Bersamamu yang terkadang pernah pergi, ku memintal benang-benang rindu. Lalu ku gulung sedemikian rupa, agar ia tak semaunya pergi tanpa ku tahu. Sebab rindu itu berharga, ia mahal tiada terkira. Dan kemudian ku simpan rindu-rindu itu di ruangmu yang terkadang berdebu. Uh! Lalu ku sentuh lagi dan lagi, mengelapnya hati-hati, seraya ku senyumi secantik ku mampu. Agar engkau wahai hatiku, kembali bening seperti dulu. Dulu, jauh sebelum ku mengenal apa itu rindu.

Hati ku yang penuh dengan benang-benang rindu ini, tentu ingin ku jaga selalu. Ku rawat agar tak mudah berdebu. Ku pelihara semampuku. Sehingga rindu-rindu itu berubah menjadi kelopak bunga senyuman pada suatu waktu tertentu. Kapankah itu? Ah. Aku pun tak tahu. Kecuali hanya menepikannya di lembaran waktu. Untuk mu yang ku rindu. Memang tidak selalu dapat ku sapa dirimu. Meskipun dengan sekata, "Hallo atau Haii…" sekalipun. Memang. Memang aku tak mudah mengurai rindu padamu. Karena inilah aku. Aku yang hanya mampu menatanya lagi dan lagi, di banyak waktuku. Entah kapan akan ku berai seluruhnya, aku pun tak tahu.

Sekeping hatiku yang terkadang berdebu, menyimpan benang-benang rindu. Rindu untukmu, untuk-Nya, untuk mereka di sana. Ai! Sungguh ku tak tahu bagaimana cara mengurainya nanti. Kelak ketika akhirnya kita pun bertemu. Rindu yang ku jaga selalu di dalam hati yang kadang berdebu. Semoga ia dapat bening kembali, meski banyak rindu yang memenuhinya.

Ruang hatimu apakah ada rindu untukku pun?
Ruang hatiku ada banyak rindu untukmu.

Kalau engkau mau tahu berapa banyaknya, aku akan segera memberitahumu. Walau tak mampu terhitung, akan tetapi masih dapat ku deteksi. Rindu lama, rindu saat ini, apalagi rindu di hari nanti. Ketika kita pun akhirnya berjarak raga tak lagi sedepa. Huwwaaa… Aku harus kuat. Aku teguh-teguhkan ikatan benang rindu yang sudah ada di hati ini. Agar aku tak mudah jatuh, saat akhirnya rindu itu terulur keluar dari ruang hati. Supaya ku semakin kuat bersamanya. Bersama benang-benang rinduku padamu. Yuppy. Karena pasti ada hikmahnya, bukan? Meski memelihara segepok rindu di hati.

Hai kamu. Ya, engkau yang ku rindu. Engkau yang sering kali hadir dalam ingatanku. Engkau yang membuatku pun mengimpikanmu dalam lelap tidurku. Apakah karena engkau pun merindukanku? Hai…

Sungguh tak asyik merindu, bila saja akhirnya kita tahu bahwa ternyata kerinduan kita hanya sepihak. Namun begitu teruslah jaga ia selalu. Supaya menjadi penyemangatmu untuk terus maju, melangkah dan kemudian menggapai mimpi-mimpimu. Hingga akhirnya sesiapa yang engkau rindu pun akhirnya tahu. Betapa sangat berartinya ia bagimu. Maka, tidak ada yang sia-sia, bukan? Walau hanya menjaga rindu untuk mereka yang tidak merinduimu.

Namun ingat…

Engkau boleh berprasangka bahwa rindumu hanya sepihak. Padahal sesungguhnya ia pun merinduimu. Hanya engkau saja yang tidak tahu dan engkau tidak diberitahu. Karena ia ingin menguji sebanyak apakah stok rindumu itu?

Hu um.

Tentang rindu yang ada di hati, hanya Allah Yang Maha Tahu. Oleh karena itu, berbaik sangkalah selalu. Agar rindumu berbunga senyuman di dalam hati nan bening. Karena engkau menatanya selalu, mengelap, merawat, membersihkan setiap waktu. Dengan penuh keyakinan, engkau berjibaku dengan waktu dalam mempercantiknya. []

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s