam beberapa bulan terakhir, aku bernostalgia.

Bebungaan di taman depan dan samping rumah sudah sering mekar. Bunga mawar berwarna pink, melati, dan bunga entah apa namanya yang kembangnya berwarna merah dengan mahkota kecil-kecil. Sedangkan batangnya yang pendek-pendek, penuh dengan duri-duri tajam. Mereka semua mensenyumiku, ketika sinar mentari tiada dalam sehari. Selain itu, juga ada tumbuhan bebungaan lainnya yang berjejer di sepanjang jalan dari bawah mendekati rumah. Mereka mulai berkembang dan tumbuh, sungguh menyegarkan mata memandang. Aku senang dan tersenyum, setiapkali menatap mereka. Makanya, ku buktikan dengan menitipkan bait kisah tentang mereka sampai di sini. Agar ketika, suatu hari kami berjarak, maka kenangan kebersamaan mekar selalu.

Di sini. Tiada hari yang ku lalui tanpa memperhatikan bebungaan dan mencari-cari keberadaan mentari. Dan dipastikan, mereka muncul bergantian, kalau pun tidak bersamaan. Seakan mereka tahu, tentang kebutuhanku terhadap mereka. Maka ini merupakan syukurku yang bertambah lagi, di sini. Di sebuah lokasi yang jauh dari keramaian. Bahkan cenderung sunyi.

Jauh…. Jauh sekali, aku berada kini. Tanpa hiruk pikuk. Alam yang tenang, teduh nan damai. Suasana yang membawaku sering takjub dan menerawang. Bahkan seakan ku duduk manis di atas awan, saat di sini, saking sepinya. Suasana yang bahkan pernah ku rindukan, saat ku jauh dan berjarak raga dengannya. Nah! Ketika kami erat berpeluk saat ini, ku tak ingin melepasnya lagi. Karena bagiku, ia adalah separuh jiwaku. Aku lengkap dengannya. Diriku genap bersamanya. Terima kasih Tuhan, untuk cinta-Mu pada citaku. Sungguh! Aku malu bila tak jua bersyukur dan mengingati-Mu saat ini. Meski di kesunyian alam. Karena dalam kondisi begini, Engkau sungguh dekat. Alhamdulillah.

Bebungaan. Mereka sering munculkan senyuman, selalu setelah hujan. Maka saat hujan bersiap turun ke bumi, ketika ia menyibakkan lembaran mendung di atas sana, ketika itu kegembiraanku bertambah. Apalagi ketika ku merasakan semilir angin mulai berhembus-menghembusi pipi-pipi ini. Sedangkan mentari perlahan sembunyi. Ketika itu, aku berteriak dalam hati. Untuk mensyukuri dan menyambut hujan yang akan berkunjung. Karena hujan akan menyalami bebungaan dengan senyuman. Senyuman yang ia titipkan pada batangnya, daun, kelopak, bahkan akar-akar yang menancap mencakar bumi. Dan senyuman hujan pun tertinggal di sana. Untuk selanjutnya abadi dan lengket selalu. Senyuman yang ku petik, ketika kuntum-kuntum bunga yang mulai mekar, menarik perhatianku. Bagiku, senyuman mereka adalah senyuman bagiku. Seperti inilah kedekatan kami. Alhamdulillah.

Matahari. Aku lebih senang memanggilnya ‘Mentari’. Sinarnya sering menyilaukan arah tatapku. Ketajaman sorot matanya mampu membutakan mataku. Kalau saja ku memfokuskan retina mata ini ke arahnya. Sinar yang akan menyerangku balik, lalu menelan separuh indera penglihatanku. Ah! Mentari memang sangar. Ia tak kenal kasihan, meski pada makhluk kecil nan lemah sepertiku. Inilah kelebihan mentari yang membuatku semakin terpesona padanya. Walau ia sangar, dengan sinarnya. Namun mentari tak pelit senyuman. Ia tersenyum saja dan selalu. Meski sudah berulangkali.

Mentari dan bebungaan, adalah lambang senyuman, tanda cinta Ilahi yang terlihat nyata. Mereka menggenapi hari-hari yang ganjil. Mereka membawa bahagia untuk hati yang dilanda nestapa. Pun mereka menyebarkan semarak keceriaan untuk jiwa-jiwa yang sedih dan gelisah. Sehingga tak patut kiranya, manusia tak belajar banyak darinya. Mereka yang tak pernah bicara, memang. Akan tetapi menghiasi bumi dengan keberadaannya. Walau melalui senyuman. Meski tanpa suara. Mereka sangat berkesan di hati. Terima kasih untuk ketulusan mengabdi, wahai para makhluk ciptaan Ilahi. Kami meneladani, kami mengambil pelajaran darimu. Kami mengagumimu, v mengagumi penciptamu. p

Ketika pagi hari. Saat mentari belum mensenyumi bumi. Karena siu

Lovely Smile,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s