Haii ingatkah engkau teman, tentang kisah si Narcissuss yang melegenda itucch? Yeah, seorang yang sangat mencintai dirinya sendiri, sehingga sampai pada tingkat akut. Keakutan yang membawanya pada ketidaknormalan sebagai seorang manusia. Apakah kisah tersebut benar demikian dan nyata adanya? Aku pun menanya. Pertanyaan yang muncul karena aku tidak langsung bertemu dengannya. Si Narcissuss. Dan aku pun tidak pernah berkenalan dengannya, apalagi berteman sangat akrab. Namun begitu, dari sekilas kisah yang ku baca tentangnya, narcissuss mempunyai karakter yang bisa menular, lhoo. Betul. Seperti yang belakangan ini kita lihat. Begitu mudahnya kita menemukan narcissuss di mana-mana. Termasuk pada suatu hari, di sepanjang pematang sawah. Pagi hari menjelang siang, kami pun berkenalan. Ya, aku menemukannya sedang maju mundur cantik dengan anggunnya. Perkenalan singkat nan berkesan, membuatku sangat ingin mengabadikannya pula di sini. Walau hanya dengan beberapa untai kata. Hah! Ternyata narcissuss itu ada dan dekat pula denganku.

One day, di suatu hari yang lalu, kami memang pernah bersama. Berteman. Berakraban. Bercengkerama. Bermain. Bersenyuman. Tertawa. Berlari. Dan sering melangkah dengan indahnya. Bersamanya pula, aku belajar mengerti arti kehidupan. Hmmmm… Iya. Hingga akhirnya aku menyadari bahwa tidak selamanya kaki-kaki kami melangkah beriringan. Dan kami pun berpisah. Perpisahan yang terjadi dengan indah pula. Seindah kebersamaan setelah perkenalan dengannya.

Narcissuss dalam diriku, wahai hilanglah ia dan berangkatlah dengan tenang ke alammu. Karena aku pun ingin melanjutkan kehidupanku dengan damai. Mari kita melangkah di jalan kita masing-masing. Agar kebahagiaan tak hanya mimpi. Namun benar-benar menjadi realita. Tentu saja tanpa bersamamu, namun bersama orang-orang tersayang yang hadir dalam hidupku.

***

Terkadang, sangat mudah mendeteksi, saat kita sangat mencintai diri sendiri. Tanda-tandanya adalah begitu seringnya kita memperhatikannya. Hingga kita sibuk dan asyik dengannya. Seakan kita mempunyai dunia sendiri. Sampai abaikan sekitar. Yah. Padahal kita masih menjejak di dunia fana bersama insan lainnya. Sedangkan kita menjadi tak terlalu mengenalinya, apalagi memperhatikannya.

***

Engkau memang pernah bilang padaku bahwa jalan takdir kita berbeda-beda. Apalagi saat semakin bertumbuh dan bertambah usia. Maka begitu pula dengan jalan takdir kita. Engkau ke Selatan, sedangkan aku ke Utara. Teman-teman kita ke Barat, beberapa diantaranya ke arah Timur. Namun jangan pernah menyerah pada takdir, ibu pernah bilang pula. Makanyaaah, bergerak dan berusaha serta berdoa seraya melanjutkan langkah adalah jalan kita untuk saling berjumpa. Meskipun kita tertakdir berbeda-beda, akan tetapi dengan doa dapat mengubah takdir. Doakan mereka maka engkau sedang mendoakan dirimu juga. Cintai mereka maka engkau mencintai dirimu sendiri. Maka sepanjang pengetahuanku, narcissuss sejati adalah mereka yang tidak lagi mencintai dirinya. Karena ia sangat mengenal siapa teman-teman yang ia cintai. Dan dia hanya ingin yang terbaik bagi mereka yang dicintainya.

"Give your best and you get the best."

***

Terima kasih teman, untuk doa-doa yang engkau layangkan untukku. Meskipun kita belum saling kenal. Doamu adalah semangat hidupku. Dan doaku untukmu, walau kita tidak akan pernah bertemu. Karena aku di sini dan engkau di sana. Jauuuuh tak terjabat, dekat tak terlihat. Karena dunia kita berbeda. Walau begitu, senyuman yang ku rangkai hingga detik ini adalah juga untukmu, karena engkau sahabatku. Terima kasih untuk telah sudi memahamiku ketika ku pernah narsis terlihat olehmu. Tolong ingatkan aku saat narsis datang menyapaku (lagi). Dan mohon maaf yaa… untuk segala ulahku dulu. Karena semua aku lakukan untuk mengenali diriku. Dan setelah aku cukup tahu diri, maka melanjutkan langkah dengan cantik di sepanjang hari adalah upayaku untuk sampai di tujuan. Insya Allah esok kita akan bertemu, yakinku. []

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s