Menulis, bagiku adalah obat mujarab untuk menyemaikan isi pikiran, menelurkan perasaan dengan mudah, dan mencairkan waktu lebih cepat!

Ya, karena aku tidak cukup mudah berucap kata untuk menyampaikan apa yang ku mau. Apalagi menyusun sebait kalimat untuk menyampaikan gagasan. Semua tidak mudah bagiku. Sehingga aku akan sering terlihat diam dalam kebersamaan di sebuah lingkaran atau perkumpulan. Walau sesungguhnya aku pun ingin membaur dalam pembicaraan, akan tetapi, lisanku tak berkenan. Sehingga, aku hanya bisa tersenyum, mengiyakan, atau larut dalam lautan pikiran. Ah, terdengar aneh, bukan?

Jangan salahkan aku, teman, pun jangan abaikan. Karena ternyata, dari hasil pengamatan, penelitian, baca-baca kenyataan di lapangan, intip-intip diari maya sahabat lainnya, pun membaca kutipan-kutipan tulisan, bahkan sampai menemukan setumpuk catatan di lemari pakaian, rupanya aku tak sendiri, teman. Karena ada banyak insan di sanaaa, jauh dariku, namun akhirnya kami (aku aja kalii, merasa sehati). Karena mereka pun semirip denganku, kesulitan menyampaikan isi hati. Bahkan ada yang lebih parah lagi, sangat suka menyendiri, berteman kompi, senang menyepi, sunyi, akhirnya lahirlah sebuah puisi tentang diri. Hihii, aku pernah mengalami begini. Bahkan sudah sampai pada taraf mewek-mewek menangisi diri, "Mengapa aku begini, mengapa aku di sini? Apakah aku aneh? Lalu, bagaimana aku keluar dari situasi ini? Karena aku sangat tak nyaman kalau begini sepanjang hari."

Lama kelamaan, akhirnya aku mengetahui. Tersingkaplah segala rahasia diri. Terbukalah inspirasi. Terbuang uneg-uneg yang tak berarti lagi. Setelah ku baca lagi diari, ku selami hingga ke akarnya. Ku ubek-ubek sampai hancur, berkeping-keping tak rapi lagi. Ku coreti semua yang penuh tangisan dan rasa tersakiti. Ku biarkan yang berhias senyuman. Ku tertawai lagi yang berhiaskan gigi-gigi tersusun rapi. Karena saat menulis diari (dulu), aku pakai buku. Nah, pakai gambar-gambar dan emoticon begityuu. Trus kalau sedih pakai titik-titik banyak di belakang kalimat. Di tambah hikshikshiks sepanjang-panjangnya! Ah, aku tertawa ngakak bacanya lagi. Karena ternyata aku begini.

Saat ini, berbeda. Ku nulis diari di lembar digital. Lembaran yang tak dapat ku hiasi gambar-gambar lagi. Gambar yang ku hiasi emoticon buatan sendiri. Ekspresi yang ku lukis sepenuh hati. Bahkan gambar-gambar bunga setaman, tak akan ada lagi. Walau begitu, ada nuansa lain yang muncul kini. Ya, ketika ku berhasil menyusun sebuah paragraf, maka aku bahagia tak terkira, ceria ga habis-habisnya (walau suka menyusut sesuai cuaca), dan kemudian senyuman mengembang di pipi, karena aku senang melakukannya. Senyuman yang merekah berwarna putih, seputih kuntum melati di halaman rumah. Melati yang belajar mekar untuk pertama kali, walau baru sekuntum adanya, namun ku yakin mereka akan bersemi lagi, esok, esok dan nanti. Wahai melati, tumbuh yang subur yaak. Untuk menemaniku tersenyum lagi, setiap kali melihat kuntummu bertambah banyak dan bersemi. Senyuman yang terkadang berwarna pingki, merah muda, seperti bunga mawar yang mekar sepanjang hari. Hihii, lalu dipetiki juga, oleh duo kurcaci.

