😉

Pagi hari nan sejuk, terasa berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Karena alhamdulillah, semalam hujan sudah mulai membasahi. Dan aroma harum bunga tanah yang bermekaran pun masih tersisa hingga pagi tiba. Kami yang sedang melangkah, segera mengambil arah menuju ke lokasi aktivitas. Namun sebelumnya, menarik nafas sejenak, untuk benar-benar menikmati nuansa pagi hari nan megah. Alhamdulillah, masih mempunyai kesempatan untuk melanjutkan perjalanan dalam kehidupan, di pagi ini. Semoga langkah-langkah kita adalah penuh dengan keberkahan, berhias bahagia dan ketenangan hati, serta manfaat diri yang terus bertambah tumbuh meninggi. Semoga, segala yang kita lakukan adalah benar dalam rangka mendekatkan diri kepada Ilahi, dan memperbaiki diri agar lebih baik dari waktu ke waktu. Serta istiqamah, menjadi pelecut jiwa untuk tak mudah lesu namun penuh semangat menggebu dalam menuntut ilmu. Yuhuu, karena perjalanan kita bukan hanya untuk menjemput rezeki, namun ada visi penting yang sedang kita tuju. Yang terurai jelas di atas tapak-tapak misi yang kita jejakkan satu persatu. Dan hari ini adalah kesempatan waktu untuk mengukirnya dengan tekad sempurna, kemudian terus bergerak maju.

Perjalanan menuju tempat aktivitas ku tempuh dengan berjalan kaki. Terkadang begitu, dan lebih sering begini. Nah, untuk menemukan lebih banyak inspirasi pagi hari, maka ku sengaja melewati jalan yang berbeda dari hari kemarin. Begitu seterusnya, dan aku akan melewati jalan yang sama di hari lusa atau beberapa hari berikutnya, ya. Karena bagiku, melewati jalan berbeda adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Apalagi kalau di perjalanan ku melihat pemandangan unik nan menyegarkan pandangan dan menenteramkan hati. Maka pasti aku akan segera mensenyuminya. Lalu, memetik hikmah dan inspirasi sebisanya. Dan kali ini, aku ingin mengabadikan tentang perjalanan pagi hari tadi.

Sebetulnya pemandangan ini sudah ku saksikan beberapa kali. Baik ketika aku melewati jalur yang sama namun di hari berbeda. Atau saat melewati halaman depan kediaman beliau, tepatnya di sebuah gang. Dan bagiku, pemandangan ini sangat unik, menarik, sekaligus menjadi inspirasi pagi, setiap kali aku melangkah di hadapan beliau. Lalu, siapakah beliau?

Untuk mengukir nama-nama beliau di dalam diari, aku belum bisa. Karena memang belum menanyakan atau mewawancarai. Namun dapat ku jelaskan yach, melalui sebuah gambar atau rerangkai kalimat, semoga dapat mewakili informasi tentang beliau. Pengen tahu? Atau mau tahu aja?😀 Marii ikuti kisah kami selanjutnya. Yuuuks?

Beliau adalah sepasang kekasih yang menurutku so sweet abies. Terlihat sangat akur dan serasi, saling menjaga dan melindungi. Walaupun saat kita pandangi, raga beliau sudah terlihat keriput sedangkan usia sudah mulai lanjut. Namun siapa bisa menerka tentang eratnya kasih sayang dan cinta antara beliau berdua? Semoga, semoga kita dapat mengaca dari beliau berdua, tentang menata mesra hingga saat sudah lanjut usia. Tentang menjaga bahagia walaupun mungkin tidak akan lama lagi, kita akan berpisah dengan dunia. Tentu saja tidak mudah melakukannya, kalau saja benih-benih cinta ini tidak kita upaya agar senantiasa subur menyejukkan hati. Ah, aku pun ingin menjadi sebagaimana beliau, kita mau juga yhaa..

