Mentari, mengapa mentari? Padahal masih banyak ciptaan Tuhan di semesta raya? Ada bulan, bintang, bumi, langit, planet-planet, dan sejenisnya, angin, awan, serta banyak lagi. Lalu, bagaimana bisa hanya mentari yang bisa engkau simpan di sekeping hatimu?

Aku masih tak habis pikir. Walau begitu, ku senyumi juga wajah tirusmu. Wajah ayu nan sering bersemu merah saat ku pandang. Menempelkan dua telapak tanganku di kedua pipimu, lalu ku tepuk-tepuk lembut. Sesekali menekan puncak hidung bangirmu, yang suka berhias titik-titik air. Atau, tak jarang ku tempelkan kepalan tinjuku di keningmu sepenuh cinta. Ah, tak bosan ku mengerjaimu, malah. Sampai engkau terpingkal-pingkal tertawa bahagia, saat kita bercengkerama di ujung hari.

Seperti biasanya. Kebiasaan kita adalah melepas mentari hingga lenyap tak berbekas. Karena engkau suka mentari, dan mensenyuminya berulangkali. Nah, saat kita berdekatan seperti ini, sesekali engkau mengedipkan matamu ke arahku. Lalu melirik-lirik bergantian. Sesekali ke arahku, lain kesempatan ke arah mentari. Mentari yang balas menyilaukan matamu. Namun engkau tak mempedulikannya. Karena mentari adalah jiwamu, kepingan hatimu. Sedangkan aku, membalas lirikanmu dengan keusilan-keusilanku. Saat kita dekat sangat rapat, maka wajahmu yang menjadi sasaranku. Akan tetapi ketika kita agak berjauhan, ku balas mensenyumimu, penuh arti, beribu makna. Karena aku cemburu, saat engkau mengakrabi mentari, seperti itu.

Ya, aku cemburu. Karena bagiku, engkaulah mentari di hatiku. Namun aku bukanlah mentari yang sangat engkau suka. Karena bagimu, sudah ada mentari yang memenuhi relung hatimu. Mentari yang tak lelah menebar sinar, pada seluruh alam. Namun tahukah engkau bahwa, kehangatan untuk ku yang engkau pancarkan, sudah membuatmu menjadi mentari di hatiku. Wahai, adakah engkau menyadari semua?

***

Aku semakin yakin saja, setelah ku menyadari. Bahwa keberadaanku di sisimu, bukan seperti saat engkau bersamai mentari. Bahkan biasa saja. Namun tahukah engkau, bahwa hanya di dekatmu ku merasakan hangat mengalir di dalam rongga dadaku. Ya, saat desirnya membuat ragaku panas dingin seketika. Dan wajahku tetiba berubah auranya. Mungkin pipiku sedang merona, kalau saja ku dapat memandangnya segera. Beberapa detik setelah kita bersapa.

Semakin dekat jarak kita, maka semakin jelas perubahan ini terdeteksi. Ya, sekeping hatiku yang mulanya tenang dan biasa saja, mendadak bergetar dalam diam rupaku, pasi. Aku memang tersenyum, namun saat menarik dua ujung bibir ini, rasanya beratt sekali. Seakan ada daya yang mengatupkannya lagi, tak memberiku ruang untuk berekspresi lebih.

Dan selanjutnya aku hanya akan tertunduk, menghitung pepasir di atas pijakanku, atau merapikan rerumputan yang tersibak oleh langkahku. Ketika aku bertemu denganmu, saat dalam perjalanan kita. Sungguh, ku tak mampu menyeimbangkan gejolak di dalam jiwa dengan yang tampak nyata. Maka, bekunya hatiku pun melumer… saat didekatmu. Ia mampu luluh, mencair, mengalirkan segenap rasa, padamu.

Sekeping hatiku, memang begitu. Tak mudah baginya menerima begitu saja, sesiapapun yang memasukinya. Karena dinding-dindingnya sudah terlalu banyak bertambal warna-warni dunia. Pun di sudut-sudutnya telah pernah disinggahi oleh aneka rasa. Ada asam, pahit, getir, manis, hambar, bahkan asinnya kehidupan. Sehingga ia tak serta merta mudah mengecap semua rasa yang datang padanya. Karena sudah begitu banyakkah rasa yang ia alami?

