Menjadi pemimpi bahagia, seumpama berjalan di tengah malam. Sendiri. Di hutan. Suasana remang-remang karena cahaya rembulan menembus kegelapan. Pepohonan berdiri menjulang, menggapai bebintang. Lalu sang pemimpi berjuang menarik seberkas harapan (lagi). Setelah sejenak ia menjauh, menuju langit.

Ya, aktivitas ini tentu tidak nyaman. Karena menguras energi, menyusutkan sisa-sisa keberanian. Sedangkan yang menjadi penghalang tertinggi sesungguhnya jiwa yang terkungkung. Karena ia tidak mampu bertahan, di tengah kegelapan. Karena ia mau melangkah bertaburkan sinar kemenangan. Karena jiwa yang menang, merdeka, akan senantiasa berjuang menggapai impian. Dan ketika ia dalam kegelapan, energinya meletup-letup tersembur panas kecemerlangan. Larva keberhasilan.

"Aku mampu bertahan", bisiknya sembari terus berjalan.

Lovely Smile With,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s