Terkadang kita perlu keluar dari diri kita sendiri. Untuk selanjutnya bergabung dengan realita yang ada. Membaur dengan alam, bersatu dengan keramaian. Karena tidak hanya kita yang ada di dunia ini. Namun masih banyak di luar sana penduduk bumi yang membuat dunia ini lebih berwarna.

Tentu saja.

Ya. Karena tak cukup hanya engkau dan aku saja. Akan tetapi, ada dia, mereka, di sana yang perlu kita rengkuh pundaknya. Agar ia kembali terkuatkan saat melangkah. Ada dia dan mereka yang perlu kita bimbing jemarinya, agar ia tak merasakan kelemahan berlebih dalam perjalanan. Ada dia dan mereka yang memerlukan senyuman manis kita, agar harapan hidupnya bersinar lagi. Pun ada dia dan mereka yang berbeda banyak hal dari kita, untuk kita pahami dan kita sayangi. Karena kita tak pernah sendiri. Kita ada untuk bersama-sama mewarnai kisah hari ini dengan tinta terbaik yang kita bawa.

Terkadang, memang. Kita bertemu dengan pribadi-pribadi yang sikapnya tak mengenakkan hati. Tetiba mendung menggelayuti ruang hati dan beberapa saat kemudian gerimis membanjiri lembaran pipi. Oleh karena apa? Karena kita tak siap-siap mental menghadapi segala yang terjadi. Karena kita begitu asyik dengan perasaan sendiri. Padahal pertemuan kita dengan mereka adalah dalam rangka mendata ekspresi. Bagaimana kita menyikapi?

Jauh-jauh hari, teman… Persiapkanlah hati. Tata ia dengan teliti. Selami ia hingga ke dasarnya terdalam. Sampai engkau menemukan di mana ia berada di kondisi terakhirnya? Dan setelah engkau bersamanya, baru engkau melanjutkan langkah-langkah lagi. Karena bersamanya engkau mampu berikan kontribusi terbaik. Dengan hati yang menemani, sebagai teman melangkah. Sejak saat itu, engkau mampu berempati, engkau belajar bersosialisasi. Membawa serta sekeping hati yang tegar dan teguh berseri. Namun kalau ia rapuh, alamat sedyyih berkepanjangan. Tak ada bahagia bahagia nya menjalani hidup ini. Hanya akan menambah beban diri. Padahal hidup ini sudah berat. Hahaaaa… Tak zenanglah hati. Mengapa?

Saat hidup hanya mengharap puji, maka hilanglah keikhlasan di hati. Ketika berbuat demi materi, alhasil kesulitan demi kesulitan menghampiri. Apalagi kalau hanya untuk mencari dan mengharap belas kasihan sesama, maka kekecewaanlah yang menghampiri. Ujung-ujungnya ngomel sana sini, cerita ke ujung negeri, bergunjing dan mencaci, tak ada lagi kebaikan yang terlihat. Semua berubah menjijikkan, tidak diterima di hati. Selalu berprasangka tak terpuji, dan akibatnya? Terisi hati dengan benci. Hihiiii. Kita pun mendengki, tak menyukai dan tak disukak. Wkwkwkwkkk.

Sesekali dalam hidup ini, kita akan bertemu dengan tatapan sinis, itu pasti. Sesekali pula kita tak akan dihargai, jelas. Sesekali pula ada haters yang mencari-cari kekurangan diri. Dan semakin sempurna lah sudah warna hidup ini, dengan hadirnya yang menyayangi diri, mengasihi, memuji dan menyukai. Sehingga maklumi semua sebagai pembawa hikmah untuk kita. Agar saat dibenci dan dicaci, kita tak balik membalasi, kalau ternyata kita tak menyukai. Karena apa yang kita sukai, yakinkan perlakuan kita pada orang lain pun sama.

Berbeda lagi saat kita dipuji, dielu-elukan. Maka jangan lantas berbangga diri, lalu tak sempat lagi melirik ke belakang. Bahwa ternyata sebelumnya kita tak sendiri. Ada banyak pihak yang memberi kontribusi. Di luar sana, jauh sekali, ada yang mendoakan kita. Sesekali, berdoalah juga untuk mereka, sebagai bukti terima kasih. Lalu ukir nama dia, nama mereka, dalam diari. Biarkan seluruh dunia tahu, bahwa kita tak pernah sendiri. Karena kita sendiri adalah nol bulat tanpa isi. Kosong dan ya, begitu. Tak akan berarti.

Seperti detik-detik sebelumnya, dalam detik yang mungkin tidak kita sadari, ada hati yang tersakiti, maka bersegeralah memohon kerelaan. Agar ringan langkah dalam melanjutkan perjalanan. Semoga semakin bertaburan barakah meneruskan kehidupan. Pun, maafkan mereka yang melukai hati, relakan mereka yang telah menyakiti, senyumi masa lalu yang perih, beraikan tragedi dan memori silam dengan senyuman. Karena yakinlah, bukan hanya kita yang mengalami. Nun, di sana, jauh di luar diri kita, mereka pun pernah terluka. Mereka juga sempat tak bahagia. Bahkan berdarah-darah tertimpa tangga musibah dan kepedihan. Namun mereka kembali bangkit dan melangkah. Karena mereka mempunyai tujuan. Mereka berjalan di tengah realita, dan menikmati setiap tetes keringat yang jatuh ke tanah. Mereka menyaksikan langsung, bagaimana keringat memancar dari pori-pori, saat perjuangan berlangsung. Dan bagi mereka, semua adalah kenyataan yang mensyukurinya adalah kebahagiaan, bukan malah membenci keadaan.

Terkadang dalam hidup ini, kita bertemu dengan dia dan atau mereka yang benar-benar menguji kesungguhan. Mereka yang sengaja datang dalam kehidupan kita, atau malah tak sengaja. Mereka yang kita panggil, atau yang tetiba hadir tanpa diundang. Lalu, dia dan atau mereka pun turut mewarnai kehidupan kita. Bersama kuas dan warna yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita. Di sinilah… kepedulian kita terasah. Apakah kita memilih menghakimi atau mengalah? Apakah memperindah corak yang sudah tertumpah tinta amarah dengan maaf, atau malah mempersempit hati dengan omelan berantai?

Mengingat-ingat kebaikan diri, sedangkan kejelekan dia dan atau mereka, malah kita abaikan. Ah, siapalah kita tanpa-Nya. Termasuk apa yang kita lakukan, tentu kita tak pernah sendiri, kawan… Maka sadarilah. Berserilah. Tersenyumlah. Berdamailah dengan diri, damaikan dia dan mereka yang berkelahi dengan sikap kita yang terpuji. Agar bumi menjadi tempat yang semakin layak untuk dihuni oleh semesta. Karena kalau bukan bersama dia dan mereka, tentu hidup ini tidak asyik, bukan?

Renungkanlah, kawan. [aku-tanpa-Mu-nol]

Lovely Smile With,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s