Terkadang bahkan sering, kita hampir tak menyadari. Bahwa sebenarnya di setiap lini kehidupan kita, ada kejutan-kejutan terindah untuk kita. Kejutan-kejutan yang apabila kita jeli melihatnya, maka kita akan terlonjak gembira, lalu berkata, "Aha! Ini sungguh hebat. Luar biasa". Kemudian kita akan lebih tersulut api semangat, untuk meneruskan kerja-kerja kita. Karena kita yakin, di depan sana ada kejutan-kejutan berikutnya. Kejutan-kejutan yang membuai dan kita takjub terheran-heran. Kejutan-kejutan penuh keterpesonaan. Sebagai hadiah dan kado terindah untuk kita. Maka kita semakin dan semakin bergairah menempuh detik masa. Kita semakin bertabur harapan, bergelimang cita dan kemewahan pikiran positif.

Terkadang bahkan sering, kita sangat tidak mudah menyadari. Bahkan sampai pada tahap lupa. Yah, bahwa sebenarnya ada hikmah dalam setiap tragedi, ada berkah pada musibah yang terjadi. Hanya saja, kita kurang memahami intisarinya. Karena apa? Karena kita terlalu asyik dengan kemayaan dan kesemuan yang melenakan. Padahal kalau saja sebentar kita mau berhenti, lalu mendata hati, menanya diri, maka akan terjawab berbagai problema yang terjadi. Untuk mendewasakan kita, mengajarkan kita, dan membaikkan kita di hari nanti.

Terkadang bahkan sering, kita terlalu percaya diri. Dengan begitu, sangat jarang kita mau berdiskusi. Padahal menukar pikir barang sekali tentu berarti. Karena dua kepala atau lebih, akan menghasilkan keputusan terbaik dibandingkan dengan sendiri. Ya. Lagi dan lagi tariklah ulur informasi dengan mendiskusikannya.

Terkadang bahkan sering, kita menepis segala kemungkinan. Akibatnya? Kita tak mau ambil bagian. Hanya menurutkan kemauan dan keinginan sendiri, padahal tak ada yang tak mungkin, bukan? Ah, lagi dan lagi, kita melewati hari tanpa reaksi. Lalu, bagaimana perubahan akan kita alami? Kalau saja kita tak mau berubah, dari dalam diri kita terlebih dahulu. Berubah untuk memungkinkan.

Terkadang bahkan sering… waktu berlalu tanpa memetik makna bersamanya. Lalu bagaimana kalau kita sudah sampai di ujung usia menuju mati? Masihkah kita sempat tersenyum, walau sejenak. Kalau ternyata masih ada yang belum rela kita pergi?

Terkadang bahkan sering, kita lupa akan hal ini.

Lovely Smile,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s