Mengapa perlu terapi?
Bagaimana agar semangat?
Untuk apa menulis (merangkai senyuman) ?

***

Aku. Lagi dan lagi, aku akan bercerita denganmu tentang aku. Di lain masa, kita akan berkisah tentang kita, engkau dan aku. Sedangkan masa berikutnya, akan ku bahas banyak hal tentang engkau saja, yaa. Boleh yaa.🙂

Aku adalah seorang yang pemalu. Sungguh pemalu semenjak dulu. Hingga akhirnya aku menyadari siapa aku, bagaimana kehidupan mengajariku, siapa saja yang mengharapkan kehadiranku termasuk akhir masa dalam usiaku. Yach, ketika ujung usia menyala dalam ingatan dan ia menyapaku akrab, aku pun tersadarkan segera. Kemudian kedua mata pun membuka, nadi berdetak lebih cepat, jantungku bergerak hebat, sedangkan jiwaku menarik-narik diriku untuk bangkit!

Aku mau hidup di akhir dunia ini berujung indah dan mewah. Aku ingin menutup usia dengan sakinah dan penuh senyuman. Aku damba husnul khatimah di ujung perjalanan. Dan semua itu menjadi pelecut semangat untuk kembalikan energi di ujung jemari. Setiap kali aku menyadari makna kehadiran diri.

Hingga saat ini. Ketika raga masih mampu menggerak jemari. Saat pikir bersentosa ria menjelajahi negeri. Sedangkan hati dan jiwa ini tak henti menanyai.

"Apakah inspirasi yang dapat kau bagi hari ini?," begini ia membisiki, ia sahabat perjalanan, teman seperjuangan.
Karena hidupku ingin berarti. Meski dari ujung jemari ku tetap mau berlari. Walaupun goyah lutut berdiri oleh cuaca nan dingin sekali, namun hangatnya senyuman mentari memberiku energi untuk bangun mengukir senyuman buat semesta.

Aku pemalu semenjak bayi. Hingga balita pun masih mengidap penyakit yang satu ini. Bahkan masa remaja adalah si gadis pemalu yang gemar berdiam di rumah, menjadi anggun dan senang membantu orang tua. Sehingga aku sangat jarang jalan-jalan apalagi untuk bergaul layaknya remaja seusia kami. Ah, masa remaja yang sangat murni. Penuh ketenangan nan mendamaikan hati. Sedangkan saat ku beranjak dewasa hingga kini, ku rasa ada yang berubah dengan diri ini. Aku seakan menjadi diri yang tidak pernah aku kenali. Seakan mimpi, impian yang menjadi kenyataan kah?

Ilusi dan imajinasi menari-nari dalam bayangan. Hatiku memang sempat mengingini menjalani hari penuh senyuman. Walaupun semenjak lama di masa kecil, si wajah tenang adalah julukan diri ini. Aku yang pemalu, tidak mudah berekspresi, ini dulu. Duluuuu sekali. Sebelum aku mengenalimu, teman. Hingga akhirnya, pertemuanku denganmu mengubah segalanya. Duniaku seakan penuh sinar mentari, cemerlang senantiasa siang hari. Walaupun memang malam menjelang, akan tetapi masih tersisa bekas-ceria senyumanmu di relung hati ini. Senyuman yang engkau teladankan tadi, ku ulang lagi mempraktikkannya. Maka aku pun mendapati wajah ini sudah tersenyum saja, padahal aku tak hendak tersenyum sejak tadi. Namun bagaimana bisa aku mengingkari nikmat Ilahi yang Dia beri?

Melaluimu teman, syukur ini mengalir dari detik ke menit. Hari ke hari semakin berseri. Kemudian membanjir lah senyuman pada wajah ini, seringkali, dalam kesempatan kita bersama, berjumpa, bersapa, atau hanya ketika ingatan mendekati pikir ini. Senyuman demi senyuman yang terangkai akhir-akhir ini, menjadi sahabat dalam bersabar dan teman akrab saat bersyukur.

Aku tersenyum kini pun, karena aku ingat, bahwa memang tidak selamanya kita akan bersama selagi dunia masih ada. Maka ku jaga senyuman masih ada, dengan harapan kelak kita kembali jumpa dalam senyuman yang lebih indah nan meriah di jannah… Ya Allah… pertemukan kami kembali, bersama beliau yang mencintaiMu dan Engkau pun MencintaiMu, hamba-hambaMu yang shaleh shalehah. Aamiin ya Allah, yaa mujibassailin.

Esok adalah hari yang akan kita jelang. Dan kita akan berjarak raga tidak lagi sedepa. Sedangkan saat ini adalah kebersamaan kita, mungkin untuk terakhir kalinya di dunia. Akhir kebersamaan yang indah, berteman merahnya warna seperti aliran nadi dalam darah. Maka teruslah bergerak, teman.

Berjuang.

Bangkit.

Maju.

Menggerakkan.

Dan senyumanmu yang menebar saat ini, menjadi bukti bahwa engkau pun rela melepasku pergi, walau berat. Aih! Aku tak ingin bulir bening ini menitik di hadapanmu. Karena pasti engkau akan mengalirkannya juga dari sudut matamu. Maka ku tahan ia sedapat mungkin. Agar tak habis stok airmataku, teman. Sebab semalam sudah kuluahkan sebanyak-banyaknya. Hingga bulat mataku, bukan? Lihatlah, lihatlah, bekas bobolnya bendungan mataku masih membekas di sudut mata. Dan nanti malam lagi nangisnya, supaya aku saja yang menangis atas perpisahan kita, sedangkan engkau tetap tersenyum. ###Egoisakuyak!!

Aku, memang tak mau melihat kesedihan di wajah beliau yang ku cintai. Ini yang membuat ku belajar untuk teguh dalam cobaan dan tegar dalam tantangan. Sampai-sampai aku tidak menyadari, apakah yang ku lakukan merugikan beliau yang ku cintai atau bahkan sampai merugikan diriku sendiri? Sejauh ini aku masih belajar menyelami makna pikir ini. Aku masih belajar mendata niat, menata hati, mengenal diri. Sampai akhirnya nanti, di ujung usia ini, aku pergi dalam ketenangan hati. Karena beliau yang ku sayangi dan menyayangiku pun memaklumi tentang diri ini. Aku yang hanya diriku, dan beginilah aku adanya.

Aku yang ku kenali sebagai mana adanya aku. Aku yang beliau kenali seperti beliau menilaiku. Sedangkan diriku yang sesungguhnya wallahu a’lam bish shawab. ^^…

Dan intinya adalah … Aku ada di sini untuk menjaga semangat menulis yang akhir-akhir ini meredup. Nyala redup, nyala redup. Semoga tak padam. Karena tanpanya, serasa ada yang kurang dalam hari ini. Dan bersamanya, bertambah lagi semangat hidupku ini. Karena dia adalah bagian diriku kini. Separuh jiwa yang tidak akan pernah pergi, walau ku lepas dengan senang hati. Namun ia akan datang lagi dan lagi setiap hari, untuk mengajakku serta dengannya, ke mana pun ia pergi, di negeri manapun ia bersinggah dan di hati sesiapapun ia berkunjung. Ah, betapa semakin mudahnya ku tersenyum kini. Terlebih saat ku menyadari bahwa usiaku tak akan lama lagi. Mungkinkah hingga esok, lusa, seminggu lagi atau tahun depan?

Allah knows best. Do our best now and hope when our last day come, we take our best rest. Hope. Hopefully. []

~~?…?~~

Next Note Theme is …. "When your smile day come, what will you do, friend?"

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s