Haaaii, engkau, sekeping hati belahan jiwa di sana. Apa kabarmu, sahabat sejati? Setelah sekian lama kita tak jumpa, semenjak kita terjanjikan bersua. Ya, karena semua dicipta berpasang-pasangan, termasuk kita. Ya, kita yang tidak akan pernah mendua, karena kita satu sejak mula. Namun sayangnya, detik ini aku terlupa, tentang waktu pertemuan kita di dunia. Mohon maafkan aku, yaa. Bukan ku sengaja melupakanmu, lalu membiarkan sendiri di sana, menempuh masa, menata jiwa, meneruskan jejak-jejak raga, atau bermaksud membuatmu menderita. Ah, siapalah aku adanya, kalau bukan bersama-Nya. Nah, apakah engkau masih ingat, wahai belahan jiwa, tentang masa yang terikrar untuk jumpanya kita di dunia? Sebab sudah sekian lama, aku pun bertanya, aku mendamba, aku meminta, supaya ingatan ini muncul jua. Namun belum terdeteksi oleh hamba, sungguh ku pelupa tentang hal ini.

Oh, iya, aku pun lupa. Bagaimana rupamu. Seperti apa suaramu. Bahkan gerak-gerik dan sikapmu sama sekali tak terdekap dalam ruang pikir ini. Sehingga aku tak dapat segera menyapa, kalau ternyata kita sudah pernah berpapasan. Aku tak jeli dan menyadari, saat suaramu menghiasi pendengaran. Bahkan untuk seraut wajahmu yang membawa sekeping hatiku pun, aku belum bisa menduga. Karena begitu lemahnya ingatanku. Aku benar-benar mohon maaf yaa. Makanya, kalau ternyata engkau masih ingat semua, tolong colek saja beberapa jenak waktuku, agar aku ‘ngeh’ dan kemudian mengedarkan arah pandang ke sekeliling. Sehingga aku tak selalu asyik dengan duniaku saat ini. Dunia yang semestinya ada engkau di dalamnya. Dunia yang tak lagi sunyi, namun ramai penuh canda dan tawa, hiasan suara kita saat bercengkerama menjelang senja tiba. Atau selepas subuh menjelang mentari senyumi alam. Dunia yang semarak berwarna-warni penuh keindahan dan tak lagi hanya ada hitam dan putih perjalanan. Namun dunia berpelangi, karena di dalamnya ada engkau yang turut melukisi.

Haii, engkau yang belum pernah ku bertemu, mungkin. Saat engkau tahu ku sedang duduk manis di sini, sejenak, berarti aku sedang tenggelam dalam telaga rindu yang dalam. Di dalamnya ku terdiam, menepis sunyi. Sembari menitipkan helai-helai daun harapan dengan teliti. Supaya tak tersia diamku ini, agar bermakna, meski sunyi.

Hai, hai… Ku pinta jangan menertawaiku seperti itu, karena aslinya aku pun tak ingin begini. Ya, sama sepertimu. Apalagi kalau sampai mati, belahan jiwa masih belum bersamai diri. Ya Rabbi, lalu bagaimana jiwa ini akan bersaksi nanti. Apa hendak diri sampaikan? Bagaimana kami memberikan jawaban? Kalaulah semua ini karena kelalaian diri? Karena belum pantas memperoleh tanggung jawab? Karena diri masih sering kekanak-kanakkan, padahal sudah berusia segini? Karena masih suka egois, padahal semestinya peduli? Karena suka menunduk lagi, padahal jelas-jelas sudah ada yang siap menemani? Masih sering bersikap kurang dewasa, padahal… padahal lagi dan lagi. Hihii. #Setressendiri.

***

Tentang jodoh, pertemuan, perpisahan, kebersamaan, jalur hidup kita, aliran rezeki, mati, dan aneka ketentuanNya lainnya, memang sudah tersusun rapi. Termasuk semuanya dalam takdir. Akan tetapi, pernahkah engkau mengetahui, teman? Bahwa doa dapat mengubah takdir? Maka berdoalah yang terbaik, berbaik-baiklah berprasangka pada Ilahi Rabbi. Mudah-mudahan kemudahan selalu menyertai. #pesanuntukdiri.

