Tanggal 7 Maret 2016, mentari menampakkan senyuman terbaiknya siang ini. Ya, siang saat ini. Ketika ku berehat raga sejenak, setelah bergumul dengan aktivitas sejak pagi hari. Hihii, aktivitas biasa yang ku baktikan untuk membunuh sang waktu. Sekalian menepikan ingatan dari masa depan yang belum pasti. Pun meluruhkan ingatan terhadap masa lalu yang sudah tidak akan pernah terulang lagi. Maka, ku selami detik demi detik waktu, dengan sepenuh hati.

Sepagian tadi, hingga siang menyapa, terlihat mentari mensenyumi kami. Senyuman sumringah yang membuat bumi teriak kepanasan. Ai! Keringat yang mengguyur raga pun tak kalah penasaran. Ia muncul berkejaran, saling tanya menanya tentang dunia yang sungguh berbeda siang ini. Siang yang semarak, karena mentari bersinar cerah dan tersenyum sumringah.

Aku sedang asyik bersantai melepas lelah, sejenak. Lalu ku meraih lembaran bercahaya ini untuk berbagi sedikit dua dikit kisah. Kisah perjalanan yang berwarna-warni. Ada kalanya bahagia, lain waktu sebaliknya. Kisah yang ku untai dengan segera, sebelum ingatan ini melupakannya. Ya, agar tak lupa, maka aku suka merangkai kata. Rangkaian kata yang membentuk senyuman, senyuman bahagia harapku selalu.

Sebelum mampir di sini tadi, ku bawa wajah yang penat. Ku angkat kaki sebelah, untuk selanjutnya berselonjor di kursi panjang. Dan selanjutnya, kaki yang sebelah lagi mengikuti, lalu mereka saling bercerita. Bercerita tentang mentari siang ini. Mentari yang tersenyum ceria.

"Bagaimana bisa engkau tak memperhatikan senyuman mentari?" bisik sebelah kaki yang menanyai. Aku yakin itu suara kaki kiri. Karena ia memperoleh informasi dari kaki kanan, tentang sinar mentari yang tak kelihatan olehnya.

"Hiihii, iya. Karena tadi aku sembunyi di balik dedaunan. Karena engkau pun menghalangi arah tatapku ke atas sana," jawab kaki kanan sekenanya.

Memang, tadi dua kaki ku melipat dan saat itu ku sedang bersimpuh. Nah, karena keasyikan, kaki kiri pun terimpit lama. Sehingga ia tidak dapat menyaksikan suasana alam di luar sana. Dan ketika mereka sedang bercengkerama bersama saat jeda aktivitas, mereka saling berbagi suara.

Begitulah… Dua kaki ku yang akur selalu. Sepanjang aktivitas yang kami lakukan, mereka memang selalu begitu. Seiring selangkah, berjalan dengan gagah. Sering mereka saling mengalah, untuk keseimbangan langkah. Saat kaki kiri di depan, maka kaki kanan pun rela berada di belakang. Untuk selanjutnya, demikian selalu. Sampai akhirnya kami berehat sejenak. Maka pada saat itu mereka dapat bertemu, saling berbagi rindu.

Tidak seperti biasa, aktivitas kami hari ini berbeda. Ya, biasanya kami bercengkerama dengan jalanan panjang yang kami tempuh. Namun tadi, kaki-kaki kami saling bersimpuh, karena aktivitas kami lakukan saat duduk. Duduk manis, seraya menerbitkan sejumput harapan di hati. Aktivitas seperti ini yang kami laksanai, lagi. Tanpa perlu bergerak berlebihan. Tanpa perlu jauh-jauh berjalan. Apalagi sampai terpanggang sinar mentari yang sungguh terik, seperti siang ini.

Aktivitas seraya duduk manis, sangat ku sukai. Apalagi kalau di dalam sebuah ruang yang sejuk, bersama semilir angin bertiup sepoi. Lalu, ku selingi dengan menyapa beberapa orang sahabat yang jauh di mata. Namun sangat dekat di hati, walau kami belum pernah jumpa. Ah! Indahnya menjalani masa. Masa-masa bersejarah, bertaburan hikmah.

Siang ini, sebait hikmah yang ku petik adalah tentang wajah yang cerah. Wajah cerah adalah pembuka harapan. Wajah cerah adalah penebar kebaikan. Dan dengan berwajah cerah, maka kita akan menerima pencerahan balik. Seperti halnya sinar mentari yang sungguh cerah siang ini, aku ingin tersenyum sumringah, lalu berucap, "Alhamdulillah…"

***

Siang ini. Aktivitas yang ku lakukan adalah di tepi sawah. Bukan di pematang, ataupun di antara tanaman padi. Namun, agak jauh dari sawah dan dekat dengan ketinggian. Tepatnya, di bawah pepohonan, begitu…😉 Lalu, apakah sebenarnya yang ku lakukan? Bersama siapa? Berapa lama? Untuk keperluan apa? Bagaimana bisa?

