Matanya memejam rapat. Bulir bening mulai membasahi ruang jiwanya. Sehingga tak ada air mata di pelupuk matanya, apalagi lembaran pipi.

Pikirannya berjuang keras menepikan ingatan pahit itu. Sekeping hatinya terluka sangat dalam, tercabik-cabik (lagi). Sedangkan isakannya tak jua terdengar. Miris mengiris-iris, namun hanya di dalam jiwa.

Trauma masa lalu akan teriakan-teriakan di telinga, kembali menyapanya. Sapaan yang sangat tak ia suka. Namun bagaimana menanggapinya, saat suara-suara tak bernaluri itu sampai juga di ruang pendengarannya?

Hhuuwwaaaaa… Ingin ia teriak memecah sunyinya gulita. Namun sekuat apapun ia berusaha, pita suaranya tak juga berdaya meski meringis atau berbisik. Padahal ia merasakan kepedihan sangat dalam. Jiwanya remuk, hancur. Perih itu menyakitkan! Kawan.

***

Sesekali ia membuka matanya, untuk memastikan bahwa ini nyata dan bukan mimpi. Sesekali ia coba meredam amarahnya dengan sepenuh kekuatan. Sesekali pula ia berucap istighfar di dalam dada.

"Astaghfirullaahal’adziim," kata mujarab yang membuatnya hanya mampu menarik nafas dalaaaamm sekali. Sampai akhirnya tak ada umpatan yang muncul. Tanpa suara. Diam. Hening. Sunyi. Ia belajar memaafkan. Ia belajar memahami. Karena sesuatu yang paling menyakitkan sekalipun (tidak disukainya), merupakan batu loncatan baginya untuk meninggi kesabaran.

Perlahan, diremasnya lembaran poni yang menepi di keningnya. Karena sangat kuatnya dorongan dari dalam kepala yang membuatnya perlu mengimbangi. Ditariknya juga sudut keningnya yang datar, memijit-mijit. Hingga ia rasakan keteduhan dan kesegaran. Ai! Lagi-lagi ia bersyukur, karena ia masih mampu menahan diri. Untuk tak memarahi balik, untuk tak balas berteriak. Dan itu adalah kebahagiaan baginya. Maka ia pun tersenyum, senyuman untuk dirinya terlebih dahulu. Senyuman spesial bagi pribadi-pribadi selainnya, yang mampu menahan diri ketika ia mampu memarahi balik saat diteriaki dengan tak sopan. Sekalipun oleh orang-orang yang patut ia balas. Dia kuat dengannya. Sedangkan pemarah dan berucap dengan nada tinggi itu sesungguhnya sangat lemaahhhh. Hahaa. Ia sudah tak mampu mengontrol emosinya dan setan yang menggodanya. []

Lovely Smile With,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s