Kita. Ya, kita. Engkau dan aku. Kita yang satu, tiada duanya. Kita yang bertemu, karena pernah berpisah. Kita yang saling mengharumkan kalbu, mesti begitu.

Engkau, lengkapiku. Bersama seberkas kertas yang telah berisi catatan perjalananmu. Bersampul ungu dan tinta ungu. Engkau menunjukkannya padaku, di awal-awal kita bersitatap haru. Aku selipkan jemariku di antara lembarannya, lalu ku buka satu persatu. Lembaran yang segera kita pandangi sebelum ku baca. Dan ku lihat pipimu bersemu merah jambu, ketika ku asyik melahap lembar demi lembar kisahmu. Kisah yang aku suka, meski bukan aku yang ada di dalamnya. Karena ku merasa, aku pernah mengalami pula. Hampir mirip dengan kisahku, kisah yang engkau susun rapi itu.

Kita bersenyuman kembali, sebelum ku baca lembar berikutnya. Dan saat ini, kita sampai di lembar kosong untuk kita tulisi bersama. Lembaran yang beberapa saat lagi akan berisi kisah tentang kita. Kisah bahagia, berwarna kelabu oleh dukacita, berwarna putih dan terkadang bening seperti air. Kisah yang selamanya menjadi wakil dan perantara untuk menjelaskan pada dunia, bahwa kita pernah ada bersamanya. Dunia yang mungkin tidak akan menyadarinya, kalau kita tidak merangkai kisah kita. Yah, karena banyaknya insan yang berada di dunia, tentu saja mereka ambil bagian di bidangnya masing-masing. Maka begitu pula dengan kita. Di jalan ini, kita saling menguatkan. Di tempat ini, kita bersinergi. Dalam berbagai situasi, bagaimanapun cuacanya.

Kita bersenyuman kembali, saat sebuah paragraf cantik mulai kita susun. Aku mensenyumimu dan engkaupun begitu. Senyuman yang memberi kita jeda sebelum beralih ke paragraf selanjutnya. Senyuman sebagai tanda, bahwa kita melakukannya dengan sepenuh jiwa. Bukan dengan hampa, apalagi tanpa makna. Senyuman yang memang kita persandingkan, karena ternyata engkau pun mempunyai misi yang sama denganku. Yuuhuu, makanya kita dipertemukan. Sungguh asyik, bukan?

Senyumanmu dan senyumanku yang menetes di sini, bukan untuk kita saja, akan tetapi kita prasastikan buat sesiapapun yang kemari-kemari. Semoga senantiasa abadi, meski kita sudah tak di sini. Dan senyuman yang tertinggalkan, dapat menjadi hadiah terindah untuk kenang-kenangan bagi semua. Karena hanya ini yang dapat kita beri, sebagai tanda cinta dari hati.

Ketika hari ini kita tersenyum, maka semoga ia mengingatkan kita lagi untuk merangkai senyuman esok hari. Sebagai wujud syukur pada Illahi, dan kesabaran dalam menjalani hidup ini. Hidup yang nuansanya berwarna-warni. Karena tidak semua hari serupa. Kadang kita alami suka, di hari lain sebaliknya. Siapa sangka. Siapa menduga. Dan tidak ada yang menjamin, bahwa kita akan gembira selalu. Namun ada corak ragam yang terkadang membuat wajah ini kelu. Hingga tak dapat bibir memekar, hanya bisu. Huhuuu… Namun semoga tak lama yaa, cukup sebagai selingan saja. Untuk selanjutnya kita mau tersenyum lagi, pada dunia. Pada semesta, kita buktikan bahwa kita ada untuk menebar bahagia.[]

Lovely Smile,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s