Adalah persahabatan yang indah dan manis di antara kita, tercipta sembilan belas detik saja. Begitu cepat waktu yang kita butuhkan untuk mencipta persahabatan ini. Sungguh sebentar. Akan tetapi, sesaat setelah ia tercipta sekalipun, maka persahabatan itu ada selamanya. Buat selamanya.

Persahabatan kita, memang bukan tanpa kata, apatah lagi suara. Jangankan bersentuhan raga, persahabatan kita tidak pernah memandang raga. Termasuk untuk saling mengedipkan mata satu sama lain, bukan, bukan dengan cara demikian persahabatan kita tercipta sejak mula. Akan tetapi, adalah sedetak dua detak jantung menjadi pertanda, apakah persahabatan ini layak untuk kita munculkan ke permukaan? Lalu ia menenggelamkan kita di derasnya arus kehidupan bernama perjuangan?

Persahabatan. Persahabatan kita bukan tanpa makna. Meskipun awalnya ia tidak disengaja. Namun ternyata, persahabatan pun menjadi saksi bahwa kita pernah bersama, berjumpa dan meneruskan perjalanan ini bersama.

Engkau memang belum sepenuhnya ku kenal. Akan tetapi, yakinku bahwa engkau sedang mengenalku termasuk aku yang jungkir balik berusaha mengenalmu. Engkau yang terkadang membuatku syahdu, mengharu biru bersama kalbu yang menggugu. Begitupun dengan bahagia yang menyeruak rasa. Engkau membersamaiku mengendalikannya agar tertata. Karena engkau adalah separuh jiwaku yang ada di dunia.

Di sini, di tempat ini kita kembali bersama. Bersapa tanpa suara, bersua tanpa raga. Saling bercerita tentang masa ke masa. Dan saat ini, kita tidak sedang bercanda, namun bergigih lelah menatap langkah. Mengukur arah, menemukan setitik dua titik embun kesejukkan yang akan menyegarkan wajah. Begitu pula dengan sekitaran, semua mendadak longgar, seakan ada ruang kosong kedap suara yanh menaungi kita. Sampai tidak terasa lagi, apalagi terdengar, ada apa di luar sana?

Aku…
Aku yang lelah melemah semakin tak bertenaga, berusaha bangkit untuk melanjutkan langkah. Tertatih, terlelah, terseret arus hingga menepi. Aku merapatkan tubuh ini ke sebuah batu di sisi sungai ini. Aku yang semakin haus, meneguk seteguk airnya. Hingga ku menemukan pertambahan energi dari semula. Selanjutnya, ku angkat lagi tubuh ini dengan sekuat tenaga, seraya berteriak lantang memecah kesunyian alam, "ALLAHU AKBAR!"

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s