Ibunda bilang, aku sudah terlewat sepuluh tahun dari beliau. Ya, karena dulu ibunda menikah saat beliau berusia 20 tahun. Sedangkan aku saat sudah berusia 30 tahun, belum menikah.

Ya, karena kita berbeda, Bun. Termasuk masa yang kita lalui. Di era Bunda dulu, usia pernikahan saat masih muda adalah biasa. Namun sekarang, aku termasuk di antara yang tidak dapat menikah saat masih muda. Dan ketika sudah beranjak menempuh usia di kepala tiga pun, masih belum juga. Lalu, apakah semua perbedaan ini membuat kita tak mudah mengingati-Nya? Karena pasti ada peran dan kuasa-Nya terhadap kita. Begini aku menenangkan hati, menerangkan lagi pikir, membuka cakrawalanya agar terbuka. Sehingga ku tempuh hari dengan lebih teliti. Ku lanjutkan perjalanan hidup ini, yang dalam ketentuan-Nya.

Ya, tentang hal ini, semisalkan jodoh, rezeki, dan mati. Kita perlu mengingati lebih sering lagi. Dan semoga ingatan kita kepada-Nya semakin meninggi, lagi dan lagi, saat kita menempuh proses dalam menjemput jodoh, rezeki, dan mati. Semoga di jalan yang Allah ridhai dengan penuh keberkahan. Sehingga hari-hari yang kita tempuh setelahnya adalah dalam ketenangan, sakinah dan penuh ketenteraman.

Untuk memperoleh akhir yang baik, maka kita perlu memulai dengan kebaikan. Saat kita mau kehidupan setelah pernikahan adalah dalam kebaikan, maka jalanilah detik-detik menjelangnya dengan cara yang baik. Termasuk urusan rezeki. Kalau kita ingin tenang dengan rezeki yang Allah titipkan pada kita, maka jemputlah ia dengan cara yang halal, agar berkah senantiasa menyertai hari-hari. Begitu pula dengan mati. Saat maut datang menghampiri, tentu tak bilang-bilang. Maka apakah kesiapan kita terhadapnya penuh dengan hal-hal yang baik?

Mari kita bertanya diri, introspeksi, dan semakin jeli mengenali hati. Karena semua sikap dan suara hati, akan diminta pertanggungjawabannya nanti, setelah kita mati. Haii, semoga semua ini kembali ingatkan diri, untuk terus melangkah di bumi, dengan sepenuh hati. Seraya berbakti, mengukir bukti, menitipkan bait-bait pesan dan inspirasi, buat semesta. Agar tak tersia-sia sisa usia kita ini.

Kita, aku, engkau dan sesiapa pun juga, tak ada yang tahu batas usianya. Apalagi yang dapat kita laksanai kalau sudah begini? Ya, banyak-banyak mengingat mati, tentu membuat kita semakin siap menghadapi. Kematian yang akan memisahkan kita dengan segalanya. Hanya amal yang akan menemani diri hingga alam kubur nanti. Saat kita sendiri, raga mulai bersatu dengan tanah, dia tak mampu apa-apa lagi.

Aku, hingga saat ini masih berjuang mengenal diri, menata hati, mendaya gunakan waktu agar berarti. Sampai di ujung 29 tahun usiaku kini. Usia yang mendekati 30 tahun, beberapa detik lagi. Yaph, tidak banyak waktu yang tersisa. Karena saat merangkai catatan ini, jam menunjukkan angka 22:34 di layar hapeku. Hape mungil nan cantik, ku syukuri dengan baik. Hingga ku manfaatkan ia sekali lagi untuk menulis suara hati.

Malam di sini. Saat mentari tak menunjukkan sinarnya sama sekali, di bumi keberadaan kami. Namun yakinku, nun, di bagian bumi lainnya di sana, ia sedang tersenyum cerah, untuk menebarkan senyuman terbaiknya. Dan aku yakin, kegelapan ini adalah sarana yang istimewa untuk berbagi.