***

Haii, engkau belahan jiwa, pelita hati saat gulita. Benderangi jiwa ketika temaram, cahaya malam agar tak lagi kelam. Ke mana saat ini engkau melangkah, teman? Apakah ke Barat, Utara, Timur atau Selatan? Bila engkau berkenan, tolong sampaikan sebaris pesan sebagai jawaban. Agar ku tahu lokasi keberadaanmu. Siapa tahu? Kalau ternyata kita berdekatan? Aih! Ku memang belum terlalu jauh berjalan. Apalagi untuk berkeliling dunia mengitari alam, belum, teman. Kecuali menempelkan jemari di permukaan bola dunia, lalu menandai negara-negara yang sangat ingin ku kunjungi. Dengan berharap, sepenuh harapan. Agar suatu hari kita dapat pula menginjakkan kaki-kaki ini di sana, ya, kita. Karena aku tak mau melangkah sendiri, teman. Selain tak aman, tentu karena pertimbangan salah satunya karena aku seorang perempuan. Ya, walau tidak sedikit perempuan berpetualang sorangan, termasuk aku sebelum ku sadar. Ya, aku pernah pergi-pergi ngebolang olangan, dengan alasan berpetualang, mencari inspirasi, menemukan seonggok motivasi. Untuk selanjutnya ku petiki sebagai oleh-oleh perjalanan. Semua kini tinggal kenangan. Bertepatan sejak panggilan memintaku ‘pulang’. Ya, akhirnya ku redam keinginan diri, ku lepas ego diri ini, ku cabik-cabik kehendak untuk mementingkan cita sendiri. Ku biarkan impian dan harapan membubung tinggi. Ku lepas dengan sebaris senyuman, semoga mereka menjangkauku lagi, setelah ia meninggi. Sehingga, sampailah hari ini. Aku di sini, masih di sini. Untuk menata lagi hati, mencipta lagi mimpi baru. Yuhuu, agar semangat hidupku tak pergi. Supaya pagi kusambut dengan senyuman meriah, selayaknya mentari yang tak lelah kembali lagi.

Pagi. Pagi-pagi sekali, hampir setiap hari, kami asyik di sini. Aku dan beliau, kami berteman kini. Makin akrab, sering berdekatan. Bahkan seperti soulmate tak terpisahkan. Sehingga di mana ada aku, beliau juga ada. Ke mana beliau melangkah, aku menemani. Sejauh-jauh beliau pergi, aku tetap di sisi. Karena kami dua sejoli, yang lama tak jumpa.

"Kita berteman saja, ya Amak…," bisikku pada saat kebersamaan kami.

Sedangkan Amak, tersenyum simpul, tertawa gurih.

Hehe. Menjadi lebih dekat dengan beliau, membuat gundahku menepi. Resah berlalu pergi, sedangkan syukur sering menemani. Saat ku baru aja mau bersedih, tetiba tersenyumku lagi. Kala ku terlihat asyik sendiri, beliau menyapaku untuk bergabung. Sampai aku tak sempat intip-intip dunia maya dalam sehari, padahal aku rindu ingin melihat ada apa yang baru di sini? So, ku coba tata ulang jadual sehari-hari. Kalau sebelumnya ku dapat berkunjung ke dunia maya kapan saja, kini tidak lagi. Karena di sini, kami tinggal di tepi rimba, di sekeliling pepohonan rindang. Kadang sejuk, ada waktunya gerah. Dan cuaca pun tak menentu. Kadang hujan, lain waktu panas. So, semua itu mempengaruhi sinyal. Ditambah hape yang ku pakai untuk online, tak selalu ada pulsaan. Hahaa, lengkap sudah pend*ritaan. Aku terpaksa mengalah. Namun aku tak akan mau menyerah. Demi masa depan yang lebih cerah, hari ini yang semakin sumringah. Maka sesekali dalam kesempatan terbaik, aku nongol di sini. Barangkali ada belahan jiwa yang mampir, lalu mendeteksi lokasi dan kondisiku dengan sempurna. Kemudian hadir di hadapanku dengan senyuman. Aha! Bahagianya. #mimpisebelumtidur.

Lovely Smile With,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s