Saat ku rindu pada mereka, teman-temanku, maka hanya mampu ku pandang foto-foto kebersamaan kami dengan haru. Semakin lama ku memandang, maka semakin menderu gemuruh di ruang dadaku. Aku sangat menikmati moment yang seru ini. Yuhuu! Karena kalau dengan begini, maka mudahlah tumpah bulir bening permata kehidupan dari bendungan mataku. Kemudian menepi di pipi, dan membasahi pangkuanku. Huhuuuu… Sungguh rindu, aku mengenangmu, teman-temankuuuuu. *Peluk jauh dariku, cipika-cipiki lewat sang bayu yang mengirimkan salam cantik buatmu.

Seratus lima belas hari sejak perpisahan kita, lewat tiga bulan yang lalu. Akhir pertemuan raga yang syahdu, namun tak mau ku berai tetes bening di depanmu. Karena aku tak ingin mereka pun membasahi pipimu. Namun tahukah engkau wahai teman, saat kita mulai berjarak raga, maka ku lepaskan semampuku, lalu aku menangis tersedu. Huhuuuu. Lihatlah bekasnya keesokan hari, sembab mataku, bersulam pilu yang masih tersisa. Sedangkan mata panda membersamaiku untuk beberapa hari kemudian. Karena kalau sudah menangis, sampai berjam-jam aku. Huhuuuu.

Terkenang kebersamaan kita dulu, aku sangat bersyukur. Sehingga menjalaninya dengan senyuman menebar di pipi dalam berbagai kesempatan kita bersama, aku upayakan. Walau hatiku tak selalu begitu, akan tetapi rona wajahku menepisnya lagi. Aku mesti tersenyum, aku perlu berceria ria, aku kuddu mampu menghela deru di dalam jiwa ini, agar lebih sering bersemi ceria. Sehingga mau tak mau, senyuman pun hadir untukmu, hehee. Lalu, bagaimanakah kabarmu hari ini, teman-temanku, muslimah shaleha idamanku sejak dulu?

Yach, lamaaaa sangat aku menyusun rindu. Sering aku berhusnuzan kepada-Nya. Berbaik sangka di dalam doa, lalu mengiringi dengan tulisan. Berbaik sangka sering-sering, memula dengan catatan sehari-hari. Sebelum kita bertemu, maka aku hanya mendamba setinggi-tingginya. Ku susun alasan untuk bertemu, ku tata ingatan agar tak lupa. Selalu, lagi dan terus begitu. Hingga akhirnya, kita pun bertemu di sebuah lembaga ilmu dan penuh berkah. Belajar bersama kita berpacu, bersegera kita mengingatkan. Saat ada di antara kita yang menurun keimanannya, maka saling menasihati itu perlu. Engkau teman-temanku, terima kasih yaa, atas kebersamaan yang indah. Ku kenang hingga nanti, sampai di ujung usia. Dan kini, mengabadikan deru rindu ku lakukan, agar engkau pun tahu, aku bahagia mengenalmu, teman… Selamat melanjutkan perjuangan, aku mendoakanmu selalu. Doakan aku juga, yhaa… walau jauh di mata, selamanya kita bertemu sapa, dalam doa-doa terindah yang terlantun di kesempatan terbaikmu.

Wahai teman, kita mungkin berjauhan raga, namun hati kita semakin dekat. Karena bentang jarak ini ada untuk mengingatkan kita selalu kepada Allahu, Dia Yang Mengizinkan kita bertemu, bersama, walau beberapa waktu. Ai miss you sister, teteh-tetehku, saudarikuuuu… Titip salam buat keluarga besar kita yhaa. See you. Salam Ukhuwah dariku, untuk semua. Semoga di jannah kita kembali bereuni, aamiin ya Allah. []

Lovely Smile With,
~My Surya~
@HomeSweetHome

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s