Ketika perlahan mentari pagi tersenyum menghiasi alam di pagi hari, kita berkeliling bersama. Satu jemari dengan lainnya saling bergenggaman. Seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling, kita pun saling bertukar senyuman. Kemudian menebarkannya dengan ringan pada sesiapapun yang kita temui di perjalanan. Lalu, saat mulai terasa penat kaki-kaki yang melangkah, bolehlah kita rehat sejenak di atas sebongkah batu dan duduk manis saling bersandar di atasnya. Atau duduk selonjor dan menghampar di bawah sepohon rindang, seraya menyapa rerumputan, dan membuka tangan lebih lebar, untuk merasakan semilir angin pagi nan sejuk. Kemudian, kita saling bertukar kisah, bercerita tentang masa-masa indah yang kita jalani sebelum bertemuan. Aih! Pasti menyenangkan.

Di ujung penantian kita, teman… yakinlah ada pertemuan.
Di ujung pertemuan kita, teman… ada perpisahan, namun percayalah ada kebersamaan yang indah setelahnya. Maka, pegang erat indahnya kebersamaan hanya dalam ingatan dan kenangan. Apabila ternyata kita tidak akan bersama selamanya. Supaya kita semakin semangat dan bertambah antusias dalam menapak langkah-langkah ini, saat ternyata penantian masih menjadi teman.

Eits! Ingat, ada pertemuan setelahnya. Maka bersiaplah, bersiagalah di setiap persimpangan yang kita temui saat melangkah dalam penantian ini. Gemarlah memetik pesan dan kesan saat kita perjumpa dengan pemandangan unik dalam perjalanan. Karena mungkin saja pemandangan tersebut adalah untuk pertama dan terakhir kalinya? Bisa jadi. Lalu, setelah ia kita tinggalkan, maka tidak akan kembali lagi. Meibi.

Hari ini yang kita jalani, adalah pertemuan. Maka silakan menjadikannya sebagai hari terbaik yang pernah kita temui. Karena beberapa saat lagi ia akan bernama hari kemarin, lalu kita pun berpisah dengannya. Selanjutnya hanya akan menjadi memori. Sedangkan hari esok adalah hari yang belum tentu akan kita temui. Dan akan menjadi hari seperti apakah ia yang kita ingini? Apakah ia akan menjadi hari yang biasa-biasa saja atau penuh sinar bak mentari? Didalamnya, semoga kita yang menerangi. Maka, turut berkontribusi untuk menyambutnya dengan senyuman sejak hari ini, adalah pilihan hati.

Hari kemarin yang kita tinggalkan ada kenangan. Keberadaan kita di dalamnya sudah berlalu dan tercipta perpisahan dengannya. Maka, liriklah ia sesekali saja, jangan tenggelam terlalu lama. Cukup jadikan sebagai kaca spion dalam perjalanan selanjutnya. Karena apa yang telah melekat di dalamnya, abadi sudah tidak dapat kita perbaiki. Namun yang menjadi tugas kita hari ini adalah melakukan yang terbaik dengan belajar dari pengalaman hari kemarin.

Hari esok adalah misteri, penuh tanda tanya dan bahkan tidak seorang pun mengetahui apa yang akan terjadi, ia jalani atau yang menemuinya. Maka berbahagialah engkau, apabila esok saat membuka mata pagi hari, engkau masih berkesempatan menyaksikan sinar mentari. Karena tidak semua orang mengalaminya. Bersyukurlah sejak dini, maka engkau menjadi orang yang bersyukur ketika usia sudah nini niniii dan tidak bergigi. Hihiihii. Wallahu a’lam bis shawab, tentang hal ini. Apakah engkau dan aku masih dapat tersenyum berseri walau gigi-gigi seri kita perlahan mengungsi? Aii, membayangkan semua, mengimajinasi, aku tersenyum padamu dan engkaupun melakukan hal yang sama, sepertinya mungkin terjadi. Karena bagiku, engkau adalah mentari di dalam hati, selamanya, sampai nanti. Maka, tersenyumlah teman, berserilah wajahmu selama mentari masih tersenyum untuk bumi. []

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s