Untukmu teman, yang pernah ku kenali. Meski memang kita belum pernah berjumpa walau sekali. Ah, tidak mengapa, tenangkan hati. Terus berdoa untuk kebaikanmu sering kali ku lakukan. Meski engkau tak tahu atau tak mau tahu sama sekali. Akan tetapi sekali ku berdoa untukmu, selamanya ia akan terulang lagi dan lagi, setiap kali ingatan ini kembali muncul untukmu.

Wahai teman. Pernah sekali ku sapa engkau dalam mimpi. Namun engkau berulang kali menemuiku dalam ingatan. Haiii, mengapa engkau tega sekali melakukan demikian kepadaku? Padahal tahukah engkau bahwa sesungguhnya, banyak sekali yang mesti ku ingat dan ku selipkan di pikiran ini. Ya, tidak hanya engkau saja. Bener ngga? Bener sekali, bukan?

Ha? Engkau menertawaiku tentang hal ini? Cukup. Cukup. Cukup sekali engkau menertawaiku. Selanjutnya biar aku yang menertawai diriku ini. Karena aku pun menyadari bahwa terkadang ada-ada saja yang membuatku tidak mengerti tentang semua ini.

Wahai teman, senang sekali rasanya dapat menyapamu lagi saat ini. Walaupun sapa tanpa suara. Meski hanya melalui gerak jemari menyusun kata. Namun semua ini sudah cukup membuatku merasa bahwa engkau hadir di hadapanku untuk menyahut sapaku. Meski memang saat membacanya engkau tergeli, tercubit, atau termehek-mehek bahkan sampai tak tahan lagi untuk segera tersenyum. Aih, sekalipun engkau melakukan semua itu, namun bagiku engkau adalah yang terbaik. Karena baru sekali seumur hidupku bertemu dengan sifat dan karakter sebagaimana yang engkau miliki. Engkau yang unik tidak tertandingi, penuh canda dan juga cerita. Sehingga sesekali aku tergores oleh hikmah yang engkau selipkan di antara nasihat yang engkau rangkai.

Hai, teman. Bagaimana kabarmu kini? Apakah engkau dalam kondisi terbaik seperti saat kita berjumpa pertama kali?

Hai teman, tahukah engkau bahwa aku sungguh terkesan denganmu yang berkualitas. Engkau yang humoris, sungguh mudah memunculkan inti cerita dan kemudian mengembangkannya membentuk fiksi. Iiich, terima kasih yaah. Bersamu aku belajar banyak hal. Banyaak sekali. Doakan aku bisa mengikuti jejak-jejakmu, yaa. Pengukir prasasti pengungkit nyali. Dengan demikian ada yang terbangkit semangat saat mengenalku. Seperti aku mengenalmu. Iic, co cweet ga tuch?

😘💐😘 So sweet bangeet khannn😀

Sekali di udara, tetap mengudara. Jangan pernah biarkan cintamu jatuh. Namun terbangkan ia biar semakin jauh dan meninggi. Agar engkau tahu betapa berharganya ia dan betapa beruntungnya engkau yang mampu mencintai hingga setinggi itu. Ups!

Wahai teman, terima kasih untuk membiarkanku mencintaimu. Hingga ku tahu cinta tertinggi. Cinta yang tidak akan pernah membuatku hina, namun memuliakan. Cinta yang terus mengajakku bangkit sekali lagi untuk membuktikan kecintaanku. Cinta yang tidak mengecewakan namun melegakan. Cinta yang ku hargai sebagai sebentuk balasan untuk selamanya. Balasan atas kesabaran dalam mencintai dan mensyukuri adanya cinta. Cinta kepada-Nya yang sangat pencemburu.

Wahai teman, engkau yang kelak akan menjadi bagian dari hariku. Engkau yang akan ku cintai.

Hiiii, engkau yang belum pernah ku cintai, meibi. Maka tolong pahami aku dan maklumi aku yang mempunyai cinta lain sebelum mencintaimu. Maaf, maafkan aku yang terlanjur menitipkan cinta pada selainmu. Karena engkau datang terlambat, siiiech. Hehee. Becanda doang. Jangan manyun gito doonkgg booo’.

Aku paham mengapa engkau baru datang, karena engkau pun sibuk berbenah, bukannnnnn? Saat ini masih? Wah! Wah! Engkau luar biasa. Aku suka. Aku suka. Begitu pun aku di sini. Sibuk sekali diri ini. Menyibukkan diri sering kali. Dan sesekali melirikmu dalam mimpi. Namun tenang, aku suka sekali mengintipmu dalam imajinasi, untuk ku kenali siapa engkau. Seorang berbudi dari negeri peri. Xixii.😀

Karena imajinasiku sungguh sangat tinggi terhadapmu, teman. Sangat tinggi sekali. Hingga mentari yang bersinar di angkasa sana adalah pengibaratanku tentang engkau. Betul, mentari yang menginspirasi. Engkau pun sama, ku harapkan begitu.

Mentari yang menyinari siang hari. Seperti engkau yang mencerahkan ruang hati.
Mentari yang hadir menghangatkan bumi. Semoga engkau adalah pribadi penuh kehangatan nan menyejukkan hati.
Mentari yang tersenyum indah sekali. Sungguh, sungguh senyumanmu dalam hari-hari yang menghiasi istana kecil kita nanti.
Mentari yang gemar berbagi sinar. Engkau pun ku harapkan seperti demikian, teman.
Mentari yang mampu melelehkan es dan salju hingga mencair. Hei, engkau yang dapat melelehkan hatiku pun ku nanti, walau seringkali menggom-bal untuk menyenangkan hatiku nanti, itu sudah cukup bagiku. Namun ingat, sesuatu yang dilakukan dengan hati akan sampai di hati. Dan tentu engkau mengerti tentang hal ini.
Mentari yang…. bla bla blaa, banyak lagi yang positif tentang ia. Maka hal-hal positif dari mu semoga dapat melengkapi sisi negatif diriku ini. Begitu aku mengimajinasi. Karena adanya kita adalah untuk saling melengkapi. Hingga bahagia itu tak lagi impian, kita. Akan tetapi ia sangat dekat, mudah, murah, barakah, nan indah.

Wahai teman, saat ini hingga nanti di hari-hari tak bertepi, mari kita saling mengingati. Saling berbagi dan memberi. Saling menerima dan meminta. Untuk kesuksesan abadi di hari akhir, ketenangan di dunia yang penuh keriuhan ini.

Wahai engkau temanku nanti, tidak pernah sekali sekalinya ku akan memungkiri, bahwa hadirmu selalu ku nanti.

Sampai berjumpa teman, di tempat tertinggi yang siap kita kunjungi. Ia sedang menanti. Ehem. Tak tahu lagi mau bilang apa, selain berdoa sekali lagi, "Ya Allah, bimbing langkahnya dalam taat, ketaatan yang membuatnya mencintai-Mu lebih dari apapun. Hingga Engkau pun mencintainya. Kecintaan hingga Engkau mempertemukan kami saat kami sudah benar-benar layak dan pantas untuk saling melengkapi. Aamiin ya rabbal’alamiin." []

###deg-degan juga menulis catatan ini, sambil sesekali senyumi diri lalu menanyai, "Aku sudahkah seperti yang aku impi? *)introspeksi diri sekali lagi dan lagi😀 Peace, MasBro! ###

🙂🙂🙂

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ”... (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d [13] : 28)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s