Tanggal 5 Maret 2016, langkah kaki-kaki kita masih mengayun sempurna. Ayunan yang membawa kita pada tujuan. Meski pelan, kita terus berjalan. Walau lambat, namun kita tebarkan keyakinan. Bahwa senyuman menanti di hadapan, selangkah lagi. Ia memberi kita semangat tak tergantikan oleh apapun. Senyuman penuh harapan. Harapan yang kita jaga nyalanya. Nyalakan tekad untuk terus berjuang, maju dan berkembang.

Perjalanan ini, memang tak sebentar. Pun tak dekat, memang. Oleh karena itu perlu ketulusan, kerelaan, dan kedekatan hati dengan tujuan. Walau masih panjang waktu perjalanan. Semoga kedekatan hati memperpendek jarak tempuh perjalanan. Dan dengan demikian, kita tak pernah merasakan kelelahan saat melangkah. Akan tetapi menikmatinya adalah sebuah pilihan yang tepat. Ya, semangat kawan. Jalan masih panjang.

Perjalanan ini adalah perjalanan yang selama ini kita dambakan, bukan? Maka saat kita sudah menempuhnya dan menjalani dalam kenyataan, bagaimana bisa masih terucap keluhan? Bagaimana mungkin tak berhias kesyukuran? Berikanlah pujian kepada Tuhan, atas izin dan kesempatan yang Dia berikan. Semoga selalu diberi kelapangan dan keringanan dalam mencapai tujuan yang kita harapkan.🙂

Perjalanan ini, memang melelahkan. Namun kita perlu melangkah lagi, sebelum sampai di tujuan. Oleh karena itu teman, mari kita saling mengingatkan. Agar tidak ada yang tertinggal jauh, sementara yang lainnya sudah ada di ujung. Agar kita semua dapat tersenyum penuh kemenangan, ramai-ramai tentu lebih asyik, bukan?

Perjalanan ini adalah proses yang perlu kita tempuh, teman. Proses yang mungkin tidak selamanya menyenangkan. Akan tetapi dihiasi oleh rintangan bahkan halangan. Namun selagi kita punyai tujuan, insya Allah istiqamah ada dalam genggaman. Walau memang istiqamah itu tidak mudah, teman. Ai! Memang tak mudah. Butuh kesungguhan dan juga kendali terhadap ego dan kemauan. Pun kemampuan menaklukkan rayuan syaitan. Ya, selagi kita mempunyai keimanan, tak ada yang tidak mungkin. Di mana ada kemauan, maka di sana ada jalan. Apakah engkau mau meneruskan perjalanan ini, teman?

Perjalanan ini, adalah bukti keberadaan kita. Kita yang pernah ada di dunia. Dunia yang sementara. Sementara kita, bagaimana kita memanfaatkan kesempatan berharga ini, kawan? Agar tak ada penyesalan di ujung perjalanan kita. Namun senyuman mengembang sungguh menawan saat kita kembali melirik ke belakang. Untuk menyaksikan jejak-jejak langkah yang telah kita ukir. Jejak-jejak yang mungkin sebagiannya sudah hapus tanpa bekas. Namun semoga ada yang menjadi kenangan. Kenangan untuk mensenyumkan kita.

Perjalanan ini, adalah kita. Kita yang mungkin pernah tak menyadari, bahwa peran kita sangat dibutuhkan. Ya, karena sesungguhnya tiada yang hadir ke dunia ini tanpa arti. Arti yang membuat hidup orang lain menjadi berwarna-warni saat kehadiran kita. Dan kemudian, hidup kita pun berseri-seri bersama mereka. Mereka yang mungkin saja tak kenal kita, ataupun kita tak mengenali mereka. Namun diam-diam ada seberkas harapan yang beliau ukir di relung hati, di kesempatan awal kita berjumpa, meski tanpa tatap mata. Mungkin kita mengenal beliau hanya melalui sebuah nama. Atau dari cerita ke cerita. Bahkan hanya ada dalam dongeng. Akan tetapi, saat kita tahu tentang beliau, terlecutlah semangat kita untuk bangkit. Bangkit karena kita memperoleh energi kembali untuk melanjutkan perjalanan.

