Tidak.

Tidak ada yang salah dengan perbedaan. Karena perbedaan ada untuk memberi kita jeda memantabkan rasa. Supaya sayang tidak sementara. Agar kasih tak apa adanya. Sedangkan cinta, maunya sepanjang masa.

Ya.

Meski gelap, melangkahlah. Walau gulita, berjalanlah. Teruslah berjuang, kawan. Karena malam tidak selamanya. Esok mentari akan berseri juga. Menampakkan senyuman meriahnya, berbagi ceria dengan semesta. Sama seperti dirimu, yang mendamba ceria dalam hari-hari, bukan?

Tidak.

Bukan jarak begitu teganya. Apalagi membuat kita semakin terseok dalam langkah-langkah di rimba dunia. Bukan, namun ia memberi kita lebih banyak kesempatan untuk menghayati waktu yang menyapa, menanya rerumputan di sepanjang perjalanan. Agar kita tahu makna perjuangan.

Ya.

Karena pejuang tak akan kembali sebelum menang. Ia tak berbalik arah sebelum pastikan kondisi medan. Namun ia rela nyawa melayang, meski raga terkena tebasan pedang, sementara darah mengalir menggenanginya. Maka saat itulah pejuang tenang. Ia berjibaku dengan senang. Tak kenal waktu. Kalau diminta berjuang, maka ia maju. Meski nyawa taruhannya. Lalu bagaimana denganmu, teman? Sedangkan engkau adalah pejuang. Lalu, mengapa masih ragu? Hanya untuk membuka jendela, lalu memandang alam, engkau tak mau?

Bukan.

Bukan tak mau membuka jendela. Hanya saja ku lihat kondisi alam begitu. Terkadang cerah, sering kelabu. Tidak menentu. Lalu bagaimana ku mampu menyaksikan segala pilu dan deru? Saat airmata langit menggugu sendu, sedangkan mentari tak kunjung bertamu? Ah. Terkadang ia muncul sejenak, mengintip lewat jendela rumahku. Namun sebentar saja, kemudian ia pun berlalu. Hanya ingin tahu, pikirku. Maka, aku memilih di sini dengan seribu tanya berputar-putar di ruang pikir. Tanya yang ku susun dengan kalimat-kalimat tiada akhir. Supaya ku yakin, aku masih mau mengukir senyuman dalam hariku. Walau di sini, dari balik tirai jendela rumahku. Karena ku tahu, di sini sangat nyaman bagiku.

***

Hheeeeeiii!

Yaaaa… niii.

#Hihi.ngikik

***

Hanya di balik jendela, lalu tak mau melihat ke alam sana, apa gunanya? Bukankah engkau masih hidup dan bernafas? Lalu, tidak kah engkau membutuhkan udara segar yang senantiasa rindu membelai wajah tirusmu? Bukankah engkau pun membutuhkan senyuman mentari yang langsung menepi di lembaran pipimu? Sedangkan saat malam menyapa, bebintang dan rembulan pun duduk manis menantimu. Untuk membersamainya bercengkerama di atas awan gemawan nan berarak pelan. Tidakkah engkau pengen turut?

***

Jawabannya masih sama, "Aku masih ingin di sini. Menenun hari bersama benang-benang asa tak berujung. Seraya tersenyum. Agar di akhir nanti senyuman terbaik pun menemani hariku. Hanya ingin merangkai senyuman. Senyuman terindah yang ku latih bersemi, tak hanya di wajah ini."

Ya.

#Bukajendela

Saat ini ku buka jendela, ku biarkan begitu saja, tanpa ku ingin memandang alam di luar sana. Dan ketika engkau berkunjung esok dan nanti, boleh lah berhenti sebentar di dekat jendela. Semoga nuansa alam penuh senyuman terbaik dari balik jendela dapat engkau nikmati dengan leluasa, yaa.

Walau tak kau lihat senyumanku, sesungguhnya aku sedang merangkainya untukmu. Lalu, silakan melanjutkan perjalananmu berikutnya, yaa. ^^

Selamat jalan dan sampai berjumpa, teman. []

Lovely Smile With,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s