"Harapan adalah kehidupan. Impian adalah penggugah diri agar bangkit, berdiri, dan berlari menjemput harapan."

***

Selamat memasuki usia ke-30 tahun my dear sister.
Haaii, bagaimana kabarmu saat ini, cantiik? Apakah masih jomblo atau sudah berkeluarga?

Ah, aku sangat antusias dan meneriakkan padamu, bahwa hari ini engkau masih jomblo, khan. Ahahaaa. Selama 30 tahun terakhir, sendiri tanpa memiliki pasangan, adalah engkau. Makanya, sering ku melihatmu sendiri ke mana-mana. Kesendirian yang membuaimu, hingga tanpa terasa, sudah 30 tahun usiamu kini. Hihiiii.😀

Hy, Dear… Di usia yang sudah kepala tiga seperti ini, apakah engkau masih mau sendiri? Aih! Lagi dan lagi ku lihat barisan gigimu menyembul rapi. Ini menunjukkan bahwa engkau tak terlalu peduli. Apakah masih akan sendiri seperti ini, atau sudah ada yang menemani? "Ssyuuut…! Jangan bilang-bilang. Lihat saja nanti, ada surprise untukmu," bisikmu di telingaku. Bisikan yang membuatku terperangah. Karena selalu saja begitu. Engkau bilang padaku akan ada kejutan untukku. Lalu mana buktinya, mana dear?

Hari ini, engkau mengawali usiamu yang ke-30. Ini berarti bahwa engkau harus melakukan hal yang sangat berarti, mengerti? Ku lihat engkau manggut-manggut mengerti. Dan sekilas ku lihat senyuman menebari wajah tirusmu. Wajah yang setia menemanimu untuk mencerminkan suasana hati.

Wajah bulat dan warnanya kecokelatan. Wajah yang sering bertaburan titik-titik air di puncak hidungmu. Wajah tenang, ini panggilan teman-temanmu padamu saat masa-masa sekolah dulu. Karena sangat jarangnya engkau berekspresi. Jangankan tersenyum, bicara saja engkau tak sudi. Sehingga dalam diammu, engkau memperhatikan lingkungan. Dan sesekali bersamai beberapa orang teman duduk-duduk di jam istirahat.

Nah! Kebiasaanmu yang masih ku ingat saat kita sekolah dulu adalah, nongkrong di ruang perpustakaan selama jam istirahat berlangsung. Baik untuk baca-baca buku, atau mengerjakan tugas sekolah. Ah! Engkau kuper sejak dulu. Namun satu hal yang membuatku bangga dan bahagia menjadi bagian dari dirimu adalah prestasimu itu. Yuhuuu. Kita adalah langganan juara satu di kelas. Akan tetapi kelebihan di bidang akademik, tak menjamin kita sukses pula di bidang lainnya. Buktinya? Saat ini kita masih sendiri. Tanpa pasangan hati, atau kekasih pujaan. Olalaaa… apatah lagi idola. Karena kita terlalu asyik dengan dunia kita sendiri. Dunia yang tidak semua orang tahu, bahwa ternyata kebahagiaan kita ada di sini. Ya, saat kita bereuni dengan mimpi-mimpi.

Oiiya, membahas tentang mimpi denganmu di kesempatan terbaik ini, kiranya menarik yaa. Yuuk, kita kulik sejenak.

Aku masih ingat. Engkau menggenggam erat impianmu sejak dulu. Impian yang sering menari-nari di ruang pikirmu saat belajar. Impian yang menarik-narikmu untuk bangkit lagi agar semangat. Impian yang membuatmu senang melakukan kebaikan. Kebaikan yang engkau biasakan dan menjadi bagian tak terpisahkan darimu. Kebaikan yang engkau lakukan, mungkin tak terdata jumlahnya. Namun hanya dapat diketahui dari ekspresimu. Ya, engkau bahagia dan tersenyum saat ada yang senang bersamamu. Maka pada saat itu kebahagiaanmu berkembang pesat. Ia bertumbuh subur dan berbuah lebat. Kebahagiaan yang merubah diri menjadi pohon-pohon ingatan. Bahwa ia perlu senantiasa ada, dalam berbagai kesempatan terbaik.

