Temanku pernah bertanya, apakah aku pernah merasakan sedih atau bahkan menangis? Waaah jangan ditanya. Bahkan hampir setiap hari aku melakukan aktivitas menitikkan bulir bening permata kehidupan di pipi. Lalu bermuara di sajadah, di lembar mukena, bahkan mengering di pangkuan. Hal ini sudah biasa bagiku.

Aku sering menangis. Tidak terhitung lagi jumlahnya. Beginilah keadaanku di dunia nyata. Namun berbeda halnya di sini. Bahkan dapat dihitung berapa kali aku mencoret-coret lembar maya dengan tinta hati yang terluka. Hingga membuat airmata pun menitik semaunya. Lalu wajahpun sendu, haru nan syahdu.

Beberapa orang temanku bilang bahwa aku sering terlihat ceria. Aha? Hmmm ini hanya dari cara pandangmu saja teman. Tergantung dengan bagaimana engkau memandang kondisiku. Dan bersesuaian juga dengan suasana hatimu pada saat yang sama. Ya, tentang cara pandang saja. Karena sesungguhnya aku masih dan akan selalu sama. Aku manusia biasa yang juga mengalami aneka rasa. Seperti suka, duka, tawa canda dan airmata. Termasuk senyuman yang engkau lihat menebar pada wajahku dengan simetris seperti ini. Hihii.😀

Semua terjadi dengan kuasa Allah semata. Dengan izin-Nya jua aku dapat menampilkan wajah berseri di hadapanmu dalam waktu terbaik kita bersama. Maka bersyukur yuu kepada-Nya. Karena tidak mengizinkanku untuk menjuteximyuuu dalam pertemuan kita. Bahkan sampai membuatmu terluka? Wahai apabila ini pernah engkau alami dalam kebersamaan kita. Maka tolong maafkan dan maklumi aku yaaa. Karena aku hanya insan biasa yang punya rasa. Lalu mengekspresikannya segera.

Hari ini, sepagi tadi, aku mungkin membuatmu bertanya, "Mengapa aku begitu dan begini? Ada apa denganku?"

Maka, "Mari ku ceritai engkau tentang diriku. Aku adalah seorang perempuan yang masih penuh dengan jiwa muda. Begitu pula dengan emosi dan suasana hati yang masih belum sepenuhnya terjaga. Sehingga aku perlu membangunkannya lebih sering, agar tak lelap ia dalam mimpi nya. Oleh karena itu, tolong ingatkan saja aku yaa, apabila berlebihan rasa, kata dan sikap terhadapmu. Sehingga membuatmu tidak suka. Ingatkan aku kapan saja, namun dengan cara dan tatakrama."

Apabila pada suatu hari engkau temukan aku dalam kondisi cerah ceria dalam bahagia, ingatkan juga untuk mensederhanakannya dengan senyuman.

Apabila pada masa datang engkau melihat gurat-gurat kesedihan pada wajahku, maka ingatkan juga aku untuk mensederhanakannya dengan senyuman.

Akan tetapi saat engkau tidak dapat bertemu langsung denganku. Sedangkan engkau mendapati ku dalam keadaan seperti dua paragraf di atas, maka colek aku dengan senyumanmu yang tertata rapi melalui susunan kata. Aku suka. Suka gayamu bercerita panjang lebar tentang duniamu di sana. Lalu aku pun tersenyum seraya membayangkan tentang masa depan. Di persimpangan masa depan yang menjadi jalan kita bersua, lalu mengambil pilihan untuk meneruskan langkah-langkah kita bersama. Yha, tentu indah, bukan?

Untuk dapat sampai di stasiun masa depan, tidak perlu waktu terlalu lama. Namun kita dapat menciptakannya sekarang, sebagai bagian dari ikhtiar untuk hasil terbaik.

Aku tersenyum saat ini, di sini, untuk bersyukur. Karena aku percaya pada kebaikan demi kebaikan di ujung perjalanan ini. Perjalanan dalam rangka merangkai senyuman untuk mensenyumkan semesta. Mohon doanya agar istiqamah, yaa. Dan terima kasih atas kebaikannya, yes… []
🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s