Iya. Saat ini aku sangat ingin berbagi. Berbagi sekelumit uneg-unek yang semoga tak bikin ene9. Namun ada berisi ingatan tentang kita, di hari-hari nanti. Karena detik ini yang akan berlalu, tidak akan pernah kembali lagi. Maka, kiranya di angka usia 29 yang akan berlalu sebentar lagi, ku lepas ia dengan senyuman. Senyuman sepenuh hati, dengan hati tegar. Setegar karang dan seputih melati. Dan ku sambut angka tiga nol dengan sejumput harapan menemani. Harapan bahwa semua impian dan cita terbaikku, dapat terealisasi. Salah satunya adalah menjadi istri, ibu, anak, kakak, adik, saudara, sahabat, yang semakin berbahagia dalam hari-hari. Karena bertambahnya syukur dan bertaburan sabar menempuh hidup ini.

Hidup yang hanya sekali, tak akan terulang lagi, setelah ia pergi. Hidup yang berwarna-warni, semakin penuh misteri, ku perhatikan. Karena sering ku membuktikan akan hal ini. Hidup yang penuh kejutan, terkadang tak terbayangkan sama sekali. Namun menjalani…. mensyukuri… menyabarkan diri… adalah pilihan saat ini. Dengan tak henti berdoa, berusaha, tawakkal dan terus berkreasi, berinovasi. Sebab, ada yang kita tak dapat menentukan, namun kita perlu menjalankan.

Akhir-akhir ini, aku suka takjub dan semakin penasaran. Saat hari ini ada hal di luar dugaan, lalu apalagi esok yang akan menjadi kebahagiaan? Ketika saat ini senyuman kembali mengembang, bagaimana dengan esok yang belum pasti? Sehingga berprasangka baik kepada-Nya dalam detik waktu, semoga kebaikan demi kebaikan menyusuli hingga nanti. Ah, aku kagum sekali dan sekali lagi takjub akan rencana-Nya untuk diri ini. Saat rencanaku sejengkal, ternyata Allah Yang Maha Kaya berencana lebih dari sejengkal, untukku. Maka, bagaimana mungkin, aku tak mengingati? Bahwa I am nothing without Him. And my self is zero.

Sekelam ini, tanpa cahaya lampu karena mati. Maka tak terlihat apapun di sekeliling. Kecuali kedipan dari lembar bercahaya yang ada di hadapanku. Sedikit cahaya yang semoga dapat menerangi. Ku usahai meneruskan merangkai kalimat, meski tak tahu bagaimana meneruskannya. Karena aku hanya ingin berada di sini. Untuk beberapa waktu ke depan. Sampai ku benar-benar tak mampu lagi. Hihiii.

Di kesempatan terbaik ini, ada beberapa hal yang ku syukuri. Di antaranya adalah berada sangat dekat dengan keluarga. Ya, ada ibunda, ayah, Onna, dan duo kurcaci yang semakin rumpi dari hari ke hari, serta kak Ipar. Sedangkan Oddy dan Own memang jauh di mata, namun dekat di hati. Senantiasa.

Dalam kebersamaan kami ini, sebentuk cinta bertaburan seindah pelangi, di relung hati. Dan ku persembahkan sebait puisi pada semua yang dekat di hati, walau kita tak bersama kini. Pun buat beliau yang dekat di sini, karena membuatku sering berseri. Alhamdulillah, senangnya hati.

***

Sepoi angin menggeluti dedaunan pagi hari,
kita duduk di sini, menyeruput sarapan,
nikmat sekali,
indah rasanya,
manis bentuknya,
bercampur semangkok cinta ibunda,

ku syukuri semua ini,
karunia Ilahi,
tidak terbeli,
hadirkan senyuman menawan hati,
berbisik suara jiwa ini,
untuk memberi bakti sekali lagi,

kami bereuni,
bercerita tentang masa bayi,
saat tak mampu berdiri apa lagi berlari,
lalu terbit kehangatan yang sudah lama hilang,
berkat seuntai komunikasi,
sepagi ini,
kami berseri-seri,
bertabur sinar mentari menemani,

Fa biayyi aalai Rabbikuma tukadzibaan!
wahai diri,
maka tersenyumlah lebih cerah,
secerah sinar mentari.

***

Terima kasih kami untuk semua. Semoga abadi kisah kita, selamanya. Walau tak selalu bersama, namun kita selalu bercengkerama dalam nostalgia. Sampai nanti, senja tak lagi merona jingga dan mentari tak lagi bersinar. Kita tetap meneruskan segala cita, demi cinta yang sesungguhnya. Keep istiqamah, lillah, billah, ilallah.

0_0
~~~
"Good Bye 29 and Welcome 30"
~~~
0_0

Lovely Smile,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s