Harapan itu masih ada. Ia menyala lentera menerangi ruang jiwa. Harapan yang mengajak si miskin bangun untuk mengubah nasib. Harapan yang menguatkan si lemah agar berpindah. Harapan yang menganggukkan kepala pada si sakit agar sehat. Harapan yang membentangkan jalan sepanjang-panjangnya bagi pembawa impian, untuk melangkah. Harapan yang tak pernah menyesatkan atau menjatuhkan. Namun memberi lagi kesempatan demi kesempatan. Supaya hari ini lebih berkesan. Begitu harapan memberi peran dalam perjalanan menuju impian.

Miliki impian dan bawalah harapan serta. Lalu melangkahlah meski pelan. Berjalanlah walau lamban. Dan ketika ada seorang teman yang mengajakmu serta dengannya, untuk menemani perjalanan, ikutlah segera. Saat ada pelari yang mengedipkan matanya padamu agar mempercepat gerak, susullah ia. Saat ia menggenggam jemarimu agar sejajar dengannya, tersenyumlah sayang… Kemudian lanjutkan perjuangan bersama dengan senang.

Impian dan harapan adalah dua sekawan yang tak terpisahkan. Karena mereka akrab dan saling menenangkan. Ketika dalam menempuh proses mencapai impian ada rintangan, maka harapan memberi penghiburan. Begitu pula saat harapan meredup atau berkurang nyalanya, maka impian ambil bagian. Ia seakan menjadi cheerleaders, penyemangat!

Aha! Kalau saja tanpa harapan, impian akan percuma. Saat impian tiada, maka harapan tak akan pernah ada. Maka, sesiapa saja yang berakrab-akrab dengan keduanya, hidupnya akan penuh warna. Karena ada yang ia perjuangkan. Ada yang ia jadikan alasan untuk terus berupaya. Selamanya. Sampai akhir usia, hingga jasad merenta di makan masa. Sampai umur ditelan raga. Begitulah ia mengukir asa. Selanjutnya tak akan pernah putus asa apalagi memupus harapan. Karena ia percaya, ‘kun fayakun’ -Nya. Apabila Allah berkehendak, maka terjadilah.

Kita manusia, menjalani segala ketentuan-Nya. Baik sesuai dengan harapan atau masih jauh dari impian. Akan tetapi, sebagai hamba yang beriman, kita senantiasa yakin dan percaya. Perjuangan berbuah senyuman. Baik lama atau sebentar, akhirnya adalah bahagia. Bahagia yang kita rawat sepanjang perjalanan menuju impian. Bahagia yang sejak ia menyapa, maka nempel terus di dalam jiwa, terdalam.

Impian. Saat engkau mengenalinya, bersamanya, maka engkau akan terloncat-loncat jiwa. Engkau akan tersenyum-senyum penuh makna. Engkau akan terdegup-degup mesra di dada. Saat impianmu belum menjadi nyata. Lalu engkau penasaran, kapan yaa, impianku menjadi nyata? Siapa yaa, yang memberi kontribusi nyata? Berapa abad lagi, yaa aku menempuh proses agar ia menjadi nyata? Serta merta engkau terkejut! Engkau seakan tak percaya, karena seakan maya.

SEPULUH TAHUN KEMUDIAN…
11 Februari 2016 adalah hari ini.

Sedangkan sepuluh tahun yang lalu adalah 11 Februari 2006. Aku masih ingat. Ingatan yang melekat dahsyat. Ingatan yang membuatku segera bangkit dari rehat. Lalu bergegas membuka diari.

Catatan harian yang rutin ku tulis sepenuh perasaan. Catatan perjalanan menuju impian. Catatan yang di dalamnya ada harapan. Catatan yang ku jadikan sebagai teman. Teman yang baik, sebaik-baik teman dalam perjalanan. Karena ia tak pernah memarahiku walauku marah-marah padanya. Teman yang tetap senyumiku menawan, meski ku hiasi ia dengan tangisan. Teman yang memelukku erat, saat ku kesepian. Teman yang mendengarkan segala keluhan dan omelanku. Teman yang mengintipku lagi, saat ku belum menyentuhnya karena kesibukkan seharian. Kemudian membisikiku dari kejauhan (dulu ku menyimpan catatan harian di antara lipatan pakaian agar tak ketahuan), agar jangan melamun sendirian. Lalu mengajakku, untuk bermain-main bersamanya. Meski sudah sepuluh tahun berlalu sejak hari itu, saat ini pun masih ia berteman denganku. Dan inilah penampakkannya, sangat asyik, bukan? Meski sudah kusam dan berdebu, ia masih dan selalu cantik di hatiku. Karena ia menyimpan kenangan. Ia mengarsipkan kisah dalam perjalanan. Catatan harian seorang gadis rumahan. Walau begitu, ia sangat berkesan dengan kebaikan demi kebaikan yang membawanya mengecap perantauan.

Dan sepuluh tahun yang akan datang, ku ingin pamerkan padamu teman, catatan harian yang lebih berkesan. Mungkin tanpa tulisan tangan, namun berbentuk senyuman. Senyuman yang ku ukir penuh cinta, bertabur bahagia. Semoga menjadi kenyataan, harapan ini. Mohon doanya yaa, semoga lancar tanpa halangan berarti. Dan berkah sepanjang hari. Aku suka, engkau pun menyenangi.

Bersyukur dalam menyusun harapan, adalah kemestian Sedangkan bersabar menjemput impian, perlu kita pertahankan. Karena sepanjang perjalanan, mereka berarti dan kita butuhkan. Maka menjaga syukur dan sabar adalah aktivitas tak terlihat yang sangat menjanjikan kebahagiaan.

Untuk beliau semua yang berpesan, berperan dan menjadi jalan sampai ku mencapai tujuan, ku mempersembahkan senyuman bahagia. Senyuman secerah sinar mentari yang menerangi alam siang ini. Senyuman yang ku bagikan, karena beliau pun tak pernah lupa mensenyumiku dalam kebersamaan kami. Specially, sebuah kata ~ibu~ terima kasihku, selalu. Harap ibu tersenyum, menerima. Salam sayang dari jiwa melalui diari.

Lovely Smile With,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s