Senyum. Siapakah yang tidak suka tersenyum? Siapa pula yang tidak menyenangi wajah penuh senyuman. Tentu jawabannya tidak ada, bukan?

Untuk tersenyum di dunia ini dan menerima senyuman darinya, aku suka. Sangaaatt suka. Sehingga ku teruskan melangkah untuk dapat bertemu dengan banyak wajah penuh senyuman. Pun, terkadang ku beraikan selembar dua lembar senyuman melalui wajah tirusku.

Lalu, mengapa aku tersenyum? Berikut beberapa landasan dan alasan senyuman segera menebar pada wajahku yang kelihatan olehmu, teman :

1. Mengingat Allah Yang Maha Baik, walau sering juga terharu dengan keadaan ini
2. Bersyukur karena akhirnya kita berjumpa di dunia, semoga persahabatan kita langgeng hingga di surga yaa
3. Sedekah termudah
4. Menambah sahabat, teman dan saudara
5. Karena aku suka disenyumi balik
6. Kalau ada yang lucu, menarik dan menyenangkan
7. Mengingat kece-ro-bohanku yang memalukan
8. Untuk mensenyumkanmu, teman
9. Agar bahagia
10. Karena aku ingin berubah menjadi … diriku yang penuh syukur
11. Karena aku belajar dari mentari yang tersenyum cerah
12. Kalau menerima kejutan, hadiah dan salam persaudaraan
13. Berhasil melakukan hal-hal baru, mengunjungi tempat-tempat yang unik dan menarik
14. Merasa beruntung
15. Kalau lagi latihan olah wajah
16. Karena sedang menelepon dengan sesiapapun di seberang sana
17. Menyadari keunikkan insan ciptaan-Nya yang beraneka rupa segalanya
18. Mengingatmu, mengenangmu, siapapun engkau di manapun berada
19. Untuk hari esok yang lebih cerah dan berbinar
20. Agar berwajah cerah dan segar
21. Berjumpa dengan anak-anak yang lucu
22. Senang aja kalau ada yang ku senyumi
23. Senang aja kalau senyuman mu pun ada untukku
24. Karena aku sedang berlatih tersenyum untuk membiasakan diri tersenyum. Bukankah bisa karena biasa?
25. Supaya engkau bahagia dan senang di dekatku ataupun saat jauh dariku.
26. Untukmu
27. Untukku
28. Untuk kita.

***

Dulu, aku adalah seorang yang sangat pendiam, berwajah tenang dan sering dipanggil teman demikian. Karena sangat jarangnya aku berekspresi. Itu dulu, sebelum aku mengenalmu teman. Hingga tibalah masanya aku mengenalmu. Semua berubah seratus delapan puluh derajat dan aku pun mengakuinya. Perubahan yang membuatku tersenyum lagi dan lagi, meski terkadang aku tak mengerti, apa makna semua ini?
Saat aku teringat keadaan masa kecilku dulu, maka aku tersenyum saat ini. Aku tersenyum lagi dan lagi, membayangkan hari-hari yang lebih cerah berbinar, bersamamu, teman. Agar kenangan masa kecil itu tidak lagi hadir mengiringi langkah-langkahku. Karena masa kecilku adalah masa-masa yang sangat sunyi, penuh sepi. Hari-hari yang saat ku ingati, maka aku pun tak percaya. Selain berusaha menjadikannya sebagai pelecut semangat untuk bergerak lagi, melangkah dan berjuang. Yupz!

Aku ingin melihat-lihat negeri baru di ujung sana. Sehingga ku semakin murah tersenyum dan bersyukur untuk menjalani kehidupan ini. Kehidupan tempat berusaha, berdoa dan tawakkal. Demi mewujudkan cita yang ada semenjak lama.

Hari ke hari di masa kecil, ku jalani dengan sabar, meski tanpa ekspresi. Hiiii.😀 Namun semua kini menjadi memori nan abadi.

Sering ku yakin, roda kehidupan berputar, selalu. Hingga kini, senyuman demi senyuman mudah berseri di relung hati sepanjang lapisan hari. Senyum karena aku bersyukur hari ini. Alhamdulillah. Senyuman yang ku coba rangkai dari hari ke hari. Karena dari hari ke hari tersebut, ku bersama dan bersapa dengan hati-hati yang tersenyum. Sehingga aku pun senyumi semua.

Walaupun hari ini ku tersenyum, ku ingin menatanya selalu agar senyuman ini hanya semestinya. Sehingga tidak perlu berlebihan, hanya bersyukur. Terlebih karena bertemu denganmu, teman. Teman yang baik. Menemaniku dalam syukur menjalani hari.

Alhamdulillah, setelah beberapa tahun kemudian, masa kecilku pun berlalu. Masa yang tidak akan pernah kembali lagi. Masa yang akhirnya menjadi kenangan. Kenangan indah nan menenteramkan. Masa yang penuh dengan impian, cita pun harapan. Ya, karena pada masa kecil dulu aku pernah ingin menjadi insinyur pertanian. Haik! Hingga seiring waktu, ia hanya tinggal kenangan juga. Karena sudah tidak terjamah lagi olehku. Walau masih ada kemungkinan untuk menjadi kenyataan, itupun hanya tinggal kenangan. Sedangkan saat ini, aku sedang berupaya menjadinyatakan impian lainnya yaitu merangkai senyuman sepanjang hari, dalam waktu dan kesempatan terbaik, bersamamu, teman. Teman seperjalanan, kawan dalam perjuangan.

Tidak dapat kita pungkiri, suasana hati kita selalu berubah, berbolak-balik sesuai perintah-Nya. Maka sapalah DIA seringkali, untuk mensenyumkan hati kita lagi. Setelah dalam beberapa jenak mungkin, ia terdampar di pantai kehidupan. Namun jangan biarkan ia jatuh membersamai buih-buih di pinggir pantai bahagia, yaa. Supaya ia sehat selalu dan terkendali dalam bahagia pun sebaliknya, aamiin.

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s