Sudah berganti hari. Sedangkan alarm pun menjelang berbunyi, keesokan harinya. Namun mataku belum mau merapat sempurna. Walau sudah ku coba mengatupkan berulang kali. Akan tetapi, gwagal lagi dan gwagal lagi. Huwaaaa, then, what should I do in this special moment?

Ku usaha memejam ulang, membolak-balik badan agar nyaman. Ku putar akal agar berjuang. Menemukan titik terbaik untuk bisa lelap. Namun akhirnya aku harus dan mesti berdamai dengan diri sendiri. Berbaikan dengan keadaan, dan kemudian mensenyumi malam berembulan. Agar tak ada peyesalan, umpatan apatah lagi hardikan. Karena aku sungguh tak suka semua itu. Buang-buang waktu, menurutku. Hanya menambah deret panjang kesia-siaan. Sedangkan kita tak tahu pasti, kawan… sudah sebanyak apa persiapan menuju pulang. Pulang. Yah, pulang. Pulang ke mana?

Pulang, adalah sebuah aktivitas yang menyenangkan. Bahkan melakukannya adalah kebahagiaan. Itu pun kalau kepulangan kita ditunggu, sedangkan kebelumberpulangan kita, selalu dirindu (di tempat kita berpulang). Lalu ke manakah tempat berpulang kita yang sesungguhnya?

Malam saat ini. Saat jam menunjukkan angka satu lebih dua puluh sembilan menit, aku belum jua sukses menuju pulang. Karena menurutku, terlelap pun sebuah kesempatan untuk pulang sejenak. Melihat-lihat negeri kepulangan, bernostalgia dengan masa ketiadaan. Ya, namun saat ini, aku masih di sini, di dunia penuh keriuhan.

Lalu lalang kendaraan nun di tepi jalan, semakin jelas terdengar. Suara derunya yang jarang dan sesekali saja, sungguh mengusik pendengaran. Walau pun lokasi keberadaanku kini jauh dari tepi jalan, memang. Namun, sunyi ini mengajak sesuara apapun mendekat segera. Termasuk suara mesin kendaraan yang melaju kencang.

Ya, suara-suara mesin kendaraan yang hadir hingga indra pendengaran ini, berselingan dengan riuh kodok-kodok memanggil hujan. Ditambah lagi suara hewan-hewan malam yang super antusias menghiasi alam. Subhanallah, ini pun mengingatkan kita pada pulang, bukan?

Pulang. Sebuah kata yang ku timang-timang dalam memori ini. Kata yang membuatku semakin tak bisa memejamkan mata dengan sempurna. Masya Allah, what should I do, dear diary?

Ku untai butiran tasbih, berulang kali. Ku gerakkan jemari untuk menemani bibir dan hati yang semakin seru berlomba. Agar tak ada jeda waktu tersia, diantara dzikir satu dengan lainnya. Ya, semua untuk mendekatkan kami (hati, pikir dan raga) pada titik alpa. Titik nol seorang insan di dunia. Agar berkurang beban pikiran, supaya lenyap yang tak berarti dan tak patut dipikirkan. Sehingga seiring bergulirnya waktu, pelan-pelan mata memberat, kemudian kami berangkat menuju pulang, sebentar. Hehe. Aku rindu bermimpi, kalau tak bisa tidur begini. Karena bagiku, mimpi-mimpi yang hadir saat terlelap dapat mewarnai langkah dan perjalanan, setelah ku terjaga (lagi).

Apa yang dapat aku lakukan saat gulita malam semakin mencekam? Sedangkan purnama semakin menawan di langit malam. Lalu suara hewan-hewan malam, seakan mengajakku gabung dengan keriuhan yang mereka rayakan. Akankah ku menghampiri mereka di luar sana? Untuk ku dekap dinginnya malam dengan sepenuh perasaan? Lalu aku berpura-pura lelap di antara mereka, hingga kelam berganti sinar mentari. Ah… Ku tak tahu apa yang mesti ku lakukan dalam kondisi begini, kalau saja ku tidak punya iman. Kalau saja ku tidak meyakini Tuhan. Bahwa sesungguhnya, Dia senantiasa melakukan pemantauan pada seluruh alam. Termasuk diriku yang tak juga beralih perhatian dari kesunyian. Sunyi yang membawaku tenggelam sungguh dalam. Sunyi yang selama langkah menghiasi perjalanan, ia sangat ku butuhkan. Karena sunyi bagiku merupakan teman dalam perjalanan. Karena bersama sunyi, ku melakukan perenungan, perjalanan pikiran, proses menemukan jiwa yang sempat hilang dalam kehidupan. Hiiikss, sedih rasanya mengenangkan, saat kami berjauhan.

Aku semakin rindu pulang… pulang dengan jiwa yang tenang, setelah kami kembali berdekatan. Ya Rabb… husnul khatimah yang hamba dambakan. Kabulkanlah ya Allah… []

Lovely Smile With,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s