"Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci. Maka orang tuanyalah yang akan menjadikannya majusi, nasrani atau hamba Allah mukmin sejati."

***

Anak-anak masih belum tahu apa-apa tentang dunia, sejak ia dilahirkan. Maka yang paling dekat dengannya lah yang akan ia turut dan teladani. Apakah lingkungannya dikelilingi oleh orang tua yang shaleh/shalehah, penyayang dan pengasih, penuh cinta dalam merawatnya? Atau malah sebaliknya? Maka seperti demikianlah anak-anak akan bertumbuh hingga ia sampai pada umur tertentu.

Aku, masih berstatus anak dalam kehidupanku. Anak yang boleh ku ceritai engkau, teman? Anak yang dirawat baik sangat teliti oleh kedua orang tuaku. Dan masih terlintas kini dalam ingatanku tentang perhatian, pengertian, pemahaman dan tulus kasih ayah bunda padaku. Semenjak ku masih bayi, memang sudah tidak teringat semua. Akan tetapi, beberapa kisah masa kecil dan belia, ada membayang di ingatan.

Pada sesi catatan kali ini adalah tentang ayah yang mengayomiku, turut mengasuhku saat balita. Beliau mengajakku duduk bersama. Siang sangat terik ketika itu. Sehingga wajahku yang mudah berkeringat pun basah akhirnya. Termasuk puncak hidungku yang tidak pernah kering oleh titik-titik air. Hai, beliau mengusap keningku, dan mengelap keringat di antara anak-anak rambut di sekitar kening. Menyibakkan poni, sehingga ku rasakan hembusan angin segar di sekitar kepala dan wajahku. Huhuuuy, inilah ingatan terdalamku tentang masa belia nan berharga.

Selanjutnya ada juga, yaitu saat ayah memboncengku dengan sepeda unta menuju ke rumah seorang guru. Saat itu usiaku sudah beranjak remaja. Saat jenjang sekolah menengah pertama ku tempuh dengan prestasi maksimal. Sehingga sekolah memberiku kesempatan untuk ikut lomba matematika di kota. Bersama seorang teman lainnya, Lira namanya. Ahaa. Beliau apakabar yaa?

"Hi Lira, I miss you so much, my cute friend."

Dibonceng ayah dengan sepeda adalah pengalaman remajaku yang berkesan. Karena saat itu adalah setelah Shubuh, pagi kelam dan masih gulita di sekitaran. Beliau menyempatkan waktu mengantarku dengan selamat hingga sampai di rumah sang guru. Untuk selanjutnya kami berangkat bersama. Ehiya, yang aku ingat lagi adalah, sebelum kami berangkat, ibunda menyiapkan sarapan untukku terlebih dahulu. Dengan telur dadar alias omelete nan lezat. Ini yang ku ingat selalu bahwa sebelum bepergian baik pagi, siang ataupun malam, jangan lupa makan dulu yaa. Karena sangat bagus untuk mood dan kondisi raga. Supaya sehat, segar dan semangat senantiasa. Lagi pula, perjalanan yang akan ditempuh jauh adanya. Ini kenanganku yang kedua bersama ayah.

Berikutnya adalah kenangan yang ke tiga. Kenangan ketiga adalah saat aku mulai bertambah usia. Setelah menamatkan pendidikan sekolah menengah kejuruan, dan selanjutnya siap bekerja. Ai! Ingatanku belum sempurna. Scanning dulu, scanning duluuuu. Dan tralalaa, teringatku tentang kebersamaan kami saat shalat berjamaah dalam keluarga. Di ujung shalat kami, ayah sebagai imam pun memimpin doa, diantaranya adalah Rabbanaa hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun waj’alna lilmuttaqiina imaamaa. Aamiin. Maka kapanpun aku mendengar atau membaca doa ini, maka ingatan terhadap ayah pun kembali.

