Kita hanya dapat merencana dan mengusaha segala upaya. Namun percaya bahwa ada perencana terbaik atas kita. Sehingga saat rencana belum menjadi nyata, kita perlu senantiasa berbaik sangka kepada-Nya. Berbaik sangka, berbaik sangka. Sangka yang membuat kita kembali mau membuka mata untuk melihat indahnya dunia. Lalu mengumpulkan hikmah yang terserak di atasnya. Hikmah yang semoga membuat kita kembali berbahagia, tersenyum ceria, mencerah wajah dan mendata rasa. Apakah semua yang kita alami, kita jalani dan kita lakukan adalah semata karena-Nya?

Hujan.

Hari ini adalah hujan pertama di kota kita. Hujan yang akhirnya turun setelah sekian lama tiada. Hujan yang semoga menitipkan kesejukkan dan kesegaran di hari-hari kita berikutnya. Hujan yang menetes ini, tentu ada hikmahnya.

Menjelang pertemuan kita untuk kali pertama, diselingi hujan yang turun dengan derasnya. Hujan air, bukan airmata. Namun asli dan nyata, ia mengguyur alam dengan lepas, bebas, hingga me dekati banjir di jalan-jalan yang akan kita lewati. Ai! Ini belum pertemuan. Lalu, bersabarkah engkau di sana, teman? Kesabaran yang membuatmu tidak berlalu hanya karena hujan yang tetiba turun. Padahal, kita tidak pernah menyangka, ia akan turun sore ini.

Engkau, siapapun engkau, di manapun berada, dalam cuaca bagaimanapun, tetaplah percaya. Bahwa setelah hujan turun, kan hadir indah pelangi selajutnya mentari bersinar lagi.

Hujan.

Ah, saat hujan turun ke bumi, seperti saat ini, aku kembali merinduimu. Engkau yang akan hadir di dalam hari ini ku berikutnya membawa cahaya harapan dan senyuman. Engkau yang masih menjaganya ada, walaupun dalam kondisi apapun juga. Karena engkau adalah jiwa yang sahaja, penuh canda, mudah bahagia. Engkau mentari di hari-hariku, menjadi pelebur bekunya hatiku. Karena engkau aku mau melangkah lagi. Bersamamu hari ini semakin berseri.

Engkau sahabat, teman, guru, kakak, yang tidak akan pernah tergantikan. Karena pada dirimu ada keunikkan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dan hanya engkau yang memiliki kelebihanmu, mempunyai kekurangan yang tidak dimiliki orang lain. Sehingga engkau mudah menjadi dirimu sendiri setelah engkau mengetahui dirimu yang sesungguhnya. Dan bagiku, belajar darimu adalah anugerah hidup ini.

***

Hujan.

Sore.

Heheee…

***

Entah mengapa.

Terkadang kita hanya perlu mendata niat. Mengukur ikhtiar dan menambah syukur serta meninggikan sabar. Hingga tidak dapat tersentuh oleh ujian apapun juga yang mampir dalam keseharian. Agar pikir senantiasa jernih, bersih, tenang, damai nan sejuk. Dengan begini, tentu bumi menjadi tempat yang sangat damai untuk dihuni. Sampai kapanpun. Berapa lamapun. Meski hingga akhir waktu, selalu begitu. Oleh karenanya, kembalikan semua kepada Allah, bertawakkal adalah indah. []

🙂😉🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s