"Tangan-tanganmu adalah sayap-sayapmu. Maka kepakkan ia seimbang, untuk membawamu terbang menuju negeri terjauh yang engkau pernah impikan. And then, where will you go, with them?"

***

Ya, engkau hanya perlu menggenggam erat impianmu di kedua telapak tanganmu. Dan kemudian usahakan sekepak-dua kepak dalam berbagai waktu luangmu untuk melepasnya. Biarkan ia melayang terbang dan meliuk di udara, walau tak tinggi. Karena ada Yang Maha Tinggi, sedang menariknya agar semakin meninggi. Sedangkan engkau hanya perlu bergerak terus dan selalu, agar impianmu selalu ada. Meski dalam kondisi tersulit sekalipun, menurutmu. Sedangkan menurut-Nya, tentu tak ada yang tidak mungkin, bukan? Wallahu a’lam.

Ah… sampai pada paragraf ini, boleh yaa.. engkau menarik nafas sejenak. Agar lega jiwamu dan tenang pikirmu. Karena ku perhatikan engkau sudah mulai serius. Keep, keep, keep calm my friend. Tetap tenang, tarik nafas sejenak. Lalu tersenyumlah dulu. Hayati detik waktumu saat ini, perhatikan benar-benar posisimu berada sekarang. Lihat sekeliling, pahami keadaan. Kemudian, bolehlah engkau melanjutkan lagi ke paragraf berikutnya, yuuuk marii.😉

Karena hidup bukan tentang tergesa mencapai asa. Bukan juga tentang terburu menjemput impianmu. Namun hidup adalah tentang sejauh apa engkau benar-benar menikmati detik waktumu. Baik suka, duka tak bahagia, getir menyesak dada, lega menerpa jiwa, pening pala karena ada-ada saja yang engkau damba, namun engkau tak menyangka, ternyata kelebihan kapasitas pikirmu. So, sejenak saja, engkau perlu tersenyum diantara semua yang engkau alami. Apapun rasanya, bagaimanapun kesannya. Agar dunia ini menjadi tempat yang semakin indah untuk dihuni oleh kita. Haii, siapalah kita kalau tak ingat kepada-Nya dalam waktu-waktu kita.

Akhirnya, engkau akan mengerti bahwa, ternyata, engkau, kita, aku dan sesiapa saja yang pernah hadir dalam perjalanan hidup kita, beliau adalah berharga. Meski pada awalnya kita tak menyangka, rupanya beliau yang walau belum pernah kita berjumpa namun begitu melekat dalam jiwa. Karena hanya melalui sebaris kalimat yang beliau tera di lembar buku, majalah, bahkan di dunia maya sekalipun.

Sebuah kalimat yang teringat-ingat olehku sampai saat ini. Sampai aku menuliskannya di sini adalah separagraf di awal-awal catatan ini. Intinya adalah begitu. Entah kapan dan di mana aku membacanya? Seingatku di sebuah buku usang dan lama. Namun karena ia bermakna, aku pun menitipnya di sini. Sebagai pelecut semangat agar meninggi. Pendobrak jiwa agar tak kecut oleh keadaan. Sebagai penghangat hati yang semakin beku dan seperti tak bersamaku akhir-akhir ini. Maka ku rutinkan lagi membaca buku-buku koleksi Ayahanda. Buku-buku usang nan mulai menguning karena dimakan waktu, memang. Namun ia sangat berarti. Terima kasih ayah, untuk menitipkan semangat meski tak langsung. Namun melalui prasasti yang beliau pergilirkan hingga sampai pula padaku. Karena memang ayahku bukanlah seorang penulis. Akan tetapi beliau sangat gemar mengumpulkan buku-buku usang. Hingga aku pun berkesempatan mencicipi aroma sedap hikmah yang terdapat di dalam buku-buku tersebut.

Engkau. Siapapun yang berada di sekelilingmu saat ini, teman. Maka jangan lewatkan kesempatan untuk menitipkan sebaris dua baris hikmah untuknya. Untuk apa? Bukan untuk sesiapa. Akan tetapi semua akan kembali kepadamu juga. Baik langsung ataupun tidak langsung. Hikmah lisan atau tulisan, sikap ataupun perbuatan, bahkan sampai ekspresi yang engkau teladankan.

Hingga sejauh ini, aku sering sangat terkesan dengan beliau-beliau yang menghiasi perjalanan hidupku. Maka dalam relung hatiku berkata, untuk menjadikan beliau semua sebagai idola. Walaupun beliau tidak akan pernah tahu, namun setiap kali ingatan hadir terhadap beliau, aku yakin bahwa beliau pun sedang mengingatku. Cieee. Aku suka senyum klo ingat sesiapapun. Dengan begini, semangat hidupku tumbuh lagi. Ia bersemi seperti bebungaan yang bermekaran selepas hujan membasah bumi. Inspirasiku untuk merangkai senyuman terbit lagi, seperti halnya mentari yang muncul mensenyumi alam setiap hari. Walaupun tidak selalu terlihat jelas, namun yakinku ia selalu hadir untuk bersinar.

***

Saat ini, aku nulis-nulis aja apapun yang terpikir. Karena satu maksud, yaitu menambah jam terbang di dunia perbloggeran. Hu um. Untuk menjadikan detik ini abadi di dalam perjalanan. Sehingga ketika aku sampai di manapun, bersama siapapun, ku selipkan sebaris dua baris senyuman sebagai jejak dalam perjalanan.

Dan saat ini, aku sedang dan masih berada di kampung halaman. Untuk pengabdian terindah pada beliau yang sangat berperan dalam sejarah kehidupanku. Melanjutkan perjalanan malam dan awal hari menjelang fajar menyingsing, dalam kegelapan alam. Just info, di wilayah tempat tinggal kami, sampai detik ini ku menyusun laporan perjalanan, masih berselimut kabut asap, teman… Mohon doanya yaa, semoga alam kembali benderang semarak nan rupawan. Cerah berbinar penuh kecemerlangan. Sedangkan mentari tersenyum penuh keceriaan. Berhubung semenjak ku di sini lagi dari awal bulan ini, sang mentari yang bersinar masih temaram. Ia seakan turut memberikan salam persahabatan untukku. Persahabatan yang sedang mengalami masa kesedihan. Berhubung separuh jiwaku sedang melanjutkan perjalanan, jauh nun di sana di ujung alam. Sedangkan aku di sini… melanjutkan perjalanan dengan terus berhusnuzhan kepada-Nya. Harapan untuk kami pun bertemuan dan melayang di angkasa hingga menembus awan dan bersenyuman dengan mentari, lebih dekat. Iiicch, kalau bisa membawanya (mentari) dalam genggaman dan mempigura selanjutnya ku simpan di dinding hati. Agar ia tak beku lagi, redup nan kelam. Namun penuh cahaya, kehangatan dan benderang. Untuk menyinari hari-hari kami dan engkau kemudian.[]

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s