Perjalanan ini teman, memang bukan keramaian. Namun penuh kesunyian dan memang demikian kondisinya. Lalu, akankah kita masih mau menjaga kemauan untuk tetap mengayunkan kaki-kaki ini? Meski tanpa pujian, walau tiada sorakan penyemarak suasana. Apatah lagi tepukan tangan yang mengapresiasi langkah kita. Kalau pun semua ada, mungkin dalam waktu lama dan kita tidak mengetahuinya. Karena perjalanan ini diperuntukkan bagi sesiapa saja yang penuh ketekunan dan keikhlasan. Walau bagaimana pun cuaca alam, melanjutkan langkah adalah pilihan.

Perjalanan ini, memang bukan sebuah kemewahan. Ini anggapan sebagian orang. Namun bagian yang lain menyatakan bahwa kemewahan ada dalam proses menjalaninya. Terkadang tidak terlihat, namun terasa. Ia menjanjikan kebahagiaan tak berkesudahan. Dan tentu saja tidak selalu langsung, terkadang tersamarkan.

Perjalanan ini adalah menebar benih-benih kebaikan dalam detik-detik perjalanan. Perjalanan panjang yang bertaburan gerimis airmata, berbasah-basah peluh, ketakutan, kekurangan, bahkan kepedihan tak terperikan. Karena terkadang dalam perjalanan ini, ada duri yang melukai kulit kaki-kaki kita, kalau tak kita jaga ia dengan sempurna. Terkadang ada sembilu yang menggoresi lengan kita, saat tak kita tutup dengan pengaman sesungguhnya. Dan tak ayal, kerikil terperangkap di dalam ruang kata, bila saja kita tak cepat mengedip saat ia melayang di udara.

Dalam perjalanan ini, memang sering tak nyaman. Karena ada pula keadaan yang membuat kita harus bergerak lebih cepat, tak harus selalu melangkah saat berjalan. Karena dalam perjalanan ini ada juga berbinatang buas di sesudut sisi jalan. Dan ia siap menerkam untuk kemudian melenyapkan kita dengan perlahan. Ai! Sungguh perjalanan ini penuh cobaan, ujian dan pergolakan jiwa. Bahkan perang pemikiran tak luput di dalamnya. Meski raga tak bertemuan dengan sesama pejalan lainnya, semoga kita dapat saling menguatkan. Saling menandai jejak-jejak kita dengan kode rahasia, bisa juga. Ah, seperti detektif yaa. Namun demi keselamatan bersama, tentu menyenangkan.

Perjalanan ini, aku sangat menyukainya. Kesukaan yang membawaku menepikan poni lebih sering, saat keringat membasahinya dan menempelkannya di kening. Kening yang telah menerima sebait janji dari sekeping hati. Untuk menerima amanah terbaik kami. Ya, karena tanpa ia duga, kami telah mencoretinya dengan barisan misi. Supaya kapan saja kami bercermin diri, kami dapat membacanya lagi. Dengan begini, kami semangat lagi, tersenyum lagi, mau melangkah lagi. Dan berseri-seri menempuh waktu yang datang dan pergi. Seraya tak lupa mencoreti hari-hari yang kami lalui dengan tinta emas yang kami cintai, sepenuh hati.

Di perjalanan ini, kita mungkin pernah berjumpa dan bersalam penuh keakraban. Bahkan bersenyuman saling bertatap mata. Hingga jarak pun pernah menjauhkan kita. Sedangkan kita perlu teruskan langkah-langkah di perjalanan. Dan kita tak tahu kapan akan kembali berjumpa. Semoga, kita dapat saling mendoakan yaa. Karena doa adalah jembatan yang mempertemukan kita kapan saja kita mau. Jembatan ukhuwah.

Di jalan dakwah… Hidup ini semakin indah. Insya Allah sakinah, selamanya. Karena sering menjadi jalan yang mengingatkan kita kepada-Nya. []

Lovely Smile,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s