Hahaa, jangan penasaran dulu, kawan. Karena aktivitas ku biasa saja. Yaitu memasang pagar-pagar dari bilah bambu, bersama ibu, sepanjang siang tadi. Tujuannya agar bagian tepi sawah kami menjadi cantik dan terjaga keamanannya. Dan tentu saja, kami melakukannya berdua karena biasanya ayah yang bekerja. Namun dalam waktu tahun-tahun terakhir, kondisi ayah tidak memungkinkan untuk bekerja normal. Maka kami sebagai duo wonder woman pun ambil alih kesempatan terbaik ini. Hitung-hitung olah raga wajah juga. Karena saat melakukannya, kami sering menertawai kejanggalan yang muncul. Termasuk saat suatu ketika, seikat bilah (bambu yang sudah dipotong dan dibelah) yang sudah siap pasang, mencebur ke dalam sawah yang kedalamannya lumayan. Hahay, karena kurang keseimbangan, akhirnya terjadilah tragedi itu. Huhuu… Lalu dengan bersusah payah, kami pun berjuang menariknya kembali ke atas, dengan bantuan seutas tali. Ai! Aku dan ibunda pun tarik tambangan di tepi tebing yang lumayan curam. Kenangan ini, membuatku tersenyum manis. Karena ku pikir lucu aja. Ditambah lagi sebelumnya menerima omelan bunda karena aku kurang hati-hati. Namun setelah tragedi ini teratasi, kami bersenyuman penuh arti.

Hikmah yang dapat ku peroleh dari aktivitas kami ini adalah :
1. Tetap semangat
2. Selalu ada solusi dalam berbagai situasi
3. Jangan terlalu serius, namun nikmati pekerjaan
4. Waktu adalah kesempatan terbaik, maka manfaatkan dengan sebaik-baiknya.
5. Jangan lupa semangat lagi, ingat Allah Maha Menolong, insya Allah urusan kita mendapat kemudahan dari-Nya
6. Do your activity heartfully, karena segala sesuatu yang berasal dari hati, akan sampai di hati pula. Percayalah.

Selanjutnya, syukurku hari ini adalah merasakan sejuknya semilir angin berhembus ringan di antara rumpun padi. Ya, sesiangan dan mentari bersinar cerah. Maka serta merta, keadaan alam menjadikan jiwa ini mensyukuri lebih atas nikmat yang tak terhingga. Di tambah lagi dengan melihat anak-anak tetangga yang berlarian di pematang sawah, untuk menikmati masa kanak-kanaknya yang luar biasa. Aku semakin senang saja. Terus, salah seorang dari mereka, remaja belia yang lebih besar dari semua, mengerjakan pekerjaan rumah berupa kerajinan tangan di atas pematang. Subhanallah, aku jadi terkenang masa sekolah menengah pertama. Moment yang seru untuk berlomba menuntut ilmu.

Aku syukuri hari ini, karena kami semua saling bercanda juga di sela-sela waktu. Kami tersenyum penuh arti dan tertawa bahagia bersama jiwa. Sungguh, semua tidak pernah ada dalam bayanganku semula. Bahwa siang hari kami akan sedemikian adanya. Namun, realita yang ada membuaiku dan menakjubkan. Lagi dan lagi, aku bersyukur. Karena kebahagiaan seperti ini hanya ada di sini. Bukan di sana atau di mana-mana. Dan aroma dedaunan yang tersapu bayu pun hanya ada di sini, di desa. Di pinggir sawah, di antara pepohonan yang menaungi kami dari terik sinar mentari dengan dedaunannya.

Oiyaa, siang hari yang terik. Saat anak-anak berlarian di sepanjang pematang sawah. Mereka ceria, mereka bersuka ria. Sedangkan kami tersenyum menyaksikan. Angin pun seakan mengerti yang kami rasakan. Maka ia pun bersemilir terus-terusan. Sehingga hanya sejuk yang kami rasakan. Padahal panasnya siang karena terik sinar mentari sungguh ada. Namun jauh dari kami.

Saat kami sedang asyik menyaksikan pemandangan anak-anak berlarian. Tetiba ada suara yang menyayat hati. Huwwwaaaaaa…. Seorang anak kecil terjatuh ke dalam sawah dan langsung menjerit histeris. Setelah sebelumnya ia ga mau dilarang oleh ibunya. Akibatnya yaa begityu, jatuh ke sawah, bermandi lumpur, beraroma lumpur dan menangis. Hihiii… Lucunya. Dan Pilo (namanya) pun dibantu oleh sang kakak. Dan kemudian langsung diamankan (dimandikan) di sumur yang tidak jauh dari lokasi keberadaan kami. Akibatnya, Dek Pilo kena omel mama nya pun. Heheee. Hikmah yang dapat ku petik adalah : Dengarkan nasihat mama dan jangan nakal-nakal lagi yaa Dek Pilo.

Hohoo.😀

Lengkap sudah kemesraan siang hari kami. Sempurna sudah aktivitas hari ini kami. Ditutup dengan terjatuhnya Dek Pilo ke sawah, maka selesai pula pemasangan pagar kami untuk hari ini. Karena azan Asar pun sudah berkumandang merdu. Selanjut, kami pulang untuk bersih-bersih dan rehat sore. Sampai berjumpa lagi mentari, esok hari bersama kisah yang lebih berwarna. Tunggu yaa keasyikkan hari-hari kami berikutnya. []

Lovely Smile,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s