Kita mulai catatan ini, tanpa tema. Tema yang tidak kita tentukan di awal. Ya. Seperti halnya engkau, aku pun sama.

"Hanya mengalirkan suara jiwa," bisikmu lembut di telingaku. Saat aku bertanya, mengapa tanpa tema. Tidak seperti biasanya. Aneh. Lalu kita terkekeh bersama. Karena kita akhirnya menyadari, memang tak biasa.

Selanjutnya, tanpa banyak pikir lagi, ku lihat engkau sudah khusyuk dengan sebuah pulpen yang ada di tangan kananmu. Pulpen bertinta ungu. Warna yang engkau suka. Kesukaan yang membuatku suka juga. Ah, aku memang follower sejati. Suka ikut-ikutan, dan menurut. Mungkinkah aku berubah?

Tak perlu berlama-lama, sudah selembar halaman penuh oleh coretanmu. Entah apa isinya, aku tak tahu. Karena engkau belum mengizinkanku membacanya. Seperti kebiasaanmu juga, engkau hanya akan menyerahkan catatanmu padaku, setelah engkau selesai menuangkan uneg-uneg dan suara hatimu.

"Agar lepas, mengalir dan tak tersendat-sendat," engkau memberi alasan padaku. Mengapa aku tak boleh meliriki susunan kalimatmu saat diproses. Cieee… Gaya penuh wibawamu membuatku takluk. Padahal aku aslinya penasaranan. Yang tidak akan tinggal diam kalau keingintahuanku belum terjawab.

***

Sesuai peraturan di awal. Masing-masing kita mendapat seberkas kertas kosong yang terdiri dari berlembar-lembar. Berkas tersebut wajib kita isi penuh, untuk menampung segala hal yang ingin kita curahkan di sana. Sering kita menentukan tema terlebih dahulu. Namun kadang-kadang temanya bebas. Sehingga kita dapat menulis apapun yang kita suka. Dan saat ini, tema kita tiadakan.

Engkau senang. Engkau bahagia. Karena terlihat dari rona wajahmu nan sumringah. Sehingga terlihat engkau semakin semangat dan bertambah semangat menuntaskan kewajiban kita kali ini.

Berbeda halnya dengan aku. Saat ini aku tak dapat menulis apapun di berkas bagianku. Entah mengapa? Aku pun tak tahu. Sehingga aku pun asyik memperhatikanmu, melahap seluruh ekspresimu. Karena merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku, berada dekat denganmu. Engkau yang baru hadir di depanku, setelah sekian lama kita terpisahkan. Perpisahan yang membuat kita berbeda ruang dan waktu. Nah, saat ini aku rela hanya menyerahkan lembaran catatan kosong untukmu, sebagai bukti bahwa aku cukup bahagia bersamamu. Sedangkan ketika kita berjarak, kebahagiaanku ada saat berbagi suara hati melalui catatan. Akan tetapi, di depanmu, aku mendadak kelu, jiwaku bisu. Ia tak dapat lagi berkata-kata. Apatah lagi untuk mengalirkannya ke dalam susunan kata. Sehingga aku bertanya, "Siapakah engkau sesungguhnya?"

Masih ku belajar mengenalmu. Kemarin, esok, lusa dan hingga nanti, berkenalan kita selalu. Karena aku percaya dan sangat yakin, banyak hal tentangmu yang tidak dapat ku tahu cepat. Akan tetapi, memerlukan waktu yang panjang, bertahun-tahun, mungkin. Sehingga apabila aku bertanya tentang suatu hal tentangmu, semoga engkau berkenan, wahai sahabat jiwaku. Seperti halnya mengenali mu, maka aku pun sama. Ya, aku sangat suka ketika engkau berkenan mengenali lebih jauh, seiring waktu. Sehingga kedamaian seringkali menghiasi dunia kecil kita, karena kita sama-sama sedang belajar. Bersama kita bisa, untuk mencipta bahagia hingga akhir usia. Selama-hayat-sampai-ke-akhirat.

Dengan saling mengenal, maka kita sering siap untuk menerima. Kita pun tak canggung untuk saling memberi nasihat, masukan atau bahkan kritikan. Karena kita memerlukan semua itu untuk kebaikan bersama. Yang intinya adalah membina komunikasi terbaik, saling menanya dan menjelaskan. Begitu…😀

Nah, adanya sesi sharing melalui media tulisan yang kita rutinkan, kiranya dapat membantu. Agar kita mudah mengalirkan apa yang terpikir, apa yang terasa, bahkan apa yang kita lakukan, dengan lebih lempang. Tanpa ada instruksi, saat kita masih mau mengetengahkan gagasan. Tanpa perlu kehilangan kata-kata, saat kita saling bersua pandang. Dan semoga efektif, menjadi jalan bagi kita untuk mengarsipkan hasil pembicaraan. Yang selanjutnya kita diskusikan, apabila perlu. Dan saat sudah cukup saling memahami, maka kita jadikan sebagai prasasti senyuman terakhir kita, saat bersama. Yah.

Apapun yang ingin kita sampaikan, ukirlah dengan kejernihan pikiran. Rangkailah dengan kedamaian perasaan dan yakinkan diri, bahwa ia berarti. Sehingga tiada kesia-siaan dalam gerakan jemari mengalirkan suara hati. Namun penuh arti, bertabur senyuman dan ketenangan jiwa. Sehingga senyuman demi senyuman yang menebari wajah kita, ketika kelak kita menyantapnya lagi. Bisa sebagai menu sarapan pagi, makan siang selepas aktivitas, atau sebagai kudapan sore hari. Berteman sinar mentari pagi yang tersenyum anggun, atau bahkan di bawah taburan cahaya bulan purnama. Sambil bersantai di teras rumah bersama anak-anak dan juga para cucu, mungkin saja. Atau, ketika kita dalam perjalanan dari satu kota ke kota lainnya, di negeri impian kita. Ai! Semua mungkin, bukan?

So, hayo kawan, kita bergiat. Menebarkan ketulusan dalam setiap kebaikan. Menaburkan senyuman dalam berbagai kegiatan. Dan terinspirasi dalam berbagai kesempatan. Menjadikan moment-moment kebersamaan sebagai motivasi, dan moment kesunyian untuk memotivasi. []

***

Hari ini tanpa catatan, untuk belahan hati. Hanya senyuman mampu ku bagi, dalam kebersamaan kami ini.

Lovely Smile,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s