Siang yang indah ketika mentari tersenyum menawan. Sedangkan awan gemawan tak satu pun kelihatan. Ya, walaupun akhir-akhir ini sudah mulai musim penghujan, namun siang hari lebih sering terik sekali, kawan. Sedangkan giliran hujan turun adalah sore hari menjelang malam, hingga malam semakin pekat. Bahkan saat mentari akan bersinar lagi esok hari, ketika fajar menyingsing, masih tersisa gerimis semalam. Ah, musim yang romantis, batinku. Karena malam kelam dihiasi suara rerintik hujan, tentu sangat cocok untuk tidur nyenyak, bukan?

Hihii. Apalagi sesiang hari disibukkan dengan rutinitas dan aktivitas berjejal tak berkesudahan. Ditambah pula dengan cuaca panas siang hari yang tidak memungkinkan untuk boci (bobo ciang). Begini yang ku alami. Namun berbeda halnya dengan anak-anak. Ternyata mereka bisa boci walau cuaca panas sangat. Ha? Bagaimana ini bisa terjadi?

Pada suatu kesempatan, di sela aktivitas rutin yang ku lakukan seharian, aku sempat kembali ke rumah, sebentar. Upz?! Akhir-akhir ini aku menjadi tersibukkan, lho… dengan pekerjaan rumahan. Ya, berhubung di pekarangan kami lumayan luasss dengan pepohonan di sekitar dan lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk bertanam. Maka menjadilah kami sebagai pekebun beneran, berkebun macam-macam rempah. Seperti laos, jahe, kunyit, ubi-ubian, sayur-sayuran, dan lain sebagainya keperluan harian. Nah, berhubung sudah datang musim penghujan, lahan yang tersedia pun lebih mudah untuk ditanam. Asyiiik, aku kembali ke alam. Setelah sekian lama meninggalkannya untuk keperluan melanjutkan langkah di perantauan. Rantau dalam kenangan. Dan akhirnya kembali pulang menjadi pilihan untuk sebuah pengabdian.

Sesampai di rumah dalam jeda waktu rehat kami, aku menyaksikan pemandangan yang berkesan. Yes! Dua bocah perempuan, para ponakan sedang bobo ciang dengan cantiknya. Berteman melodi yang mereka ciptakan di alam mimpi masing-masing, maka terciptalah aneka penampakkan. Dengan pose bobo masa kanak-kanaknya, mereka sangat nyenyak. Maka saat itu, ide dan keusilanku menggerak-gerakkan jemari untuk bergegas mengabadikan momen ini. Semoga teringatkanku dengan mereka lagi, ketika akhirnya kami berjauhan raga. Dan memori yang tersisa cukup untuk kami saling bersenyuman di dalam hati. Karena bernostalgia adalah seperti kembali mengalami masa-masa yang telah kita lalui. Namun kita tidak dapat menjalaninya kembali. Maka hanya mengingati … mensenyumi … menertawai … menjadikannya sebagai prasasti tentang hari ini. Selalu abadi.

***

Dengan perantara sebuah bantal guling, mereka terlihat sedang menari. Menari dengan lincah, bergerak kian kemari. Subhanallah, melihat pemandangan begini, aku jadi berpikir, ternyata benar bahwa memandang orang yang sedang tertidur sangat mudah meluluhkan hati. Menghadirkan rasa iba dan kasihan, memantabkan kasih sayang, mengokohkan cinta dan perhatian. Lalu, perlahan lumerlah bulir bening permata kehidupan di pipi, seiring dengan jatuhnya tatapan mata pada wajah-wajah nan lugu, ayu, dan masih suci.

Mereka adalah buah hati kakakku tercinta, yang dalam kondisi terjaganya, super aktif dan sangat gemar membuat keriuhan kami. Haaiii anak-anak, cepatlah bertumbuh besar dan menjadi buah hati yang penuh bakti pada orang tua yaa. Karena kasih sayang beliau yang melimpah tercurah tidak akan pernah dapat terbalasi. Hanya doa anak yang shaleh/shalehah menjadi harapan di saat amal jariyah dan ilmu bermanfaat belum dapat kami bagi semasa hidup di dunia. Maka doa-doa terindah dari kalian adalah hadiah yang tidak tergantikan dengan apapun, ketika kami sudah tiada, nanti.

So, jangan bobo terus, setelah bangun, maka bergeraklah. Berusaha. Berdoa. Dan semoga langkah-langkah kalian adalah senantiasa menuju ridha-Nya. Aamiin. []

Created By : Me
On Saturday 14112015 at 14:51 Where ? Di kamarku
Will Post It : Saat sudah bisa online. Hehee. Maaph klo late post.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s