Jendela. Ia selalu saja menjadi tempat bagiku untuk melihat indahnya dunia. Merasakan semilir angin sore hari yang menyegarkan cakrawala pikir, hingga adem dan sejuk tak lagi ilusi.

Sore. Hari ini di depan jendela kayu, aku menatap langit biru. Sembari rebahan di atas tempat tidur dengan posisi sangat dekat dengan jendela, tentu memudahkanku mengedarkan pandangan hingga ke sisi langit. Langit biru bersih, tanpa awan sama sekali. Sesekali, ku kedip-kedipkan mata ke arah dedaunan yang melambai-lambai. Tampaknya mereka menyukai senyumanku.

Ai! Lagi dan lagi, aku tersenyum. Senyuman yang ku ukir dengan ringan, seringan semilir angin yang menyapu lembaran pipiku. Aku suka. Aku sangat suka suasana alam seperti ini. Apalagi sebentar lagi, mentari bersiap tinggalkan kami. Sehingga nuansa sendu hampir terjadi. Ya, kalau saja tak bersamamu di sini, teman.

Di sini. Alunan daun-daun yang tertiup semilir angin, membuatku semakin betah. Aku senang menyaksikan dedaunan yang berbahagia, seperti ini. Maka ku coba mewakili keadaan mereka, melalui beberapa baris kalimat. Kalimat buatmu, teman. Engkau yang jauh di sana. Semoga saja, engkau pun menikmati semua ini, yaa. Walau tak dapat hadir langsung untuk membersamai kami.

Sore ini, masih di dekat jendela. Sudah sepuluh menit aku berada di sini. Sejak tadi, memang aku masih sendiri. Namun beberapa detik yang lalu, lihatlah teman, sesosok wajah tampan mendekatiku. Sengaja ku alihkan pandanganku sejenak, darimu. Untuk selanjutnya memberikan perhatian pada beliau.

"Haiii… Ada salam dari beliau buatmu, teman. Berikut serangkai senyuman dari sudut hati yang lembut. Kelembutan yang beliau jaga, beliau semai, beliau pelihara dengan sepenuh jiwa."

***

Senyuman tak henti menebar dari wajah beliau. Wajah yang ku kagumi semenjak kami bersama. Wajah yang sebelumnya tak pernah terbayangkan olehku. Bahwa ternyata, seperti ini pribadi beliau. Seorang laki-laki muda, dewasa, penuh cinta dan senang membuatku terpesona. Alangkah mulia akhlak yang beliau pakai, membuatku seringkali terbuai. Aku bersyukur, karena akhirnya kami berkesempatan jumpa di dunia, bersama menjalin cita, berjuang memenuhi harapan, dan saling menguatkan. Sebuah keluarga kecil nan unik, sedang kami bangun kini. Keluarga sahaja yang kami dambakan sejak lama.

Bersua kami tanpa sengaja. Namun karena ada jodoh, bertemuan juga. Seseorang menjadi perantara bertemunya kami, sahabat lama. Aku terpikat oleh keshalehan beliau yang terpancar dari sikap dan akhlak menawan. Sedangkan beliau bilang, terima aku karena unik dan menarik. Hingga akhirnya, tanpa berlama-lama mengurai masa, pertautan dua hati pun berlangsung. Di rumah. Diantara keluarga, sanak saudara, tetangga dan beberapa sahabat masa kecilku. Mereka menjadi saksi dalam pernikahan kami, sekaligus menjadi tamu di acara resepsi. Pernikahan bertema pesta kebun, sukses kami jalani pada pertengahan bulan ini. Alhamdulillah… Pangeran impian tak hanya harapan. Namun kami nyata-nyata telah bersama, saat ini.

Sesekali, beliau menatapku dengan mata teduhnya…
Berulangkali, kami tertawa bersama, karena ada saja bahan pembicaraan yang meningkatkan kebahagiaan kami.

Sesekali, aku berdiri dan menatap keluar jendela.
Berulangkali, beliau menggodaku juga. Hingga kami pun larut dalam canda.

Sesekali, aku terdiam karena pipiku capek ketawa terus.
Berulangkali beliau memijiti pipiku agar segar lagi. Dan kami pun saling berpandangan. Penuh makna. Tanpa suara, hanya jiwa yang bicara. Saling bertanya, kemudian saling memberi jawaban. Saling membagi rasa dan bertukar pikiran. Saling melengkapi atas kekurangan dan mencukupi berbagai kelebihan. Karena kami menyadari, kehidupan adalah lahan untuk meningkatkan ketaqwaan. Dan kini saat kami bersama, meluruh dalam kesatuan acap kali mengimbangi perbedaan yang ada. Sungguh berwarna hari-hari kami jalani. Meski baru dua pekan terakhir. Semoga abadi kebersamaan kami, bersama dalam keberkahan, berkah dengan kesucian karena Ilahi. Mohon doanya, walau kita tak saling kenal. Agar doa yang sama yang engkau beri, pun engkau terima, kawan. Selamat menempuh hari-hari semakin berseri.

Salam dari jendela, hati. []

Love for You,
~My Family~
@Baitiijannatii

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s