๐Ÿ˜ ๐Ÿ˜„ ๐Ÿ’ Eksis sekejap menjelang tutup hari ini, mari kita berbagi beberapa pesan, yuuks, teman.

Hehe, sekitar tiga puluh satu menit ke depan, aku akan berada di sini. Untuk keperluan apakah? Entahlah. Intinya, aku hanya ingin meluangkan waktu untuk mengabadikan tentang hari ini. Ya, hari ini.

Hari ini, tepatnya hampir seharian, seakan ada yang kurang. Sepertinya, ada yang aneh aja. Haha. Baiklah, untuk tidak berlama-lama dalam keanehan, ku ingin merangkai senyuman saja. Senyuman yang ingin ku abadikan dalam catatan perjalanan hari ini.

Tentang keanehan yang aku alami, ia berlangsung begitu saja. Tidak di rencana, tanpa pernah di perkirakan. Padahal, sedjak kemarin-kemarin hingga pagi hari tadi, semua berlangsung baik-baik saja. Akan tetapi, seakan ada yang kurang aja. Mungkinkah karena aku belum menitipkan senyuman hari ini? Hmmโ€ฆ

Sejenak ku berpikir, memutar ulang waktu hingga beberapa jam ke belakang. Memang ku sadari bahwa senyuman jarang muncul dariku. Apakah karena rutinitas yang ku lakukan tidak begitu membuatku greget? Atau karena aktivitas tidak ada tantangannya sama sekali? Ku pikir memang begitu. Buktinya, semua seakan hampa sore ini. Karena seakan damai, tenang, tiada ekspresi sama sekali. Hal ini terlihat dari raut wajahku yang datar-datar saja. Oaaaaaaam.

Berpesan tentang keadaan yang ku alami hari ini, ingin ku selipkan pula ia di sini. Berpesan tentang pengalaman yang ku jalani sepanjang hari ini, ingin ku abadikan ia sebagai kenangan untuk ku lihat lagi nanti. Entah ada makna nya atau tidak, namun ku hanya ingin berbagi. Berbagi tentang apa yang ku alami, ku rasakan, dan menjadi buah pikir bagiku. Yah, berhubung beberapa saat sebelum saat ini, aku terpikirkan tentang keadaan terakhirku.

Hampa itu ada, ku rasa semua lumrah. Bahkan tiada bahagia atau pun sed. Hanya kedamaian berselimutkan ketenangan saja. Huwaaa, begini rupanya yaa, kalau hampa? Ataukah ini hanya sebuah nuansa yang perlu ku petik hikmahnya?

Berulangkali ku mencoba memahami, mencari arti dan kemudian berjuang pula ku temukan makna keadaan seperti ini. Namun aku masih belum dapat menemukan benang merahnya. Walaupun aku sudah sampaikan di sini dalam rangkaian kalimat, sekalipun. Aaah, adakah yang salah dengan diri ini? Ataukah ada yang kurang dengan diriku? Karena ku rasakan seakan tiada ekspresi sama sekali. Berbeda dengan hari-hari yang penuh warna, itu.

Hari ini seakan tanpa warna. Walau ku coba untuk mewarnainya. Namun warna itu tak kunjung tiba. Makanya, karena penasaran yang semakin meninggi, ku berai saja ia di sini. Dengan harapan, sekembali dari sini ku membawa sewarna dua warna untuk menjadi kenangan tentang hari ini. Oke. Baiklah.

Awalnya, ku memperhatikan warna orange di sekitar. Yang terdekat dengan ku, ku lihat terlebih dahulu. Apakah ia dapat menjadi jalan ku tersenyum bersama? Ataukah orange ini hanya akan melekat begitu saja denganku, tanpa pernah mau memberikan nuansa yang berbeda? Termasuk saat aku sedang mengalami h-ampa seperti ini.

Wahai, untuk sebuah cita yang ingin abadi, aku ingin memberikan bukti. Bahwa senyuman itu mesti ada, dalam hari-hari. Walau bagaimanapun caranya, ku upaya segala usaha. Supaya, ada bekal dan oleh-oleh untuk sepuluh tahun ke depan, tentang kenangan hari ini. Hai, mimpi saja bisa hidup sepuluh tahun lagi? Hatiku bertanya.

โ€œDimungkinkan saja, bisik ruang hatiku yang lain. Karena tidak ada yang tidak mungkin.โ€
Walaupun pada akhirnya, ku sangat percaya dengan takdir yang tidak dapat diubah, yaitu tentang ajal dan kematian. Tentang waktunya, deadline kita masing-masing, semua sudah tertulis nyata di Lauhul Mahfuz. So, apakah yang sedang kita upaya untuk menjemputnya? Meski sepuluh tahun lagi, setahun lagi, sehari lagi, atau beberapa saat setelah ini? Wallaahu aโ€™lam bish shawab.

Dalam pikirku berkata, โ€œMeski sejenak lagi masa yang ada untuk ku menjalani kehidupan di dunia, maka ku ingin di detik terakhir kehidupan tersebut, aku dapat mensenyumi segala yang ku tinggalkan. Termasuk beliau-beliau yang ku sayangi, ku ingin tersenyum dengan lega. Makanya, saat ini ku belajar untuk tersenyum, semampu yang ku bisa. Ku upaya lagi dan lagi, menitipkan senyuman seleganya.

