Mentari masih belum beranjak dari lelapnya, meski jarum jam sudah menunjukkan pukul enam pagi. Mengapa? Ada apa dengan Mentari hari ini? Padahal biasanya, jam segini ia sudah menebarkan senyuman manisnya pada Bumi, berlirikan dengan Bayu, dan tentu saja sesekali mencandai Awan. Pemandangan yang berbeda ini, sempat mencuri perhatianku.

"Bagaimana Mentari belum muncul, Bay?" bisikku pada Bayu yang asyik menyalami dedaunan.

Bayu hanya menggeleng, dan kemudian melanjutkan aktivitasnya. Tanpa bicara, tak ada suara. Ah, Bayu pun bisu. Tidak seperti biasanya. Hari yang aneh, pikirku.

Tak mau berlama-lama dengan rasa penasaran, aku pun melangkah. Sejenak berhenti di menit ke lima, aku bersapaan dengan Bumi. Bumi yang sangat dekat denganku, kini. Bumi yang setia, rela menopang tirus tubuhku saat berjalan. Bumi yang sangat ku kenal dengan baik. Bumi yang merupakan salah satu sahabat terbaikku. Bumi yang tak terpisahkan denganku. Bumi yang menjadi belahan jiwaku. Bumi yang akan memelukku erat dan tak terlepaskan, nanti… nanti… ketika jiwaku pergi ke asalnya. Maka Bumi (semoga) bersedia menerimaku lagi, sebagai sahabat terbaik. Bumi yang sangat baik padaku, maka ku baiki pula ia dengan caraku, semampuku. Terkadang ku tempel-tempeli wajahnya dengan bebunggaan berwarna-warni cantik di kebun. Terkadang ku sisipkan batang-batang anak cabe rawit di ketiaknya. Bahkan tak jarang ku bersihkan rerumputan hijau yang menyemakinya. Karena aku sayang Bumi ku, maka ku rawat ia dengan sederhana. Sebaik ku mampu. Yah, Bumi ku sayang, Bumi ku tercinta.

"Bum, lagi apa? Eiyha, hari ini Mentari belum hadir, Say… Ada apa yaa?", tanyaku.

"Ini, aku sedang bergerak-gerak berotasi, menepis dingin tubuh ini. Benar, karena Mentari belum datang, aku kangennnn padanya. Karena sampai detik ini, belum dapat ku bercakap dengannya. Sudah ku coba hubungi henpon Mentari, namun masih nada sibuk teruzzz," Bumi mendadak centil, menjelaskan kegagalannya berkomunikasi dengan Mentari. Aku mengerti. Karena Bumi dan Mentari pun sahabat yang awet. Mereka saling menyayangi, sejak mula jadi.

***

Sedangkan di atas sana,
Mentari yang sedang berusaha bangkit, pun tersenyum.
Kami saling merindukan.

[]

Lovely Smile With,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s