Ibu.
Ibu?

Ibu.
Ibu?

Ya, Ibu.

Ibu sudah payah merawat kita. Sejak mengandung di dalam rahim, sembilan bulan lamanya. Bertambah lelah, bersusah payah, kepayahan yang bertambah-tambah. Namun ibu menjalani dengan wajah cerah, sebagai pengalaman yang indah.

Yah, meski aku belum pernah mengalaminya. Sebagai seorang perempuan, aku belum pernah hamil. Akan tetapi, berat yang memenuhi ruang mata ini, menandakan bahwa berat melukiskan tentang kehamilan. Bayangkan, teman? Aku pun hanya bisa membayangkan, setelah mendengar cerita dan kisah, pengalaman yang dibagikan, bacaan yang ku baca, termasuk kenyataan di depan mata.

Saat susah tidur karena ada seseorang dalam kandungan. Letih raga membawa-bawa ke mana pun pergi. Makan minum pun sempat tak berselera, saat awal masa kehamilan. Pusing pusing karena bawaan dari dalam, apalagi si calon bayi banyak permintaan yang tak terkatakan. Akhirnya, ibu pun ngidam-ngidam. Ibadah. Bagaimana ibu tetap dan terus beribadah dengan kondisi demikian? #pengalamanseorangibuhamil

Hebat. Luar biasa. Dahsyat. Sungguh, seorang ibu yang kuat, tidak pernah mengeluhkan hal demikian. Namun dengan niat kuat dan keteguhan, keyakinan dan ketulusan, keikhlasan dan kerelaan, menjaga diri dan perasaan, menata hati dan pikiran sepanjang usia kehamilan. Hingga sampai masanya melahirkan, senyuman pula yang pertama kali beliau pamerkan. Meski rasa sakit belum berkesudahan, perih masih beliau rasakan, luka belum sembuh, bahkan. Namun ibu bersama senyuman, menyambut tangisan bayi dalam gendongan. Tersenyum lagi, lagi dan lagi tersenyum. Karena beliau bahagia. Ya, kebahagiaan yang terlukis pada raut wajah. Wajah penuh harapan. Harapan terhadap bayi di hadapan. Agar ananda tumbuh beriman, shaleh-shalehah dalam kehidupan, berteman akrab dengan kebaikan.

Ibu kembali tersenyum. Siang malam, pagi sore, seraya merapikan pakaian, mencucikan, memasakkan, mengajarkan tatakrama dan aturan, melatih disiplin dan aneka kepandaian, hingga bayi bisa duduk, merangkak dan berjalan. Tidak sampai di situ. Saat balita hingga belajar berlari pun, tidak luput dari perhatian beliau. Sampai buah hati tercinta, menempuh masa pendidikan di sekolah, ibu memberikan kebaikan. Kebaikan lagi dan lagi, untuk kita. Lalu, bagaimana kita memperlakukan beliau, sebagai balasan kebaikan?

Walau bagaimana pun, kebaikan yang kita lakukan terhadap beliau, belum akan dapat membalas sempurna kebaikan ibu terhadap kita. Meski setitik. Karena kebaikan ibu melimpah, mengalir, sepanjang jalan, tidak bertepi. Kebaikan yang tidak akan pernah berujung. Kebaikan untuk kita teruskan, menyambungnya, membagikannya. Agar harapan ibu tidak redup, namun terus menyala selamanya. Di dunia dan akhirat di sana.

Tersenyumlah selalu ibunda jelita, senyum bahagia sepanjang usia.

Lovely Smile With,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s