Hidupkan hidupmu dengan menghidupkan nyali, membangunkan pikir, dan kemudian wujudkan niat segera. Caranya? Bagaimana?

Bangkit. Ya, bangkitlah dari dudukmu teman, lalu rasakan sekelilingmu mendukung niatmu, karena mereka siap menemanimu meraih asa dan cita tertinggi. Lalu, apakah bangkit sudah cukup membuat kita puas?

Tidak. Belum, teman. Karena bangkit adalah lanjutan dari niat yang kita punya. Bangkit adalah upaya awal untuk selanjutnya meneruskan dengan bergerak. Ya, bergeraklah! Karena dengan bergerak, engkau sedang mengajak dirimu mengikuti suara hati. Hai, hati-hati selalu yaa, di perjalanan. Begini pesan ibu yang selalu ku ingat hingga detik ini. Lalu, hanya itukah pesan ibu?

Tidak. Tidak. Karena pesan beliau lainnya adalah, "Semangat. Semangat. Semangat selalu ya, Nak! Karena semangatmu yang engkau munculkan dari dalam dirimu, dapat mensemangati sesiapapun yang ada di sekitarmu. Sedangkan lingkungan penuh semangat yang engkau temui saat berjuang, akan menambah semangatmu, lagi dan lagi." Dan apakah semangat itu selalu ada? Apakah ia pernah pergi-pergi?

Hhmmmm… Sepengalamanku, sepengetahuanku, semangat tidak selalu bersama kita. Kecuali kita mau mengingatnya lagi, dan mencari saat ia terlanjur menjauh dari diri. Maksudnya apa?

Begini… Terkadang semangat pun meredup, teman. Adakalanya ia memang menanjak tinggi. Dan saat engkau sedang meneruskan perjuanganmu, lalu semangat pun meredup, maka ingatkan diri untuk melangkah selangkah lagi. Ya, agar semangat mau dijemput, supaya ia segera mendekati kita. Semudah itukah?

Hehe, sekilas ku melihat senyuman hangat menemani lembaran bibirmu, teman. Senyuman manis, yang membuat rona wajahmu semakin menarik saat ku pandang. Wajah penuh senyuman yang belum juga hilang, walau sudah beberapa lama ku selami dengan dua bola mata ini. Oiyaa? Haha, engkau tertawa renyah. Engkau masih belum percaya dengan yang ku kata?

Engga apa. Karena bagiku, engkau tetap inspirasi. Pembawa cerah ke dalam diri, penebar sumringah di wajah ini, pelecut ingatan, pendobrak perasaan. Eits, tunggu-tunggu sejenak. Sepertinya ada yang kurang tepat, teman. Maksudnya engkau adalah jalan bagiku untuk merasakan hidup ini lebih hidup. Sure. Selain itu, ada lagi. Engkau mau tahu? Penasaran?

Baiklah. Di dalam paragraf ini, ku sampaikan makna selanjutnya dirimu bagiku, yaitu engkau adalah jalan hadirnya motivasi. Hingga ku sangat memerlukanmu, selalu. Karena motivasi diriku kadang timbul tenggelam. Bahkan aku nyaris pernah mendekati dasar lautan motivasi. Sebab, ia menyusut, menyurut, pelan tapi pasti. Namun setelah engkau hadir dalam hidupku, motivasimu pun memotivasiku. Akibatnya? Manfaatnya?

Ada aroma harum yang engkau tebar. Bersama wangi semerbak, bercampur manis, walau tak terlihat. Karena memang, kebaikan itu tidak selalu harus terlihat apalagi diperlihatkan. Terkadang ia menyelip pada sorot mata. Walau tanpa engkau duga, aku menemukan motivasi tersimpan banyak di sana. Alhamdulillah, lalu nikmat-Nya yang mana lagi yang aku dustakan?

Ada angin segar yang menemuiku, kesegaran sempurna. Kesegaran yang sangat berguna. Kesegaran yang ku terima di terik panas tengah hari, berupa secangkir minuman kala ku benar-benar dahaga. Seperti inilah engkau hadir di depanku. Sebagai penyejuk, menumbuhkan daun-daun harapan lebih subur. Sedangkan angin ujian dalam hari-hari, pun abai. Karena tergantikan oleh sosokmu. Siapakah engkau sesungguhnya? Begitu aku menanya di awal waktu kita berjumpa. Awal kebersamaan, lebih tepatnya. Aku bertanya pada semesta, berkeliling seluruh dunia, hanya untuk mendata banyak fakta tentangmu. Sampai akhirnya ketemu juga. Karena ternyata engkau adalah seorang pemuda sahaja.

Horee. Alangkah gembiranya aku seketika. Ya. Beberapa saat setelah mengetahuinya. Kegembiraan yang terus ku jaga senantiasa ada, dalam berbagai suasana. Baik saat kita bersama, maupun kala berjarak raga. Ah, aku masih belum percaya. Kini pun sama. Bagaimana bisa?

Aha!. Tentu semua ada makna. Termasuk pertemuan kita. Tanpa sengaja, tak di duga. Namun kalau sudah dalam rencana-Nya, tak ada yang tak mungkin, bukan?