Termasuk tentang suka, cinta, kagum, harap, sedih, duka, bahagia dan sejenisnya. Kehadiran semua itu sungguh tak mudah ia raba. Karena sudah seringkah ia berbaur dengan semua? Sehingga kekebalannya terasah tentang mereka? Atau karena kadarnya meningkat dari yang pernah ia rasa? Sehingga membuatnya berkata, "Semua ada untuk menguatkan kita." Termasuk sikapmu padanya, sekeping hatiku yang bertabur cemburu. Ketika perhatianmu pada mentari begitu berlebih, dari pada ke dia. Ai! Cinta segitiga antara aku, engkau dan mentari seperti ini, kapan berujungnya? Ya, mentari yang bersahaja, perkasa, istimewa dan sangat setia.

Mentari, darinya kita belajar tentang cinta yang sesungguhnya. Cinta yang tidak kenal waktu, tak meminta balasan, namun beraikan cinta selamanya… Bahkan tanpa mencemburui, ketika objek cintanya berpaling darinya. Namun ia masih menebarkan cinta, karena percayanya, semua adalah untuknya. Malaikat-malaikat pun tahu, meski ia tak pernah bicara tentang cinta.

***

Senyuman mentari tak seperti biasanya, pagi ini. Setelah sekian lama ku perhatikan dengan saksama. Ya, tidak seperti hari-hari biasanya yang penuh kemeriahan. Pagi ini mentari berselubung kabut tipis. Awan gemawan pun seakan hendak menangis, karena berat yang ia rasakan. Berat untuk berpisah dengan mentari. Apalagi untuk berjauhan raga barang sehari. Tak hanya awan gemawan, angin pun enggan bertiup sepoi. Sehingga pagi ini alam tampak sunyi, suasana mencekam, dan hanya kokok ayam jantan bersahut-sahutan yang memperindah suasana. Sedangkan detak jantungku pun turut menyesuaikan dengan semesta. Ia yang berubah seketika, tak banyak bergerak. Namun sesekali saja berdenyut, hebat! Yang menandakan bahwa ia masih ada dan bersamai raga. Untuk selanjutnya, hampa ku rasa.

Dengan langkah gontai dan separuh rasa yang ada, aku berusaha bangkit. Berpegangan pada apapun yang ada di dekatku, lalu melangkah. Sehingga terlihat seperti dipaksakan. Memang begitu adanya. Karena aku terluka, jiwaku berduka. Sebab? Mentari tak jua menampakkan sinarnya. Sedangkan rindu yang meletup-letup tak dapat ku terpa. Aku lelah… semakin lelah dan tak berdaya, dengan kondisi seperti ini. Sehingga kekuatan ragapun meluruh perlahan. Tak ada mentari yang tersenyum, membuatku tersiksa.

"Cinta mentari yang terlukis melalui senyumannya, aku damba saat ia tiada. Sempurna. Beginikah rasanya mencintai ketiadaan?" lirihku diantara langkah-langkah tertahan. Langkah yang masih ku ayunkan meski pelan. Karena ku yakin, di depan sana, beberapa saat lagi, aku dapat menatap sinar mentari. Lalu hanyut bersama kehangatan yang ia pancarkan melalui senyumannya. Senyuman yang mengulum seluruh wajahku, pertama kami bersapa (lagi) dan aku rela. Mentari yang tak bicara kata, namun mengalirkan kekuatan rahasia melalui pori-poriku. Aku masih punya harapan. Aku menjaga harapan ini, harapan untuk membersamai senyuman cantikmu, wahai mentari di hatiku. Engkau yang ku tunggu selalu, berteman sendu. Seperti langit pagi ini.

Wahai engkau, mentari di hatiku. Dapatkah engkau menemuiku, dalam waktu dekat? Lalu berbisik pelan di dalam doa-doamu, untuk memantabkan ikhtiarmu. Sedangkan aku menyambutmu penuh cinta. Seperti mentari yang engkau kagumi setiap hari, aku menemanimu. Dan selamanya, kita berdua menyaksikan mentari yang tersenyum di angkasa sana. Ya, di hari-hari nanti, esok, lusa, hingga raga kita memisah dengan jiwa. Kita semaikan senyuman secerah sinar mentari, untuk semesta. Sebagai bukti cinta kita, cinta mentari.[]

Lovely Smile,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s