Kalaulah kita pernah berjumpa, namun tidak bersentuhan raga. Maka tidak akan pernah kita saling meluka raga. Namun setelah perjumpaan tercipta atau setelahnya, tentu kita bertukar bahasa, berbagi cerita, berbisik mesra, berkedipan mata, berucap kata, bukan? Maka di dalamnya mungkin ada kata-kataku yang terlanjur cepat mengalir buatmu, teman. Aliran deras tak tertahankan, seumpama kilat menujumu. Mendekatimu, lalu menembus dinding hatimu. Bahkan ada diantaranya yang tajam, runcing, bening berkilau bak pedang dan menebas ruang jiwamu. Ah… Bisa saja ini terjadi, teman. Aku mungkin tak menyadari, sedangkan engkau merasakan sakit olehnya, engkau terluka, luka berdarah, hatimu pecah, rusak, periiih. Hingga membekas dalam dan tak tersembuhkan, meski kau obati dengan telaten. Oleh karena itu teman, mohon maafkan, ku pinta kerelaan untuk mengikhlaskan, agar tenang ku dalam kedamaian, menerus langkah dalam perjalanan. Supaya senyuman menebar dengan ringan, karena lega dan lapang perasaan, teduh pemikiran, dan alam pun merasakan.

Tolong maafkan, aku…

Lovely Smile With,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s