Membaca. Mengapa harus membaca? Membaca apa? Bagaimana cara membaca? Di mana membaca? Siapa yang membaca?

Membaca, berarti kita melihat-lihat dunia. Seperti membaca buku, saat itu kita sedang melihat dunia dari jendelanya. Caranya mudah, hanya dengan memilih buku-buku yang tepat, buku yang bagus isinya, bermutu covernya. Bahkan buku bergambar juga menarik untuk kita baca. Membacalah kapan saja, di mana saja, bersama siapa saja. Dan yang lebih penting adalah engkau yang melakukannya.

Membacalah tulisan tersurat, kalimat tersirat, termasuk membaca alam yang membentang indah. Membacalah juga lengkungan langit, karena di atas sana, ada awan, di sekitar awan ada udara, angin, pun sinar mentari menjelang sampai di bumi.

Membacalah ke arah atasmu, tengadahkan kepala, karena di sana ada cinta untukmu. Cinta yang membuat matamu berbinar saat mendengarnya. Cinta yang melegakan pernafasanmu saat menghirup harum segarnya. Cinta yang melepaskan penat ragamu, karena ia mendekatimu, hingga akrab. Cinta yang meredakan hausmu di siang hari musim kemarau. Cinta yang menjelma embun penyejuk pagi musim yang sama. Cinta yang tak ada batasnya. Cinta yang tak bosan-bosan untuk dibahas sampai usia menyenja. Cinta yang mengubah kelam jadi temaram, temaram berganti benderang. Cinta yang … ah, tak ingin henti ku mengupasnya.

Membacalah seraut wajah di hadapanmu. Melalui jendela matanya yang terbuka. Karena di sana engkau dapat menyaksikan bahasa jiwa berbalur cinta. Dari gerak-gerik dan sikapnya, adanya cinta atau tiada akan ketahuan.

Cinta, rasa ada yang kurang dan tidak lengkap dalam sehari, bila engkau tiada. Hampa, hambar, tak berdaya, lesu, sayu, gontai, lunglai, ketika engkau meninggalkan raga. Seluruh hari menjadi gulita, dingin, kelam, dan cuaca tak menentu, saat cinta belum menyapa.

Namun berbeda adanya, kalau cinta menyertai kita. Semesta bersenyuman dengan planet-planet di angkasa, angin bertiup sepoi-bersemilir basah, sedangkan cuaca berubah sejuk ditambah pula bunga-bunga merekah di taman. Lalu bagaimana dengan ruang jiwa?

Di dalam jiwa tercipta lega, bersinar lentera, dan tumbuh bersemi senyuman demi senyuman dari sana. Senyuman sahaja, melepaskan segala yang ia rasa. Ringan, lembut, dan kebeningan mengitari tatap mata. Semua menjadi magnet yang menarik-narik hal serupa dari luar diri. Seakan mereka turut berpesta merayakan cinta yang tumbuh subur dari jiwa. Lalu, berpencaranlah mereka untuk membuktikan pada dunia, bahwa sesungguhnya cinta ada di mana-mana. Seperti udara yang kita hirup bebas dan lepas. Ia ada, walau tak terlihat. Cinta itu ada, hanya saja maukah kita menyadarinya? Merasakan kebersamaan dengannya?

Cinta, tanpanya mungkin saja kita tak sanggup lagi mendiami bumi ini. Bersamanya, kita masih mau menjalani hidup ini, dengan sepenuh hati. Untuk membuktikan bahwa, cinta ada di sini, di sana, dekat dengan kita dan dekat pula dengan mereka.

Lovely Smile With,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s