Ah, ada apa dengan diriku saat ini? Hingga ia tidak mampu juga berkata-kata seperti biasa? Kecuali secuil kata yang mampu ku tata dengan berupaya itu pun sekuat tenaga. Sedangkan ekspresi pada wajah, wah, ada di manakah?

โ€œHuphup! Jangan mudah putus asa, teman,โ€ teriak bagian diriku yang lain.

โ€œAda apa, ada apa?,โ€ Tanya pikir yang semenjak tadi diam membisu. Ia akhirnya bersuara juga.

โ€œBegini, begini, mari kita take a picture, please,โ€ ajaknya padaku. Lalu, kami pun semua setuju. Untuk selanjutnya, mengabadikan beberapa senyuman ham-bar (meibi, xixixii.) Namun, tidak mengapa, kami hanya sedang berlatih untuk merangkai senyuman, teman. Maka apabila hasilnya kurang optimal, mari kita serahkan kepada pemiliknya yang maha berkuasa membolak-balikkan hati. Karena sesungguhnya, hati adalah sumber senyuman yang terindah.

Haaaaaaii, ini hari sudah terlanjur sore dan waktu terus berjalan maju. Sedangkan aku, bagaimana dengan ku? Akankah senyuman yang hadir masih ham-bar seperti semula? Senyuman yang ku upaya agar ceria? Haaii, aku mulai tidak betah dengan semua ini. Maka, adakah lagi cara untuk melihat indahnya kehidupan ini, wahai jiwa?

Sekeping hatiku berkata, โ€œBahwa hanya dengan jiwa yang tersenyumlah maka kita dapat mensenyumkan dunia. Termasuk membuat wajah kita benar-benar ceria. Ia memesankan begitu semenjak lama. Maka, mari kita coba, sekali lagi dan lagi, untuk tersenyum lebih cerah.โ€

โ€œYap, aaaaa, yaaaa, baaaa, maaaaa, papapapapapapapapapaa,โ€ manyunkan wajah, mangap dan melekkan mata, dan saksikanlah apa yang terjadi di sekitarmu. Apakah wajah akhirnya menebarkan senyuman? Atau ia masih asyik dengan keh-ampaan yang ia bawa semenjak semula?

***

โ€œNanananaaaa, lalalalalaaaaa, tersenyum itu ternyata mudah dan murah, teman. Maka jangan biarkan keadaan yang engkau temui di sekitar menyurutkan senyumanmu yang siap menebar. Namun kondisikanlah hatimu terlebih dahulu, agar engkau dapat memberikan senyuman terbaikmu pada dunia,โ€ begini pesan yang dapat ku rangkai saat ini, tentang senyuman. Semoga lain waktu ada kesempatan lagi untuk berbagi tentang cara untuk memunculkan senyuman terbaik di wajah yaa.

Oiya, berhubung sudah ada sedikit dua dikit gembira di dalam dada, ku akan pamit mundur sejenak, untuk selanjutnya meneruskan perjalanan di sana. Yaa, yaa, mohon doanya teman-temanku yang baik, teman maya dan mungkin nyata. โ€œMungkin saja, bukan?โ€ Untuk mengirimkan doa terbaikmu, doa yang luas, banyak dan lebar. Termasuk senyuman mu yang paling meriah, untukku. Agar, hari-hari penuh senyuman ada dalam kehidupan kita selanjutnya, yaa. Tidak hanya di dunia, namun di hari yang sangat pasti akan kita tempuhi juga.

Tersenyumlah, bukan untuk mensenyumkan dunia, namun untuk mensenyumkan jiwa yang h-ampa, maka engkau akan mensenyumkan dunia tanpa pernah engkau rencana. Karena dunia yang berhiaskan senyuman adalah layak dan sangat indah untuk kita jadikan sebagai sarana untuk merangkai senyuman yang lebih indah lagi ke depannya.

Dari sini, di lembaran maya, ku sedang berupaya untuk mendata keadaan, memberikan perhatian pada sekeping hati yang sudah sangat lama mengalami hampa, agar ia segera menikmati detik waktu yang ia jalani saat ini. Agar, senyuman terindahnya yang dulu pernah ada, kembali menebar dengan megahnya. Ya, ku berharap sekeliling penuh senyuman, tentu saja dengan mendata senyuman yang ada pada diriku terlebih dahulu. Karena untuk membuat dunia tersenyum, hanya ada satu cara, yaitu, tersenyumlah untuknya. Maka dunia akan tersenyum padamu dengan ramainya. Aamiin, aamiin ya Allah.

Baiklah teman, semoga hari-harimu penuh dengan bahagia yang tidak berujung yaa. Walaupun pernah diselingin oleh keh-ampaan, semoga ia sekadar singgah saja, tidak menetap apalagi menjadi penghuni jiwa. Karena jiwa yang tersenyum akan mensenyumkan, oleh karena itu, senyumkanlah ia terlebih dahulu.

๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚

ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ูˆูŽุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ู‚ูู„ููˆุจูู‡ูู…ู’ ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุฃูŽู„ูŽุง ุจูุฐููƒู’ุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุชูŽุทู’ู…ูŽุฆูู†ูู‘ ุงู„ู’ู‚ูู„ููˆุจู โ€... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.โ€ (Q.S Ar-Raโ€™d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s