Ketika harapan belum menjadi kenyataan, maka hadapilah dengan senyuman. Karena engkau masih mempunyai kesempatan untuk menghayati keadaan, memahami kehidupan. Karena mungkin Allah mempunyai rencana yang terbaik untukmu. Karena engkau bukan satu-satunya orang di muka bumi ini yang mengalaminya. Karena masih banyak di luar sana orang-orang yang harapannya masih berjarak dengannya. Karena mungkin belum waktunya. Maka yakini saja. Lalu, tersenyumlah lebih indah, hari ini. Karena mentari pun tersenyum.

Ketika harapanmu belum menjadi kenyataan. Maka terus menjaganya adalah pilihan. Karena harapan adalah pelita yang menerangi langkah-langkahmu. Ketika sekitar penuh kegelapan menggulita. Maka harapan memberimu panduan untuk terus melangkah maju. Dan bersama harapan, engkau akan menjalani waktu sedetik berikutnya dalam hidupmu dengan semangat yang terus bertambah. Percayalah dan buktikan benar-benar. Bahwa harapan menjadi pembangkit energimu agar engkau tetap hidup, untuk bertahan di tengah kesulitan. Dan sedikit demi sedikit bergeser, bergerak melangkah, menuju harapan terbaikmu. Ya, agar harapanmu tercapai, engkau memang harus terus bergerak. Meski lemah, walau lelah. Karena semua akan terbayar sudah. Maka tersenyumlah sumringah, karena mentari pun tersenyum.

Saat engkau meyakinkan dirimu saja, maka engkau sudah mengumpulkan setengah energimu untuk berusaha. Apalagi kalau ditambah dengan berusaha dan berdoa. Maka insya Allah, jalan hidup yang lempang akan engkau temui juga. Dengan hari-hari yang berwarna-warni, engkau akan menikmati semuanya. Karena segala keadaan engkau jalani, untuk mengingatkanmu lagi tentang arti penting ‘keyakinan’. Lalu tersenyumlah lebih ceria saat ini. Senyuman yang engkau bagikan pada sesiapa saja dan dekat denganmu. Baik yang benar-benar dekat bersebelahan raga, maupun yang dekat hanya di hati, dalam ingatan. Sedangkan raganya entah di mana. Maka tersenyumlah saat ini lebih cerah. Secerah senyuman mentari siang tadi. Karena mentari pun tersenyum. Lalu, menjadilah engkau mentari di hati sesiapa saja, agar hari-harinya menjadi penuh sinar dan terkenang padamu setiap kali ia menatap mentari di atas sana. Dan engkau adalah mentari di hatiku. Mentari yang tersenyum di langit hati.

Jauuuuuh. Nun jauuuuh jauh hari sebelumnya, aku pun mengharapkan engkau menjadi bagian dari kehidupan hari iniku. Hingga ia menjadi kenyataan. Maka nikmat-Nya yang mana lagikah yang aku dustakan? Bila saja perkenalan, pertemuan dan kebersamaan kita adalah bagian dari harapan laluku? Maka tersenyumlah teman, karena mentari pun tersenyum untuk kita. Selalu.

Maka senyuman kita adalah untuk merayakan syukur saat harapan menjadi kenyataan dan mendata sabar ketika harapan masih berjauhan dengan kenyataan yang kita alami. [14112015]

Created by : Me
Where ? In Home Sweet Home (My Room)
On Saturday Night at 9:19 pm
… will be late post.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s