Sudah sebelas bulan usianya. Baby imut perempuan berparas cantik nan menawan. Walaupun rambutnya tidak menguntai panjang, namun aura perempuan jelita terpancar melalui wajahnya yang penuh senyuman. Ya, karena hiasan wajah yang paling mudah adalah senyuman simetris dua sentimeter ke arah kiri dan kanan. Dan pernahkah engkau membuktikannya, teman? Lalu dapatkah engkau merincinya, kawan? Atau engkau sering mengaplikasikan dalam keseharian? Bahwa seorang perempuan yang tersenyum maka wajahnya pun terlihat lebih cantik dibandingkan saat tanpa senyuman.

Akhir-akhir ini, aku berteman dengan anak-anak balita. Karena dalam waktu yang sangat singkat ini, kami berkesempatan untuk bersama mengurai kisah dalam keseharian. Entah sampai kapan, namun yang pastinya kami hanya ingin menghayati detik-detik kebersamaan yang sangat berharga ini.

Dalam kebersamaam kami, salah seorang balita yang menjadi teman keseharianku adalah si cantik Lira nan lucu. Mengapa lucu nan cantik? Karena ia kadang tersenyum dan berekspresi unik. Suatu ketika main sendiri dan tetiba juga menitikkan air mata di sudut mata. Selanjutnya akan menetes dan mengalir lepas membasahi pipinya yang lembut.

Semenjak awal kami bersama, ia terlihat mudah tertidur dan sangat gampang juga terbangunnya. Nah, kebiasaan Lira kalau sudah bangun adalah bergerak kian ke mari, berjalan dan jatuh bangun tiada henti. Walau begitu, ia masih mengulangi dan bangkit lagi setiap kali terjatuh. Dan yang uniknya, malah menikmati proses yang ia tempuh untuk berdiri lagi. Walau sulit, meski rumit. Kelihatannya memang demikian. Akan tetapi, bagi Lira yang menjalani, ia sangat menikmati. Baik saat jatuh lalu berdiri lagi. Maupun ketika berdiri dan tetiba terduduk atau miring ke kiri dan ke kanan sempoyongan. Memang, karena belum sepenuhnya Lira berjalan normal. Dan semoga dalam waktu dekat ia sudah bisa berlari, aamiin.

Membersamai batita yang masih belajar berdiri dan berjalan, membuatku berpikir dan memetik pesan. Intinya adalah: tentang kegigihan untuk mau bangkit lagi saat ia terjatuh. Dan mungkin dalam usia yang masih sangat muda, ia belum bisa memikirkan tentang efek dari usahanya untuk bangkit. Kecuali hanya menikmati proses, mencoba lagi dan bangkit lagi saat terjatuh. Nah, anak kecil saja sudah begitu giatnya, demi bisa berdiri dan melanjutkan langkah. Lalu bagaimana dengan kita? Yach, kita-kita yang sudah berusia segini inich, akankah menyerah begitu saja, saat berjumpa tantangan di dalam perjalanan hidup ini?

Waktu hidup kita di dunia sangatlah singkat. Hanya sebentar dan sekali-kalinya. Lalu dalam menjalaninya? Apakah yang kita perbuat? Apakah hidup hanya untuk mencari-cari aib dan kesalahan orang lain, lalu tak pernah mau sempatkan waktu mengenal diri dan introspeksi? Apakah hidup kita hanya untuk makan, minum, tidur, jalan-jalan? Tanpa pernah mau mempersiapkan diri untuk menghadapi hari kematian yang pasti terjadi? Lalu siapakah yang dapat kita andalkan untuk hari yang akan kita jalani, hari esok penuh misteri?

Hari ini, esok dan kapanpun di masa mendatang, kita tidak pernah tahu apakah yang akan kita jalani. Walau kita merencana, namun kepastian adalah ketentuan Illahi Rabbi. Makanya, jangan pernah lupa dan melalaikanNya. Dan hanya kepada-Nya kita bergantung, mengharap segala pinta dan menyerahkan ujung daro

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s