Terima kasih ayah, untuk menjadi pemimpin terbaik dalam keluarga kita. Untuk mengajari, mendidik, memberikan teladan bagi kami. Semoga ayah sehat selalu, semangat, dalam naungan ridha dan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala, selamanya. Bahagia di dunia hingga akhirat, dalam ketenangan hati, jiwa dan kejernihan pikiran sepanjang usia.

Terima kasih ayah, untuk kesan, kenangan berharga bagi kami semua. Sebagai wujud kasih sayang dan cinta ayah, walau tidak semua yang saat ini hadir dalam ingatan. Namun beberapa diantaranya yang paling baik, menjadi pemicu tekad dan inspirasi ku menemukan yang terbaik pun, untuk menjadi ayah bagi anak-anakku kelak. Semoga yang terbaik sesuai pilihan-Nya adalah kelanjutan dari sosok ayah. Beliau yang akan menjadi bagian dari kehidupanku selanjutnya, insya Allah, ku ingin yang akan mendidik anak-anak kami kelak, memperhatikan dan menyayangi keluarga dengan pimpinan sempurna.

Karena sosok ayah dalam keluarga adalah sangat berharga bagi anak-anaknya. Maka kedekatan ayah dengan mereka adalah paling utama. Semenjak belum berusia, masih dalam wujud tak bernama di dalam dirinya, usia sehari dalam rahim ibu, sebulan, dua bulan, sampai sembilan bulan, saat lahir ke dunia dalam kondisi merah, usia batita, balita, belia, remaja hingga dewasa dan selamanya, ayah adalah primadona mereka. Hingga kelak ada sosok laki-laki lain dalam hidupnya. Maka ayah adalah cerminan bagi mereka saat memilih sosok pendamping. Ini adalah kenyataan yang saat ini ku alami pula. Dan aku semakin yakin bahwa ayah ada dalam bayanganku terhadap sosok pemimpin masa depanku yang masih belum ketahuan. Who is he? Allah knows best.😉

Dalam sebuah pertemuan di tempat berbagi ilmu dan pengalaman, aku pun memperoleh pencerahan tentang keluarga. Pembicara ketika itu memberikan ilmu dan pengalaman kepada kami tentang peran ayah dalam keluarga. Beliau menjelaskan bahwa sang ayah adalah sosok yang sangat berperan bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan. Maka didikkan ayah teladan adalah harapan mereka. Karena anak-anak hanya bisanya meniru dari teladan terbaik. Dan di sini, ayah berperan memberikan pendidikan terbaiknya untuk generasi penerus kehidupannya.

#Berbagi pengalaman dan kesan bersama ayah. And you, apakah kesan terbaikmu bersama ayah, teman? Let’s share its yuu’. Sebagai wujud sayang kita pada beliau dan mengingatkan kita untuk mendoakan beliau dalam waktu-waktu terbaik kita. Semoga Allah yang maha baik senantiasa menjaga dan melindungi ayah tercinta, di mana pun beliau berada. Aamiin ya rabbal’alamiin.

"Di balik kesuksesan seorang lelaki ada perempuan terbaik yang memberikan kontribusi."

***

Maka beginilah aku ingin menjadi. Meski di belakang layar, sebagai pengayom keluarga dan anak-anak, namun ku ingin ayah dari anak-anakku adalah seorang sosok yang mengerti. Bahwa kebersamaan kami adalah untuk saling memahami, mengerti, membantu, menyemangati, mendoakan, memuliakan, menyejukkan hati, menenteramkan pikiran, mencerahkan hari, seperti mentari menerangi siang. Sedangkan saat malam, berkelipan bak bintang-bintang di langit jiwa sesiapa saja yang mengenal kami. Ya Allah, pertemukan kami dan kumpulkan kami dalam keluarga Rabbani, sebagai jalan bagi kami dalam membangun rumah tangga bernuansa surga di dunia. Dan di akhirat nanti, surga sesungguhnya adalah tempat kami bereuni dengan para kekasih-Mu. Aamiin ya rabbal’alamiin. []

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s