Pernah kami bertengkar. Pertengkaran kecil yang tidak dapat terelakkan lagi. Pertengkaran yang harus dan mesti terjadi. Pertengkaran dalam suara yang akhirnya muncul. Pertengkaran kecil. Ya, begini kami menyebutnya.

Kami tidak selalu seide, sependapat, atau satu maksud. Walau demikian, sedapat mungkin kami menghindari pertengkaran. Namun, insan hidup dengan egonya masing-masing. Saat yang satu tidak dapat bersabar dengan yang lainnya, maka pertengkaran pun terjadi sudah. Hah! Seharusnya kami tidak bertengkar, kalau saja kami mengerti satu sama lain. Dan pertengkaran tidak akan pernah terjadi (lagi) saat kami mampu menahan diri, sedikit lagi saja. Begini harapku kini… nanti… dan selalu.

Setelah pertengkaran terjadi, tidak ada yang menang atau kalah. Namun hanya akan menyisakan sayang, kasih dan iba. Karena kami bersaudara…

***

Berbincang tentang pertengkaran, seumur-umurku di dunia ini, sangat jarang aku mengalaminya. Alih-alih maju ke tengah pertengkaran, aku malam segera mundur untuk menenangkan diri. Ku tanya hati, ku periksa imajinasi. Kemudian, setelah menyapanya sebaik mungkin, maka diam ku adalah pilihan. Kalau pun aku marah karena tidak sempat meluapkan uneg-uneg dan melepas ego, maka aku memilih diam. Diam seribu bahasa, tanpa kata apalagi suara. Ah! Aku tak mengerti juga, dengan semua yang ku jalani, dulu.

Dulu aku memang begitu.

***

Seiring berjalannya waktu, bergulirnya masa, bertukarnya hari, bertumbuh diri, aku pun tahu sekitarku kini. Setelah sekian lama menekuri keadaan, memperhatikan perubahan dan mengalami aneka perasaan. Maka, tidak salah ku pikir, untuk menjalani pula pertengkaran kecil ini. Xixii.

Pertengkaran kecil, yang apabila ku teringat, maka aku akan malu sendiri. Aku akan segera tersenyum penuh makna, bahkan hingga tertawa. Karena aku bersyukur, akhirnya pernah bertengkar juga. Pertengkaran kecil penuh arti, bertabur pesan nan mengesankan.

***

Pertengkaran kecil ini, aku suka. Pertengkaran lebih tepatnya dengan seorang anak kecil. Yes. Pertengkaran yang terjadi karena aku yang kekanak-kanakkan akhirnya. Karena kalau saja aku bersikap lebih dewasa, maka tidak akan terjadi pertengkaran kecil kami.

Tentang pertengkaran dengan anak kecil, aku suka. Karena anak kecil halus budinya, lembut sikapnya, sangat mudah baik lagi dan berteman beberapa saat kemudian. Anak kecil yang sangat mudah memaafkan, sehingga mudah pula untuk dimaafkan. Anak kecil yang memang kanak-kanak sehingga pertengkaran adalah sangat lumrah ada dalam kesehariannya. Berbeda dengan kita (aku) yang hanya kekanak-kanakkan. Maka pertengkaran pun pernah menghiasi kebersamaan kami.

Tentang pertengkaran kecil, bertengkar dengan anak kecil, seorang gadis belia, saudara mudaku, adalah hiasan di sejarah kehidupanku. Hiasan yang cukup tercipta sekali saja, lalu menjadi prasasti. Untuk selanjutnya mempiguranya di ruang hati. Kemudian biarkan ia di sana, untuk kenang-kenangan di hari nanti. Dan setelah ia dewasa kelak, sedangkan aku menua, kami menatapnya untuk bernostalgia. Ah… alangkah indahnya, bila yang ada di memorinya adalah kenangan megah tentang kami.

Ah.. ada-ada saja, pikirku.

Bila pertengkaran dengan anak kecil harus terjadi lagi. Bukankah aku sudah dewasa? Lalu mengapa masih mudah terbawa emosi, tidak bersabar dan cepat sekali marah, bila berhadapan dengan anak-anak yang usianya tentu lebih jauh muda dia dari pada aku? Lalu, mau ku bawa ke mana muka ini saatku malu bila mengingati kelakuanku? Yang keterlaluan ituuuuucchh… Huhuu. Gak lagi-lagi dech, bertengkar dengan anak kecil.

***

Anak kecil, ia ada untuk disayang…
Ia datang untuk dipandang…
Dielus kepalanya, digenggam jemarinya…
Membimbing saat ia melangkah dan menasihati ketika salah…

Ya Allah, lembutkan hati kami untuk menyayangi mereka … []

🙂🙂🙂

One thought on “Back Scene of “Pertengkaran Kecil”

  1. Pertengkaran kecil kemarin..
    Cukup jadi lembaran hikmah..
    Karena aku, ingin tetap sahabatmu..
    eaaa nanyi..

    Uniii… sistersss… miss youuuu..
    i think u will miss me too..

    Like

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s