Tanggal 9 Maret. Yapp. Menurut informasi, hari ini terjadi gerhana matahari total. Aku sangat ingin melihatnya. Namun keadaan alam di tempat tinggal kami pagi ini bermendung. Ditambah pula dengan sisa-sisa hujan semalam, menyisakan embun yang menyejukkan alam. Sedangkan mentari, tak kunjung menampakkan sinar.

Wahai mentari, engkau sinari alam dengan kemewahanmu. Engkau bahagiakan kami dengan senyumanmu. Engkau hiasi siang dengan cerah dirimu. Engkau ajari kami bagaimana menunjukkan bakti pada semesta. Dan kini saat engkau tiada, kami merinduimu, wahai mentari.

Mentari. Ku tahu saat ini engkau bukan tak bersinar. Bukan pula karena engkau tak mau menunjukkan diri. Akan tetapi, engkau sedang menjalani titah Ilahi terhadap diri. Untuk menjadi jalan perlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Wahai mentari, engkau sungguh taat, penuh ketundukkan dan tak pernah membantah perintah-Nya. Selalu begitu, tetap berbakti.

Meski sekali, engkau tak mau mementingkan diri sendiri. Selalu engkau ikuti arah peredaranmu. Perjalanan panjang berevolusi, untuk berbagi kehangatan. Kehangatan yang sampai ke kami, sangat memuaskan. Tak terlalu panas apalagi membuat kami kedinginan. Semangat mentari, mentari penuh semangat. Ku teladani engkau tentang semangat. Semangat yang menebar cerah. Cerah yang menjadi jalan hadirnya semangat.

Mentari namamu, sebuah planet di angkasa sana. Belum pernah kita berjumpa, karena ku ada di bumi. Sedangkan jarakmu dari sini, sangat jauh tak terjangkau.

Engkau adalah bola api yang membuatku jatuh cinta padamu. Entah mengapa? Aku pun tak tahu pasti. Bermula sejak ku mengenal arti cinta, maka engkau mengajariku untuk mengungkapkannya. Engkau memberiku ruang untuk menitipkan cinta padamu, saat cintaku mengawang tak bertepi. Maka engkau menyambutnya dan menyimpan rapi. Cinta yang engkau kembalikan padaku melalui senyuman sepanjang hari. Dan kemudian, engkau bagikan bebas kepada semesta. Ai! Selanjutnya, kapanpun aku merasa jatuh cinta, ku pandangi engkau wahai matahari. Dan engkau membalas dengan kedipanmu yang menyilaukan mata. Mata yang ku buka lebih lama, karena aku suka memandangmu. Dan lama kelamaan, kita pun menjalin persahabatan.

Aku bukan mentari. Namun sejak kita bersahabat, ku temukan inspirasi bersamamu. Inspirasi untuk mencerahkan dunia dengan merangkai senyuman. Senyuman demi senyuman melalui rangkaian kalimat. Meski singkat, walau berat, meski lambat, walau ga hebat. Namun aku terus melangkah dan melangkah. Untuk mensejajarimu yang terus berkeliling. Berevolusi. Dan akhirnya muncul harapanku untuk berkeliling dunia. Untuk menyaksikan indah ciptaan-Nya. Sepertimu yang memandangi bumi dari atas sana, terkadang curi-curi pandang dari balik awan. Maka aku pun ingin mengalami nuansa serupa. Bagaimana sensasinya, yaaa…? Maka ku beri nama pena dengan My Surya ; Mentariku. Engkaulah yang ku maksud. Engkau yang tersenyum padaku dengan tulus. Walau belum tentu ku balas senyumanmu padaku. Akan tetapi, pemberianmu berupa senyuman adalah tanda cinta darimu menurutku.

Saat pagi, engkau senyumiku, maka aku merasakan cintamu tersebar. Ketika siang engkau masih tersenyum, ku hargai senyumanmu penuh haru. Hingga sore menyapa, engkau masih sisakan senyuman terbaikmu. Senyuman yang sahaja, teduhkan dunia. Sempurna. Cukup. Sempurna. Karena sepanjang hari, engkau tersenyum. Maka layaklah kiranya engkau ku hargai sebagai lambang cinta yang abadi.

Mentari, terkadang ku menikmati senyumanmu dari bukit-bukit di sekitar rumahku. Terkadang dari pematang sawah di ujung desa, pun pernah di tepi pantai bersama bayu dan banyu. Tak jarang di bawah pepohonan rindang yang menghanyutkanku hingga terbawa arus mimpi.

Suatu sore, saat hari menepi menuju senja, perlahan engkau menyentuh lembut kulitku dengan sinarmu yang hangat. Engkau sampaikan padaku, "Sudah sore, hayo kembali." Aku terkesiap. Aku pun mengesakkan dudukku yang dari tadi asyik bersandar di bawah sebatang pohon. Kemudian berdiri, dan melangkah pulang. Sebelumnya, ku balas senyumanmu dengan senyum termanisku. Dan kuucap selamat jalan padamu. Untuk selanjutnya kita akan berjumpa lagi esok, bersama senyuman yang lebih cerah nan indah, bisikmu menghiburku. Engkau pun berlalu dari hadapanku. Sedangku mengiringi kepergianmu dengan eratnya hati yang engkau tarik pergi. Pedih. Perih untuk berpisah. Meski sementara.

Saat siang di tengah hari, terikmu terasa sangat. Memberi kami jeda untuk merasakan panas yang menyengat. Sungguh, duduk manis di bawah rindang pepohonan dalam kondisi begini, sungguh nikmat. Karena angin bersemilir sepoi, menepikan poni dan anak-anak rambut. Tidak lama. Hanya beberapa saat duduk bersantai, maka kita akan terbuai hingga lelap. Apalagi kalau berteman sekaleng camilan ringan dan air putih pelega dahaga. Maka surga dunia namanya, bisa dibilang. Susah untuk diungkapkan dengan kata-kata, untuk menggambarkan kenyataan yang terasa. Dengan mengalami langsung, maka kita mempunyai kesan yang memesankan tentang siang hari berteman terik mentari. Subhanallah, sungguh meneduhkan hati. Meski raga berpeluh keringat, bertetesan.

Dan saat ini, aku sedang tiduran sejenak di sisi jendela. Masih sama, dekat dengan pemandangan bernuansa hijau di luar sana. Tempat di mana aku menangkap senyuman mentari hampir setiap pagi. Jendela yang menghadap ke timur, sangat pas untuk menanti senyuman mentari pagi hari. Senyuman yang ku rindui sejak semalaman. Senyuman manis penenteram jiwa.

Lovely Smile,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s