Dear me. Aku tahu engkau sangat suka melihat kebahagiaan memancar di wajah orang-orang yang engkau temui. Kebahagiaan yang mengalir melalui untaian senyuman. Senyuman yang membuatmu sangat menyukainya. Sehingga engkau pun tersenyum, saat ini. Tersenyum karena engkau melakukan sebuah kebahagiaan lagi saat ini, yaitu berbagi.

Yaph. Saat ini engkau sedang berbagi. Berbagi suara hati untuk diari. Diari yang selama sepuluh tahun terakhir ini, menjadi bagian tak terpisahkan dari harimu. Hari-hari yang berlalu dan kemudian tak datang lagi. Lagi dan lagi, engkau berjuang sekuat tenaga agar hari-harimu abadi. Ya, abadi karena engkau menulisi kisah bersamanya. Dan kemudian engkau membacanya pada suatu hari, nanti. Jauh, jauh hari setelah engkau meninggalkannya di lembar diari. Diari yang membuatmu tersenyum lagi, dalam berbagai kesempatan. Ai! Engkau pernah memimpikan hal ini, dulu, dulu sekali. Bahkan sebelum kita mengenali diri kita ini. Dan kini… sudah 30 tahun usia kita, happy yach, buat Yani, my self. Diriku sendiri. Selamat yaa, have fun and share smile, meski jomblo. Hihihii.

Dear Yani. Walau saat ini engkau masih sendiri, di usia yang meninggi. Namun ku yakin engkau sedang tersenyum sendiri membaca surat cinta dariku, ini. Senyuman yang memancar pada wajahmu menjadi berseri-seri. Wajah yang dulu tanpa ekspresi, bahkan tak jarang bermuram. Entah apa yang engkau pikirkan dengan wajah demikian, aku lupa akan hal ini. Mungkinkah karena beratnya beban hidup ini, Yan?

"Ah, sudahlah… semua masa lalu. Jangan ungkit-ungkit lagi. Dan ku mohon, jangan berisiiikk!" sergahmu padaku yang coba mengusilimu.

"Yihihihii, pardon me, dear. Bukan ku maksud membuatmu esmosi begini. Namun karena kasih dan sayangku padamu tak bertepi, wahai diri. Maka ku upaya menemukan cara untuk membuatmu berbahagia di hari ini. Hari pergantian usiamu. Usia yang baru bagimu. Semoga harapanmu menjadi nyata, tak lagi ilusi. Termasuk impian untuk menjadi seorang istri bagi suami terbaik titipan Ilahi. Ya, karena dia yang akan menjadi bagian dari dirimu nanti, adalah amanah. Maka, bersiaplah wahai diri, pantaskan diri supaya engkau layak mendampingi seorang laki-laki yang tentu saja seimbang dan sebanding denganmu. Karena jodoh adalah cerminan diri," begini pesan dan nasihatku untukmu di hari bahagia kita ini, sebagai ingatan.

"Iyes, siiaap! Bantu aku yaa, dengan support terbaikmu," serbumu padaku. Karena kita adalah satu, saling bahu membahu.

Lalu, kita semaikan seberkas suara untuk seseorang yang belum kita tahu. Suara sekeping hatinya, yang kita bawa saat ini.

"Wahai calon imam kami, apa kabarmu? Semangat selalu, yaa… Kami di sini rindu padamu. See you on our best day to meet. Untuk bersatu, melangkah bersama menuju hari-hari penuh makna. Entah berapa usia kami saat itu. Namun pastinya lebih dari 30 tahun, tentu. Huhuu…"

***

Beberapa saat kemudian…

#Ngelapuncakhidung. #Tersenyumharu. #Bundadisampingku. Beliau adalah jalan bahagiaku. Karena saat ini, kami bersama. Di sudut kamar hati ku selipkan surat ini, buat diriku. Tersenyumlah lebih indah, wahai sahabatku.

Senyumanmu adalah senyumanku.
Bahagiamu adalah bahagiaku.

Dear me. Udah dulu yaa… suratku, berhubung ibunda sudah datang. Dan tadi aku menulis untukmu di sini, di sela-sela waktu menanti beliau tiba. Sampai jumpa, dalam surat cinta kita setahun lagiik. Semoga engkau sudah berdua, iyyaaa.

Siapapun engkau setelah saat ini, tetap semangat menebar senyuman secerah mentari. Dan yakinlah, yakinku. Together we can!

Lovely Smile,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s