Engkau pun menjadi sahabatku, kini. Sahabat sejati tidak pernah terbeli, karena sangat berharganya engkau. Tingginya nilaimu tak ada yang menandingi, sehingga mengabadikanmu dalam kisah perjalanan hidupku adalah mesti. Maka mulai sejak pertemuan kita, tak ada lagi waktu yang kita gunakan tersia, kecuali untuk hal bermakna saja. Selama kebersamaan kita, tidak terlewat sedetik pun masa, tanpa saling mengingatkan kepada-Nya dan menasihati pada kebenaran dan kesabaran.

Aih, benar-benar semula hanya ada dalam impian kita, lalu melanjut pada upaya nyata. Untuk saling menjaga, agar saling terjaga. Penjagaan hingga ke jiwa, karena kita tidak selamanya bersama raga. Penjagaan hingga tahap saling percaya, karena mata kita tak selalu bersitatap mesra. Yah, meski awalnya kita merencana sebaik-baiknya, namun perjalanan waktu memberi kita peluang merealisasikannya. Maka, terkenang kita akhirnya, pada masa-masa yang lama. Ketika akhirnya kini, kita berada di era berbeda. Sampai kapankah?

Walaupun diantara kita akhirnya meninggal juga, namun selamanya kita hidup. Karena kelanjutan dari kisah kita pun diteruskan oleh mereka yang sangat menyayangi kita. Dan kemudian mereka melakukan hal serupa, seperti yang kita upaya semula. Bagaimana bisa, padahal kita mungkin sudah berbeda masa dan atau usia kita hampir semua tak sama? Bagaimana bisa?

Seyogyanya, tak ada pemisah antara mereka yang mempunyai tujuan sama. Ya, karena mereka akan saling terkait, tarik menarik, agar senantiasa berdekatan. Walau jarak menjadi rintangan. Meski waktu menghalang. Akan tetapi, aktivitas serupa yang mereka lakukan adalah jembatan penghubungnya. Jembatan yang mempersatukan dua bahkan lebih, hingga berjuta-juta orang jumlahnya. Sampai pada jumlah tak terkira. Karena satu dengan lainnya saling berinteraksi, dengan penuh cinta. Seperti aktivitas apakah?

Menulis, contohnya. Seorang penulis hebat dan sukses cemerlang, dipastikan dan tentu memiliki seorang atau lebih panutannya dalam menulis. Selain karena mempunya bakat yang dibawa sejak lahir, sedikit atau banyak, bacaan yang mereka santap dan serap pun mempengaruhi jalan karir kepenulisannya. Dan mereka secara tidak langsung saling terikat, tidak bersekat. Lalu, aktivitas menulis seperti apakah yang membuat mereka lekat? Ya, walau terkadang tidak pernah berjumpa, hanya mendengar suara. Walau tidak bersua, namun hanya bertemu tulisannya. Masya Allah, indahnya ukhuwah yang menyatukan mereka, karena beraktivitas dalam rangka ibadah. Lalu, apakah semudah itu, kawan?

Walau terdengar indah, terlihat mudah, akan tetapi kenyataan bukan selalu begitu. Adalah ketulusan memperjuangkan cita, mesti ada. Walau berat, namun menjalani dengan rasa puas, senang, bahagia, tenang dan penuh cinta akan berujung sentosa.

Engkau sahabatku, perempuan yang terangkum dalam paragraf-paragraf sahaja. Engkau ibunda yang melalui rahim sucimu, terlahir generasi-generasi penerus terbaik. Engkau bagian dari keluarga besar, keluarga bahagia. Sebahagia apakah?

Seperti bahagia ketika tetiba ide-ide bermunculan, saat kesulitan menyusun kalimat, hadir. Bahagia saat kita masih dapat melakukan pengembangan diri, meski dalam kondisi serba terbatas. Namun keterbatasan yang akhirnya menjadi ujung tombak semangat, terasah runcing di antara rerimba kesulitan. Saat itulah bahagia semakin berkelimpahan, ketika kita masih memperoleh kesempatan belajar lebih banyak. Tidak hanya itu, saat kerelaan berbagi merupakan teman sehari-hari, di sanalah bahagia semakin subur. Apalagi saat bisa deal dengan diri sendiri, dalam tekanan hidup yang meremukkan jiwa. Ketika itulah bahagia mengalir semakin deras. Sederas aliran sungai Musi, di sesudut negeri kita tercinta, Indonesia. Yah, sangat mudah menemukan bahagia dalam berbagai situasi. Lalu, cukupkah hanya sampai di sana?

Kiranya tidak hanya demikian, teman. Karena berpikir global, pun merupakan solusi. Saat hati suatu waktu tak mau diajak kompromi karena ia sedih dan menangis, sisi optimis pun berganti jadi pesimis, luka terasa menyiksa, ditambah lagi dengan raga yang tak sehat sejahtera. Maka pikir yang mendunia, membuka cakrawala pandang, akan membuat kita menemukan pencerahan. Sampai akhirnya, muncul sebuah ucapan untuk kita, "Selamat yaa dan sukses. Rajin belajar, tanpa jenuh dan bosan, bersama senyuman. Karena dunia pun akan tersenyum padamu, saat engkau tersenyum. Lalu, tunggulah detik-detik penuh kejayaan itu, seraya berkarya nyata."

Lovely Smile With,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s