Ya. Menulis menjadi salah satu cara bagiku (khususnya) untuk menebarkan lagi senyuman terbaik. Saat hatiku gembira, ketika ia damai, bahkan saat sendu menyapa. Agar ku tahu, ada apa dengannya. Supaya terdeteksi perkembangannya. Bahkan sampai ku paham, bahwa sesungguhnya ia ada. Hingga aku tak perlu lagi menanya keadaan, mengapa begini dan begitu. Namun mengusaha menemukan cara, how can i survive in this life? And surprise their life? Bagaimana cara bertahan dalam kegamangan, bangkit dari keterpurukan, bergerak saat virus kemalasan menjangkiti, melangkah walau kesulitan dan tetap menebarkan senyuman bagi alam di saat lapang dan kejayaan. Sehingga, semesta merasai manfaatnya. Karena mentaripun tersenyum, maka aku ingin tersenyum bersamanya. Karena engkau mentari di hatiku, maka ku ingin engkau bersinar selalu, di sana.

Menulis pun adalah salah satu caraku untuk mengabadikan lintasan pikiran, ingatan, suara dari dalam diri ini. Karena aku tak ingin ia berlalu begitu saja tanpa sempat mengabadikannya dalam tulisan. Walau singkat, meski berat, maka ku coba menyusun kata. Karena mereka bisa datang kapan saja, tak kenal waktu, memang. Hadirnya bisa saja saat berinteraksi dengan alam, saat bercakap-cakap dengan seseorang atau ketika sedang melangkah gontai tanpa semangat! Haiiii saat itu pun, pikiran menerawang menembus awan gemawan, mengimpikannya jatuh selembar lalu nempel di wajah. Kemudian wajahpun putih bersih berseri, sebening kaca, seputih kapas, selembut awan, seindah sutera. Beberapa saat kemudian di saat engkau masih dalam impian juga, turunlah hujan menitik pelan-pelan, membasahi wajahmu. Lalu, airmata pun muncul tanpa panggilan. Engkau larut bersamanya, hanyut dan tenggelam. Tak muncul lagi, karena asyik dengan kesejukkan berkelanjutan.

Tak semua orang tahu, teman. Impianmu setinggi apa? Sejauh mana? Maka selagi engkau punya impian, gapailah walau tinggi, rengkuhlah meski jauh, dan kuat-kuatkan hati, cepat-cepatkan gerak kaki, melangkah lah lagi meski letih. Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari? Di mana kita berada setelah ini? Cukuplah keyakinan menjadi tongkat saat tubuhmu lelah. Saat jalan yang engkau tapaki, berduri. Kemudian tersenyumlah lagi, yakini engkau sampai.

Hai, hai, hari ini masih pagi, kawan. Sedangkan mentari belum meninggi. Engkau bisa menemukan ide dan inspirasi sepanjang hari ini. Untuk membuka lagi pikiran dan memperluas jiwa. Tangkap berbagai kesempatan, iyakan beraneka kemungkinan. Engkau pasti bisa, yakin bisa. Allahu akbar!

Menulislah untuk menemukan teman, menjadi teman terbaik. Menulislah saat dalam kesunyian, di gelap malam. Karena duniamu tidak akan pernah gelap lagi, setelah engkau menulis. Benderang jalan harapan sedang menantimu untuk engkau susuri. Kuatkan tekad, terus berjuang. Karena kita tidak akan pernah mati karena menulis, namun abadi. Kita tidak akan sedih karena menulis, walau menulis dalam kesedihan. Karena di sana, ada yang sedang mensenyumimu, tersenyum untukmu. Mereka adalah teman-temanmu yang juga mengalami hal serupa denganmu. Dan karena ia punya teman sepertimu, maka senyumannya hadir.

Pada saat seseorang tersenyum untukmu, karenamu, semoga menambah kebaikan untukmu.

Aku bahagia menemukanmu, ku bahagia membersamaimu. Walau tertatih jemari melangkah, ku semangati ia lagi. Karena senyuman menanti, setelah paragraf-paragraf cantik tersusun rapi. #belajarmenulisparagraf+lagi.

Lovely Smile With,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s